![]() |
| Kunto Aji - Pilu Membiru Experience
Full video here
Official audio here
Pilu Membiru mungkin jadi salah satu lagu paling menyentuh yang pernah saya dengar. Awalnya memang agak sangsi tiap ada lagu yang berembel-embel "menyentuh" atau "menyayat hati" dan label senada lainnya. Tapi beda untuk lagu-lagu di album Mantra Mantra, khususnya lagu ini. Lagunya menyentuh nggak sih? Menyentuh banget! Menyayat hati? Bukan lagiii... Tapi waktu dengar lagu ini dan begitu baca dan nonton wawancara Mas Kunto Aji di awal rilisnya album ini, makin yakin kalau memang lagu ini sangat-sangat personal. Efeknya? Banyak pendengar yang menginterpretasikan makna lagu ini dengan pengalaman mereka. Ada yang mengingatkan mereka dengan orang tua, keluarga, belahan jiwa, dan orang-orang yang tercinta. Semua benar, semua menyentuh, dan semua bisa menerjemahkan itu sesuai yang mereka mau. Saya pun demikian. Membaca banyak cerita para pendengar Mantra Mantra, banyak dari mereka yang merasa bahwa lagu-lagu ini merupakan terapi untuk mengurai luka lama atau masalah yang masih terpendam. Saya juga merasakan hal yang sama. Khusus di lagu Pilu Membiru ini...banyak memori masa lalu yang muncul dan mengubah suasana hati saya. Harus dihadapi, karena tidak bisa kita selamanya membiarkan kekusutan itu ada di dalam pikiran kita. Tulisan ini mungkin bisa jadi awal upaya saya mengurai semuanya. "Akhirnya Aku lihat lagi/Jemarimu yang bergerak bebas/Seiring tawamu" To be honest, the very first time I heard this song, I cried for almost an hour. My mind went straight to my childhood and I recalled all the things that happened at that time. The hardest time of my life was probably during my fourth and fifth year at elementary school. I was fat and short. Face covered with acne, thanks to puberty. I was neither athletic nor good in math and science. Definitely not the smartest kid in the room. I was lucky that I had loyal friends who got my back. We are still keeping in touch with each other. Never a dull moment with them. But, my surroundings were not all nice and kind. There were some kids who physically and verbally harassed me. They mocked my appearance: my weight, my face, and my height. They told me I was ugly. When I walked past them, they would pretend that I caused an earthquake while laughing at me. They said an elephant was taking too much space in classroom. I was the elephant. One moment that I could not forget for the rest of my life is when they were suffocating me until my face turned red and I ran out of breath. They pointed their fingers at me, because I looked funny. No one helped me. Not even the girls. That was the moment when I felt no one loved me. I got nowhere to run. I had no one to talk to about my problems. I felt I was alone...even to this day. I have been feeling insecure about my appearance. Everything got worse as I continued my study to junior high school. Everyone was actualizing themselves. Obviously, the athletic kids were idolized by many. The geniuses were having a good time at science and math competitions. Me? Junior high was the beginning of me...as a wallflower. My insecurities started to escalate. I could not stop comparing myself to everyone. I compared my height with the best basketball player. I compared my face with the most good looking guy at my class. I compared my skills with the all-rounder kids at my school. I lost...miserably. I lost my confidence and my self-worth. I blamed everyone but me. I was victimizing myself for all the things that had happened. The story is just a tip of an iceberg. I am just too scared to recall all of them. "Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu" Now, I feel bad for letting my younger self down. I was too selfish and blinded by insecurities and hate. I do have lots of things to say to my younger self. I can't seem to say it out loud without crying and feeling sorry. But, I will give it a shot: To my younger self, I know it is too late for me to say this. But I want to apologize for my behaviors. I am sorry that I was too scared to open up. I am sorry that you had to go through hard times and held everything by yourself without no one to talk to. I admit I was a coward. I am sorry for blaming you. I am sorry for saying that you made me the way I am now. I have the choice to change. It is always been in my hands. But I refused. I know how hard it was for you to stand up by yourself. To my younger self, I want to thank you for being so brave and so strong When everyone was making fun of you, I know you tried so hard to not cry. When you wanted to end the misery once and for all, I know you fought really hard to stay alive. When your tears started to come out, I know how hard it was for you to put a big and bright smile and pretending that everything was okay. Thank you. Thank you for being so strong for me, your older self. "Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan. Tak ada yang selembut sikapmu, hanya lautan. Tak tergantikan... Walau kita tak lagi saling menyapa." From now on, I will try to remember you as a carefree kid who smiles a lot. A kid who has a big curiosity about life. A kid who believes that the world is a good place. No bullies, no insecurities. I LOVE YOU! I recommend everyone to listen to this song. Mari resapi liriknya, temukan semua yang mengganjal dan menahan kita untuk maju. Mari hadapi dan urai semua benang kusut di benak kita. Secara perlahan tapi pasti. Seperti kata Mas Kunto Aji, kalau ingin menangis, menangislah. Karena menangis itu bentuk pertahanan alami manusia. Cheers. |
Buku yang menjadi national best-seller ini membahas tentang pandangan filsafat stoa (stoicism) dan kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Memberikan kiat dan cara pengelolaan pikiran sehingga kita bisa lebih santai dan tidak tertekan dalam menghadapi berbagai tindakan atau kejadian yang bisa mematahkan semangat. Dengan kata lain, buku ini merupakan "panduan" agar kita bisa tenang sejak dalam pikiran.
Pendekatan saya tentang filsafat pertama kali itu ketika semester pertama perkuliahan dalam mata kuliah Filsafat Ilmu yang *uhuk* saya nggak paham sama sekali. Jiper memang kalau mendengar buku atau pembahasan tentang filsafat. Namun untungnya Filosofi Teras ini dibuat dengan bahasa yang sangat santuy dan jauh dari kesan "berat banget" seperti stereotip di luaran sana.
Tentang Stoisisme
Tentang Stoisisme
Sejak bab-bab awal, kita diajak berkenalan dengan sejarah Filsafat Stoa ini. Bagaimana musibah kapal karam yang membuat, Zeno, seseorang yang tadinya tajir melintir menjadi jatuh miskin seketika. One thing led to another, hingga akhirnya muncullah filsafat yang umurnya awet selama lebih dari dua milenium.
"Some things are not up to us, some things are not up to us." - Epictetus (Enchiridion) hal. 46
Mari masuk ke intisari dari Filosofi Teras itu sendiri. Kita akan menemukan fakta bahwa sebenarnya, rasa khawatir, cemas, takut, dan marah itu datang bukan semata-mata dari faktor eksternal. Namun, kenyataannya justru terbalik. Bahwa pikiran kitalah yang jadi dalang di balik itu semua. Opini-opini kita yang--namanya juga opini-- umumnya tidak berdasar dan cenderung membuat semua terkesan buruk itulah akar dari semua perasaan yang mengenakan tadi. Karena, salah satu poin yang sering diulang-ulang dalam buku ini adalah: Semua kejadian yang terjadi di luar kontrol kita itu netral. Opini kitalah yang menyebabkan sebuah kejadian menjadi terasa positif atau negatif. Kurang lebih seperti itu.
Ngomong-ngomong soal kontrol dan kendali, ada sebuah konsep bernama "dikotomi kendali" yang dapat digunakan untuk berlatih mengelola pikiran dan emosi kita. Singkatnya, kita mengategorikan sesuatu menjadi dua: apakah itu berada di bawah kendali kita (pemikiran, respon diri, besarnya usaha, dll); atau apakah itu berada di luar kendali kita (penilaian orang, ucapan orang lain, kesehatan, kapan kita mati, dll). Kalau itu berada di luar kendali kita, maka, ya udah. Itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Dan yang bisa dikendalikan adalah respon dan opini atau judgement kita terhadap masalah itu. Lengkapnya mungkin bisa dibaca di buku Filosofi Teras (beli yang asli, ya, gaes).
Pada bab-bab berikutnya dalam buku ini masih berisi tentang bahasan mengenai cara pengelolaan pikiran dengan berbagai metode. Tidak perlu dijelaskan di sini karena penjabaran di bukunya sudah cukup sederhana dan mudah dimengerti.
Latihan Menderita
Dari sekian bagian penjelasan, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Bagian Latihan Menderita!
Kenapa menarik? Karena dibuku dijelaskan kalau kita memang, literally, latihan untuk menderita. Belajar hidup di bawah standar nyaman dan tidak bermewah-mewahan. Tujuannya memang mulia, untuk mengajarkan kita bahwa kita masih bisa hidup dan berfungsi dengan atau tanpa standar kemewahan yang ada. Kalau dipikir-pikir, rasa puas terhadap kepemilikan barang tentu tidak akan ada habisnya. Kita akan selalu menginginkan barang yang lebih baru walaupun yang kita punya masih berfungsi. Standar kemewahan yang ada pun kadang malah membuat kita, sadar atau tidak, malah jadi materialistis.
Penulis juga sudah memberi tahu kalau kita mungkin akan menemukan ajaran Filsafat Stoa ini selaras dengan ajaran agama atau gaya hidup lain. Nah, kalau berdasarkan pemahaman saya, Latihan Menderita ini esensinya hampir mirip dengan gaya hidup minimalisme. Hanya berbeda di pendekatan dan tujuannya.
In my sotoy opinion, Latihan Menderita ini dilakukan untuk menguji atau membuktikan kemungkinan bertahan hidup tanpa barang mewah atau standar tinggi, minimalisme justru dari awal menganjurkan kita hidup sederhana tanpa banyak barang, karena memang rata-rata koleksi kita tidak dibutuhkan dan seringnya tidak membawa kebahagiaan.
Tapi pandangan stoa dan minimalisme menurut saya sama, kok. Bahwa sebenarnya kita tidak perlu banyak barang atau bermewah-mewah untuk tetap bisa hidup dengan bahagia. Karena rasa bahagia itu tidak datang dari barang koleksi atau respon orang terhadap gaya hidup kita. Dikembalikan ke dikotomi kendali, penilaian orang itu ada di luar kendali kita, sedangkan rasa bahagia itu lebih ke a state of mind alias kondisi pikiran kita.
Saya memang belum pernah menemukan literatur tentang minimalisme, seperti literatur tentang ilmu filsafat yang sudah ada dari sebelum Masehi. Tapi, dari berbagai sumber modern yang pernah saya baca dan lihat (rata-rata video YouTube, film dokumenter, atau pun blog serta artikel), para pelaku minimalisme akan menganjurkan kita untuk kembali ke diri kita dan kembali mendengarkan diri sendiri. Apakah kita butuh barang ini? Ataukah saya hanya ingin membuat orang lain terkagum-kagum lalu kita merasa superior? Lebay ya? Tapi dari buku Goodbye, Things-nya Fumio Sasaki, saya baru tahu bahwa memang ada orang yang seperti itu.
Mungkin kalau tujuan kedua tercapai, kita akan bahagia. Tapi coba kalau sebaliknya? Karena respon orang itu bukan di bawah kontrol kita, begitu orang tidak memberikan respon yang kita inginkan, lalu kita pasti akan baper dan mutung. Lagi-lagi karena berharap pada sesuatu yang tidak di bawah kendali kita.
Sepanjang membaca buku ini, beberapa kali saya teringat dengan ucapan dari orang-orang tua di sekitar. Kadang, mereka sering bilang, "Kita kan sudah usaha, hasilnya gimana mah itu terserah Allah SWT." Nggak tahu apa mereka pernah baca buku-buku Filsafat Stoa (kayaknya sih nggak ya), tapi memang filsafat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal baca tentang ilmu filsafat baru dari buku ini.
Syukurnya lagi, layout dari buku ini juga sangat membantu proses membaca. Tidak semua isinya huruf, tapi diselingi gambar-gambar dan halaman kutipan. Cukup meringankan mata karena pasti kalau layout-nya seperti buku non-fiksi lain, saya pasti males bacanya. Walaupun, hampir yakin penyebab terbesarnya adalah opini saya tentang filsafat seperti yang saya sampaikan di atas.
Untuk ukuran buku "pengatar filsafat stoa" saya rasa sudah banyak hal yang tersampaikan. Walaupun itu memang masih dasar sepertinya. Mungkin ke depannya saya akan coba cari literatur tentang stoa lain yang berbahasa Indonesia dulu. Baru perlahan naik tingkat ke buku-buku Marcus Aurellius, dkk.
Seperti Om Piring bilang di bagian epilog, buku Filosofi Teras ini memang baru awal, bagi kita yang mau mendalami. Jadi, semoga ke depannya banyak buku-buku filsafat yang dikemas seringan mungkin agar ilmu dan intisarinya bisa dipahami banyak orang.
Selamat membaca! Buku bagus memang harus di-review dan disebarkan.
n.b. Bab Sebelas buku ini memberikan banyak pencerahan tentang ketakutan saya selama ini. Terima kasih, Om Piring.
Kenapa menarik? Karena dibuku dijelaskan kalau kita memang, literally, latihan untuk menderita. Belajar hidup di bawah standar nyaman dan tidak bermewah-mewahan. Tujuannya memang mulia, untuk mengajarkan kita bahwa kita masih bisa hidup dan berfungsi dengan atau tanpa standar kemewahan yang ada. Kalau dipikir-pikir, rasa puas terhadap kepemilikan barang tentu tidak akan ada habisnya. Kita akan selalu menginginkan barang yang lebih baru walaupun yang kita punya masih berfungsi. Standar kemewahan yang ada pun kadang malah membuat kita, sadar atau tidak, malah jadi materialistis.
Penulis juga sudah memberi tahu kalau kita mungkin akan menemukan ajaran Filsafat Stoa ini selaras dengan ajaran agama atau gaya hidup lain. Nah, kalau berdasarkan pemahaman saya, Latihan Menderita ini esensinya hampir mirip dengan gaya hidup minimalisme. Hanya berbeda di pendekatan dan tujuannya.
In my sotoy opinion, Latihan Menderita ini dilakukan untuk menguji atau membuktikan kemungkinan bertahan hidup tanpa barang mewah atau standar tinggi, minimalisme justru dari awal menganjurkan kita hidup sederhana tanpa banyak barang, karena memang rata-rata koleksi kita tidak dibutuhkan dan seringnya tidak membawa kebahagiaan.
Tapi pandangan stoa dan minimalisme menurut saya sama, kok. Bahwa sebenarnya kita tidak perlu banyak barang atau bermewah-mewah untuk tetap bisa hidup dengan bahagia. Karena rasa bahagia itu tidak datang dari barang koleksi atau respon orang terhadap gaya hidup kita. Dikembalikan ke dikotomi kendali, penilaian orang itu ada di luar kendali kita, sedangkan rasa bahagia itu lebih ke a state of mind alias kondisi pikiran kita.
Saya memang belum pernah menemukan literatur tentang minimalisme, seperti literatur tentang ilmu filsafat yang sudah ada dari sebelum Masehi. Tapi, dari berbagai sumber modern yang pernah saya baca dan lihat (rata-rata video YouTube, film dokumenter, atau pun blog serta artikel), para pelaku minimalisme akan menganjurkan kita untuk kembali ke diri kita dan kembali mendengarkan diri sendiri. Apakah kita butuh barang ini? Ataukah saya hanya ingin membuat orang lain terkagum-kagum lalu kita merasa superior? Lebay ya? Tapi dari buku Goodbye, Things-nya Fumio Sasaki, saya baru tahu bahwa memang ada orang yang seperti itu.
Mungkin kalau tujuan kedua tercapai, kita akan bahagia. Tapi coba kalau sebaliknya? Karena respon orang itu bukan di bawah kontrol kita, begitu orang tidak memberikan respon yang kita inginkan, lalu kita pasti akan baper dan mutung. Lagi-lagi karena berharap pada sesuatu yang tidak di bawah kendali kita.
Sepanjang membaca buku ini, beberapa kali saya teringat dengan ucapan dari orang-orang tua di sekitar. Kadang, mereka sering bilang, "Kita kan sudah usaha, hasilnya gimana mah itu terserah Allah SWT." Nggak tahu apa mereka pernah baca buku-buku Filsafat Stoa (kayaknya sih nggak ya), tapi memang filsafat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal baca tentang ilmu filsafat baru dari buku ini.
Syukurnya lagi, layout dari buku ini juga sangat membantu proses membaca. Tidak semua isinya huruf, tapi diselingi gambar-gambar dan halaman kutipan. Cukup meringankan mata karena pasti kalau layout-nya seperti buku non-fiksi lain, saya pasti males bacanya. Walaupun, hampir yakin penyebab terbesarnya adalah opini saya tentang filsafat seperti yang saya sampaikan di atas.
Untuk ukuran buku "pengatar filsafat stoa" saya rasa sudah banyak hal yang tersampaikan. Walaupun itu memang masih dasar sepertinya. Mungkin ke depannya saya akan coba cari literatur tentang stoa lain yang berbahasa Indonesia dulu. Baru perlahan naik tingkat ke buku-buku Marcus Aurellius, dkk.
Seperti Om Piring bilang di bagian epilog, buku Filosofi Teras ini memang baru awal, bagi kita yang mau mendalami. Jadi, semoga ke depannya banyak buku-buku filsafat yang dikemas seringan mungkin agar ilmu dan intisarinya bisa dipahami banyak orang.
Selamat membaca! Buku bagus memang harus di-review dan disebarkan.
n.b. Bab Sebelas buku ini memberikan banyak pencerahan tentang ketakutan saya selama ini. Terima kasih, Om Piring.
![]() |
| Stasiun Manggarai, calon pengganti Stasiun Gambir |
![]() |
| Sah! |
Riset tempat wisata atau destinasi menarik mana yang murah dan dekat itu sudah wajib. Cara untuk sampai ke sana pun bisa dicari semalam sebelumnya. Tapi, tujuan utama saya dari sebelum berangkat adalah...naik MRT Jakarta. Kapan lagi kan bisa naik MRT pertama di Indonesia?
Sebagai percobaan pertama, tidak sah rasanya kalau tidak naik dari salah satu stasiun akhir dan paling strategis. Yaitu MRT Bundaran HI. Ternyata memang beda rasanya naik sarana transportasi yang sudah mutakhir. Semuanya serbacepat, tepat waktu, dan...rapi. Untung ini sudah beberapa bulan setelah peluncuran, jadi saya tidak harus berpapasan dengan orang-orang yang piknik atau bergelantungan di dalam rangkaian.
Dari Halte Bundaran HI, tujuan saya waktu itu ke Cipete, karena lihat postingan di Instagram tentang toko kue yang sedang hits. Karena letaknya strategis dan dekat sekali dari Halte Cipete Raya, jadi tidak begitu melelahkan ketika harus berjalan kaki beberapa ratus meter.
Biaya naik MRT pun tidak begitu mahal. Kalau tidak salah dari Bundaran HI ke Cipete Raya hanya sekitar Rp10.000 atau Rp11.000, sekitar segitu. Terbayar sudah dengan peron yang bersih, toilet yang super nyaman, dan kecepatan waktu tempuh. Kalau pakai transportasi lain mungkin harganya bisa beberapa kali lipat, belum dengan macet dan kesemrawutan lalu lintas.
Selain MRT, transportasi lain yang cukup diistimewakan adalah TransJakarta. Diistimewakan karena mereka punya jalur sendiri yang--idealnya--tidak dimasuki kendaraan lain. Perjalanan saya dengan TransJakarta dimulai dari Halte Stasiun Kota sampai ke Bundaran HI (untuk naik MRT ke Cipete Raya).
Sebenarnya naik TransJakarta ini nyaman, lho. Untuk masalah berdiri memang sudah risiko dan sebenarnya tidak begitu melelahkan. TransJakarta ini juga bebas macet dan karena rute yang saya tempuh relatif singkat dan jalannya "lurus-lurus" saja, tidak begitu terasa jadinya.
Dari segi kondisi, kalau mau dibandingkan dengan TransJogja, bus TransJakarta jauh lebih besar dan luas. Memang itu juga pengaruh dari kondisi di lapangan. Penduduk Jogja memang masih belum banyak yang menggunakan bus kota, motor atau mobil pribadi masih jadi pilihan. Terdiri dari sekitar 2-3 rangkaian, membuat penumpang juga tidak perlu berdesakan. Haltenya pun luas-luas dan bersih. Sama seperti transportasi umum lain seperti kereta atau MRT, kita memang harus usaha ekstra untuk jalan ke tempat tujuan karena memang pemberhentiannya tidak bisa menyenangkan semua pengguna.
Selain TransJakarta, ada juga Jakarta City Tour Bus yang bisa membawa kita keliling kota sambil mendengarkan paparan dari pemandu di bus. Waktu itu saya naik bus tentang "History of Jakarta", isinya kita melewati bangunan-bangunan bersejarah di pusat kota dengan pemberhentian akhir ke Kawasan Wisata Kota Tua. Seru! Karena bus ini bus tingkat, jadi jarak pandang kita lebih tinggi dan luas. Berasa jadi raksasa. Poin plus lain dari Jakarta City Tour Bus ini adalah...gratis! Kita bisa datang ke halte terdekat (saya di depan Masjid Istiqlal), lalu pilih ingin naik bus yang mana. Di samping dan depan bus ada kode bus dan keterangan temanya, kok. Atau kalau takut salah bisa tanya ke petugasnya. Tapi harus dicek juga karena ada bus lain yang harus bayar, jadi dipastikan sebelum naik.
Nah, berikutnya adalah kendaraan umum yang sempat bikin saya jiper waktu lihat video-video dan berita di internet. None other than...KRL. Yep. angkutan umum andalan pekerja dari Bodetabek ini memang kalau dilihat selalu penuh, berdesakan, dan terkesan nggak aman. Banyak yang kena masalah di sini. Mulai dari kena copet, catcalling, atau desak-desakkan dengan penumpang lain.
Buat mencegah semua kondisi tadi, saya naik pas bukan jam sibuk. Sekitar jam dua siang dari Stasiun Pasar Minggu Baru ke Stasiun Gondangdia. Nyaman, lho, sebenarnya KRL ini. Walaupun kipas anginnya nggak ada dingin-dinginnya sama sekali. Lupa kipasnya muter apa nggak. Gerbongnya juga cukup luas. Walaupun dengan pengecualian karena ini bukan jam sibuk. Kalau saya naik agak sorean mungkin lain cerita. Semua pekerja laju bakal tumplek blek. Hiii...saya masih suka jiper karena memang kadang suka tidak nyaman kalau di keramaian, berdesakkan pula.
Stasiun Pasar Minggu Baru tempat saya naik tidak begitu luas. Karena memang sedikit yang naik di sini. Selain itu juga sedang ada renovasi di stasiun, jadi memang agak kotor dan berdebu. Peronnya pun di dua sisi tidak begitu luas. Tapi kursinya masih tersedia banyak.
Datang dengan persiapan dan niat untuk mencoba transportasi umum di Jakarta memang membantu. Mencari rute terdekat dari destinasi wisata atau tempat makan dan nongkrong itu penting sekali! Dan...rasanya berada di kota yang sudah maju sistem transportasinya memang beda. Semua terasa mewah dan kita sudah beradaptasi dengan teknologi. Jakarta memang terlambat punya MRT dibanding Thailand dan Malaysia, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Meskipun ungkapan itu tidak bisa diterapkan terus menerus (karena orang Indonesia memang sering terlambat).
Rasanya beda ketika sistem transportasi kita sudah serbaotomatis. Tinggal tap kartu langsung jalan. Semua serba cashless, rapi, dan tertib. Optimis memang kalau Indonesia bisa maju walaupun harus berlari mengejar posisi negara lain. KRL yang murah dan jadi andalan, TransJakarta yang sangat-sangat luas, bersih, dan nyaman, sampai MRT yang jadi ikon kebanggaan karena kita mampu punya teknologi seperti itu.
Opsi lain seperti angkot dan Metromini memang kadang masih jadi pilihan, tapi...banyak yang harus dibenahi di sistemnya. Tugas siapa? Saya rasa semuanya. Semua yang butuh naik kendaraan umum, semua yang punya wewenang untuk mengatur urusan transportasi. Pakai, rawat, dan jangan lupa untuk melaporkan ketidaktaatan siapa pun yang mengganggu kenyamanan. Bisa kok angkutan umum di Jakarta dan Indonesia tertib dan terintegrasi. Asal jangan lempar tanggung jawab dan lepas tangan saja.
Salam.
Nah, berikutnya adalah kendaraan umum yang sempat bikin saya jiper waktu lihat video-video dan berita di internet. None other than...KRL. Yep. angkutan umum andalan pekerja dari Bodetabek ini memang kalau dilihat selalu penuh, berdesakan, dan terkesan nggak aman. Banyak yang kena masalah di sini. Mulai dari kena copet, catcalling, atau desak-desakkan dengan penumpang lain.
Buat mencegah semua kondisi tadi, saya naik pas bukan jam sibuk. Sekitar jam dua siang dari Stasiun Pasar Minggu Baru ke Stasiun Gondangdia. Nyaman, lho, sebenarnya KRL ini. Walaupun kipas anginnya nggak ada dingin-dinginnya sama sekali. Lupa kipasnya muter apa nggak. Gerbongnya juga cukup luas. Walaupun dengan pengecualian karena ini bukan jam sibuk. Kalau saya naik agak sorean mungkin lain cerita. Semua pekerja laju bakal tumplek blek. Hiii...saya masih suka jiper karena memang kadang suka tidak nyaman kalau di keramaian, berdesakkan pula.
Stasiun Pasar Minggu Baru tempat saya naik tidak begitu luas. Karena memang sedikit yang naik di sini. Selain itu juga sedang ada renovasi di stasiun, jadi memang agak kotor dan berdebu. Peronnya pun di dua sisi tidak begitu luas. Tapi kursinya masih tersedia banyak.
Datang dengan persiapan dan niat untuk mencoba transportasi umum di Jakarta memang membantu. Mencari rute terdekat dari destinasi wisata atau tempat makan dan nongkrong itu penting sekali! Dan...rasanya berada di kota yang sudah maju sistem transportasinya memang beda. Semua terasa mewah dan kita sudah beradaptasi dengan teknologi. Jakarta memang terlambat punya MRT dibanding Thailand dan Malaysia, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Meskipun ungkapan itu tidak bisa diterapkan terus menerus (karena orang Indonesia memang sering terlambat).
![]() |
| Penampakan Stasiun Pasar Minggu Baru |
Rasanya beda ketika sistem transportasi kita sudah serbaotomatis. Tinggal tap kartu langsung jalan. Semua serba cashless, rapi, dan tertib. Optimis memang kalau Indonesia bisa maju walaupun harus berlari mengejar posisi negara lain. KRL yang murah dan jadi andalan, TransJakarta yang sangat-sangat luas, bersih, dan nyaman, sampai MRT yang jadi ikon kebanggaan karena kita mampu punya teknologi seperti itu.
Opsi lain seperti angkot dan Metromini memang kadang masih jadi pilihan, tapi...banyak yang harus dibenahi di sistemnya. Tugas siapa? Saya rasa semuanya. Semua yang butuh naik kendaraan umum, semua yang punya wewenang untuk mengatur urusan transportasi. Pakai, rawat, dan jangan lupa untuk melaporkan ketidaktaatan siapa pun yang mengganggu kenyamanan. Bisa kok angkutan umum di Jakarta dan Indonesia tertib dan terintegrasi. Asal jangan lempar tanggung jawab dan lepas tangan saja.
Salam.
Siapa
sangka kalau kita bisa main kayak di Jogja? Dekat pula dari pusat kota.
Itu pertanyaan yang saya ulang terus-menerus dalam hati. Sumber
perekonomian Jogja memang berasal dari pariwisata, tapi saya tidak tahu
kalau banyak daerah yang sedang mencoba mengembangkan potensi
wisatanya, termasuk daerah tempat bermain kayak kemarin. Dari awal
keluar kos hingga kembali, ada beberapa pengalaman dan pertemuan yang
baru saya lihat dan alami. Sebagian besar karena saya tidak menyangka
bahwa tempat seperti ini ada di Jogja.
![]() |
| KKN vibe-nya kerasa banget |
Jadi,
tempat ini berada di Jalan Imogiri. Kalau kita mau ke
Mangunan, jalan yang dilalui persis sama, hanya ini masih sangat di
bawah. Namanya Wisata Air Selopamioro. Kalau mau persisnya, daerah ini
ada di aliran sungai, kalau tidak salah Kali Kuning, yang jembatannya
baru runtuh karena ada banjir bandang sekitar awal tahun ini.
Dari
namanya, desa ini mengedepankan wisata air, karena memang posisinya
berada di sungai yang tidak begitu dangkal dan panjang. Airnya
kehijauan, dan di pinggiran sungai banyak bebatuan sungai putih dengan
berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang lancip dan tajam, ada juga yang
mulus dan berpenampang besar. Arusnya pun tenang walaupun ada beberapa
bagian yang berarus lebih kencang karena ada alirannya agak melandai.
Hamparan batu di sungai ini sangat-sangat luas. Bisa terlihat jelas
karena memang ketika musim kemarau seperti ini air menyusut dan tempat
kita melangkah adalah dasar sungainya.
![]() |
| Tempat kejadian perkara |
Sepertinya
pengadaan tempat wisata ini didorong oleh Kementerian Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Karena di kayak yang ada,
tertempel logo Kemendes. Begitupun di jaket pelampung yang disediakan.
Kalau memang demikian, ini merupakan langkah yang bagus, karena potensi
di daerah ini memang perlu dikembangkan maksimal. Banyak anak muda yang
beraktifitas di sini, dan ada beberapa warung yang beroperasi. Toilet
pun ada walaupun masih belum dalam bentuk toilet tetap dan sangat
berukuran kecil.
Di
sisi kiri dan kanan desa dan sungai banyak terdapat tebing-tebing dari
pegunungan. Dari kejauhan terlihat dominan warna cokelat dengan
pohon-pohon yang sedang meranggas. Daerah ini memang di kelilingi
tebing-tebing tinggi dan di kakinya banyak lahan pertanian yang masih
aktif digarap warga.
Jalan
ke tempat ini sangat mudah diakses walaupun hanya selebar satu mobil
saja. Dari kota hingga Jalan Imogiri memang sudah diaspal dan sangat
mulus, tetapi begitu masuk ke pedesaan, sebagian besar masih berupa
jalan cor-coran semen. Selama menuju ke sini, akan banyak kita temui
pohon-pohon bambu dan suasana yang agak gersang. Saya pun kurang tahu
apakah mobil bisa masuk atau tidak, kalau pun bisa pasti akan sulit
mencari lahan parkir karena memang belum disediakan di sisi tempat saya
datang. Mungkin bisa diwaspadai juga karena banyak tanda peringatan
bahwa daerah di sekitar sana memang rawan longsor.
Karena
jembatan penghubung di desa ini baru saja runtuh diterjang banjir
bandang. Jadi alternatif untuk pengunjung yang datang dari sisi seberang
tempat persewaan kayak adalah dengan menaiki perahu oranye dari BNPB.
Tidak ada dayung, hanya ada tali yang harus ditarik agar kita sampai ke
ujung lainnya. Cara kerja perahu ini sama dengan getek di sungai-sungai
kecil.
![]() |
| Jalur utama sementaranya |
Saat kami datang, entah mengapa tali penghubung yang harus ditarik itu terikat tidak beraturan (tangled).
Kami sudah naik dan sampai di tengah sungai (masih di bagian dalam),
lalu perahu terhenti karena memang talinya macet dan tidak memungkinkan
kami sampai ke pinggiran sungai. Manusia-manusia di atas kapal sempat
dipenuhi kebingungan. Upaya untuk kembali ke titik awal masih sulit,
berusaha mengurai talinya pun memakan waktu yang lama. Akhirnya datang
seorang bapak yang membantu memanggilkan petugas penyewaan kayak agar
membawa kami ke sana dengan kapal karet, sedangkan beliau mengurai tali
yang terikat itu. Such a life saver.
Singkat
cerita, setelah sampai ke tepian sungai yang lain, perjalanan main
kayak pun segera dimulai. Untuk informasi, kayak di sini masih belum
banyak. Kami datang berempat dan menggunakan dua kayak, masing-masing
diisi dua orang. Biaya yang kami keluarkan hanya sebesar Rp10.000/orang
untuk 40 menit. Bahkan rasanya kami main di air lebih dari 40 menit.
Setelah bayar, kami memilih jaket pelampung dan dayung yang ada di
sekitar tempat registrasi. Untuk tas dan barang berharga bisa dititipkan
di meja registrasi karena memang tidak banyak orang yang datang. Hanya
ada kami waktu itu.
![]() |
| Tempat istirahat kongkow-kongkow |
Wilayah
yang bisa disusuri cukup panjang. Ujung yang menjadi patokan adalah
ketika arus sudah mulai deras. Begitu mulai mendekati, lebih baik
langsung putar balik saja. Di area yang tenang, sebenarnya nyaman untuk
diisi dengan foto-foto pemandangan, swafoto, dan bahkan duduk diam dan
menikmati angin. Suasananya sangat tenang. Karena di desanya sendiri
tidak banyak motor-motor yang lalu lalang. Disarankan untuk datang pagi
sekitar jam 8-9 pagi sebelum matahari meninggi.
All in all,
kayaking di tempat ini selain jadi pengalaman pertama, juga jadi
pembersih mata karena pemandangan dan suasananya sangat jauh dengan yang
ada di kota. Mungkin yang menarik adalah kontribusi Kemendesa di dalam
upaya pembangunan tempat-tempat wisata seperti ini. Program yang sangat
membantu tapi perlu tindak lanjut dan pengawasan kualitas semua sisi.
Fasilitas yang masih apa adanya pun sudah bagus, dengan pendampingan
mungkin akan lebih baik dari ini.
Makanan
yang dijual pun rasanya enak dan murah, kami beli batagor waktu itu.
Harga batagornya pun hanya Rp5.000 saja, dengan porsi yang agak lebih
banyak. Tidak seperti kebanyakan tempat wisata yang mematok harga tinggi
untuk sesuatu yang kualitasnya pas-pasan. Ada banyak faktor, memang.
Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa ketika tempat ini ramai, semua
akan tetap sama. Tapi, keadaan yang ada saja sudah merupakan awal yang
baik. Kudos, untuk pengembang dan staf di lapangan.
n.b.
Kayak yang saya tumpangi sempat terjungkal karena salah ide, kesalahan
kalkulasi, dan tidak ada kegesitan. Ingin diceritakan, tapi sebaiknya
jangan. Intinya…saya dan kawan satu kayak bagaikan pohon dan kebun dalam
lagu “tik…tik…bunyi hujan di atas genting” alias basah semua.
![]() |
| Setelah terjungkal |
n.b.b.
Waktu kami terjungkal, hidup menunjukkan faktanya yang tak terelakkan.
Hal pertama yang dikhawatirkan adalah…ponsel. Bukan kondisi badan, kaki,
tangan, atau pun kemungkinan terluka di anggota tubuh mana pun. Itu
masalah prioritas saja sebenarnya.
![]() |
| The view |
Jogja dan seni memang sudah tak bisa dipisahkan. Banyak karya seniman-seniman yang dipamerkan, dan beberapa malah sudah jadi agenda rutin tahunan. Animo masyarakat yang didominasi anak muda juga cukup memuaskan dan menandakan masih banyak yang tertarik dengan pameran seni lukis dan instalasi. Khusus di akhir bulan Juni hingga sekitar penghujung Agustus, ada banyak pameran yang diadakan dengan tema dan media yang berbeda. Lima dari sekian banyak pameran seni berhasil saya kunjungi dalam waktu lima jam saja, dan semuanya tidak memungut biaya masuk. Kelima pameran ini sukses memberikan pandangan baru dan berbeda tentang seni yang selama ini tidak saya ketahui dan dalami.
1. Bebas
Pameran ini diselenggarakan di Jogja Gallery yang berada di dekat Alun-alun Utara (Altar) Yogyakarta. Kalau kita sudah sampai di sekitar Altar, bangunan ini sangat mencolok karena di depannya dipasangi kepingan-kepingan seng yang dibuat seperti dinding yang cukup tinggi. Untuk parkir bisa di trotoar depannya dan berbagi lahan dengan Dagadu.
Kerajinan di pameran bebas ini didominasi oleh seni lukis yang tersebar di dua lantai. Walaupun ada juga instalasi-instalasi di beberapa titik. Ketika saya datang, suasananya sangat sangat sepi. Hanya ada panitia dan saya serta teman di dalamnya. Cukup menguntungkan karena saya tidak terganggu oleh keramaian dan bisa berlama-lama mengamati karya di sana.
Ketika berada di dalam, saya banyak berhenti di beberapa karya seni karena banyak yang sulit saya pahami. Sebagai orang yang tidak begitu paham dengan seni, karya-karya yang cenderung abstrak dan perlu ditelaah mendalam memang jadi pekerjaan rumah. Interpretasi si seniman dengan penikmat tentu pasti berbeda. Memang ketika mebahas tentang seni, salah-benar dan kebakuan interpreatasi tidak berlaku sama sekali, semua tergantung cara pandang dan pola pikir yang menyaksikan. Walaupun begitu, saya tetap menikmati keliling-keliling di sana.
2. Sumonar Fest
Awalnya, Sumonar Fest seharusnya menjadi pemberhentian pertama kami sebab hari Senin itu adalah hari terakhirnya. Namun karena kurangnya informasi, saya datang terlalu pagi pameran cahayanya belum dimulai. Haluan pun berubah ke Pameran Bebas lebih dulu. Letak yang saling berdekatan menjadi alasan mengapa.
![]() |
| The pictures |
Saya tidak tahu apa-apa tentang pameran ini, tapi begitu datang ke sana yang kedua kali, langsung disambut dengan permainan video mapping di tangga saat hendak naik ke lantai dua. Di Loop Station ini tidak begitu banyak yang di pamerkan, tetapi karena memang jarang ada yang seperti ini, banyak momen yang terabadikan.
Pameran video mapping seperti ini memang lebih mudah dinikmati dan disaksikan. Permainan cahaya dan permainan komposisi gambar, walaupun kelihatan mudah, tapi pasti butuh kreativitas dan uji coba yang panjang. Itu kalau saya yang coba buat.
3. Celebration of Compassion
Tempat ekshibisi karya seni ini dekat sekali dengan kos saya. Hampir setiap hari saya lewat jalan ini karena memang cukup strategis dan ramai tempat makan. Bangunannya ini baru diresmikan beberapa minggu sebelumnya, saya tidak tahu kalau ini juga jadi tempat pameran seni. Tirtodipuran Link namanya.
Datang dan melihat-lihat lukisan di sini membawa kesan dan perasaan berbeda dengan yang sebelumnya. Suasana di sini, walaupun sama-sama tidak ramai, lebih cerah karena bentuk bangunannya yang berjendela cukup besar-besar sehingga banyak cahaya alami yang masuk. Selain itu, pemilihan warna mayoritas putih juga mempercerah ruangan yang memang besar dan luas. Mungkin anak sekarang akan bilang, “Tempatnya Instagramable banget!”
Dari segi lukisannya pun tidak seabstrak di pameran Bebas. Meskipun saya masih perlu menelaah di beberapa gambar. Cuma, di sini ada satu karya seni yang lebih interaktif. Di salah satu ruangan, ada lima lukisan yang visualnya bisa berubah jika sumber cahaya diubah. Lima lukisan itu, sepertinya terinspirasi dari beberapa pelukis: Van Gogh; Affandi; Pablo Picasso; dan Sudjojono.
Jadi, cara kerja ruangan ini adalah dengan mengganti pencahayaan: penerangan dengan lampu biasa; dengan sinar UV; lalu tanpa penerangan alias gelap gulita. Di setiap penggantian, kelima gambar yang ada di sana kemudian berganti-ganti. Saya tidak tahu bagaimana caranya dan tidak mau pusing-pusing juga untuk mengamati bagaimana karyanya bisa jadi sedemikian rupa. Datang dan menikmati saja sudah lebih dari cukup.
Pengalaman dan pemahaman baru ini menambah pemahaman saya tentang seni. Media apapun ternyata bisa digunakan dan, kembali lagi, tidak ada patokan baku soal bagaimana seharusnya seni disampaikan. Semua yang ada di sekitar bisa jadi penyalur jiwa seni kita.
4. Ora Saru
Ini… pameran yang temanya paling nggak biasa. Karya-karya seni di sini mengangkat tema yang berkaitan dengan seksualitas yang jarang dibicarakan dan dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari. Datang ke sini terasa menguji pemahaman dan kedewasaan saya dalam membahas masalah seksualitas. Saya berusaha untuk tidak risih dan tetap bersikap biasa saja, karena memang seperti itulah seharusnya.
Dalam memandang masalah seksualitas, baik dari aspek biologis (reproduksi, pembuahan, hubungan seks, hingga masturbasi) maupun aspek sosial yang melibatkan masyarakat luas (pelecehan, tekanan psikis) hingga kebebasan berekspresi melalui penampilan seharusnya tidak menimbulkan masalah besar. Semua ada di pikiran kita saja. Apakah isi otak kita hanya hal-hal yang berbau seks? Atau kita sudah cukup dewasa dalam memahami bahwa sesungguhnya anggota tubuh orang lain bukanlah objek bagi kita sebagaimana anggota tubuh kita bukan objek bagi orang lain.
Isu seperti ini memang menarik dan bisa membuka banyak percakapan karena banyak lapisan-lapisan yang kita tidak sadari saling terhubung dan berada di bawah payung yang sama: seksualitas. Penyelenggaraan acara seperti ini membuka jalan bagi pengunjung untuk berani berdiskusi dan (seharusnya) merasa nyaman dengan tubuh sendiri.
5. Biennale
Pertama kali dengar tentang Biennale di Jogja itu tahun 2017. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya datang ke Jogja National Museum bersama beberapa teman. Biennale kemudian ada lagi di tahun 2019 (karena acaranya memang dua tahunan), tempatnya di Gedung PKKH UGM. Yang saya suka dari sini adalah banyak karya yang interaktif. Bisa dibilang dari lima pameran, ini yang paling berbeda.
Yang saya suka adalah bagian kumpulan foto-foto yang dijadikan sebuah gunungan. Kurang sempat mendalami lebih dalam, tapi memang menarik ketika dilihat. Ada juga instalasi berbentuk telepon-telepon kaleng yang isinya berbeda-beda. Sepertinya memutarkan cerita-cerita orang-orang yang kemudian dikurasi.
Omong-omong, walaupun tempatnya strategis dan masuknya pun gratis, di sini masih kurang ramai pengunjung. Atau setidaknya tidak seramai waktu dua tahun lalu. Kurang tahu apakah karena memang sudah berlangsung beberapa hari, jadi sudah lewat peak time-nya, atau memang banyak yang belum tahu saja.
Kadang kita memang perlu datang ke tempat-tempat seperti ini. Di luar dari keuntungan karena bisa hemat uang, melihat karya seni juga bisa jadi obat bagi mata agar bisa melihat banyak warna dan bentuk yang tidak biasa. Kita dibawa berpikir tentang sebuah karya, dan menemukan banyak hal yang bisa dibahas lebih dalam.
Setiap saya melihat karya seni yang tidak biasa, refleks saya menggeleng-gelengkan kepala saking tidak habis pikirnya. Bagaimana banyak orang di luar sana yang punya daya imajinasi, kreativitas, dan keterampilan yang besar. Membuat iri memang. Namun, datang dan menyaksikan sebuah pameran saja sudah lebih dari cukup untuk saya.
![]() |
| sumber: mizanstore.com |
IDENTITAS BUKU
Judul: Kiai Ujang di Negeri Kangguru
Penulis: Nadirsyah Hosen
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-385-804-0
Di zaman dengan konektivitas yang tinggi antara manusia dan sumber informasi, banyak ilmu-ilmu baru yang muncul dan disebarkan melalui berbagai media. Dalam hitungan detik, satu berita akan dapat tersebar ke seluruh belahan dunia. Termasuk keingintahuan umat Muslim, khususnya di Indonesia juga terlihat semakin meningkat. Banyak dari kita yang ingin mendalami kembali agama Islam dan syariat-syariatnya. Dengan catatan, sebaiknya semua informasi yang ada tidak ditelan mentah-mentah tanpa ada tabayyun terlebih dahulu.
Keberadaan pemikir Islam dan Imam besar di masa lampau membuat kita sekarang terbagi ke dalam beberapa mahzab besar. Setidaknya ada empat Imam yang keyakinan terhadap syariahnya diyakini: Syafi’i; Hanafi; Maliki; dan Hambali. Perbedaan cara pandang para Imam yang kemudian diyakini oleh umat Islam berabad-abad setelahnya, terkadang tidak diikuti oleh pemahaman ilmu perbandingan mahzab dan rasa pengertian antarumat zaman sekarang. Tidak jarang banyak terjadi percekcokan hanya karena ada cara pandang berbeda bagi hal yang sepele.
Buku Kiai Ujang di Negeri Kangguru ini setidaknya dapat memberikan pandangan baru mengenai fenomena perbedaan mahzab dan ketidakmengertian umat zaman sekarang terhadap perbedaan mahzab. Hal-hal yang sering jadi sumber permasalahan, dijelaskan dengan mengedepankan fakta bahwa, sebenarnya sudah dari zaman dahulu kala, para Imam besar terpelajar mendalami ini. Keputusan yang diambil pun tidak asal-asalan karena proses perumusannya sangat berhati-hati dengan mempelajari seluruh perbedaan di masanya.
Lalu, siapa Kiai Ujang ini? Dia adalah tokoh yang diceritakan belajar ilmu perbandingan mahzab di Indonesia lalu kuliah magister ke Australia. Penjelasan perbedaan ini dijelaskan dari sudut pandang Kiai Ujang yang sering ditanyai tentang hukum-hukum Islam oleh rekan-rekan diaspora Indonesia. Pertanyaannya pun sangat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari (setidaknya saya merasakan demikian).
Dari polemik ada atau tidaknya label halal bagi daging sapi di supermarket nonhalal, kemudian hingga hukum mengucapkan selamat hari natal bagi umat Nasrani dijelaskan oleh Kiai Ujang. Yang menarik adalah, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada sudut pandang baru yang jarang didapati sebelumnya. Penjelasan mengenai permasalahan ini dijelaskan dengan menelaah perbedaan pendapat Imam-imam besar pada masanya.
Memang keputusan sepenuhnya ada di tangan kita. Indonesia yang sebagian besar menganut mahzab Syafi’i mungkin akan terasa asing begitu menemui pendapat mahzab Hambali, Hanafi, atau Maliki di beberapa kasus. Namun, ketika kita membaca buku ini, mungkin harus ada pemahaman bahwa penjelasan yang ada bukan bertujuan untuk membuat kita berpindah-pindah mahzab atau memilik mana yang termudah (mungkin boleh-boleh saja, kalau kita mau. Mungkin).
Setidaknya, dengan mengetahui bahwa perbedaan cara pandang itu sudah ada sejak masa lampau, kita sebagai umat Muslim yang tidak mendedikasikan waktu kita untuk menelaah hukum Islam bisa sedikit menghargai pendapat yang tidak sesuai. Kemunculan pendapat Imam-imam besar pun adalah hasil dari pembelajaran akademis yang sudah berlangsung lama.
Nilai lain yang kita dapat dari membaca buku ini adalah, ada penjelasan berulang-ulang mengenai agama Islam yang memang sangat mudah dan fleksibel. Betapa banyak keringanan yang diberikan bagi kita dalam proses menjalankan ibadah, contohnya salat. Jadi ada perasaan yang agak aneh ketika saya melihat banyak perilaku sebagian kecil umat Muslim zaman sekarang yang tidak menunjukkan nilai-nilai Islam tersebut.
Salah satu yang saya syukuri adalah cara yang dipilih untuk menjelaskan masalah-masalah keagamaan. Kalau penjelasan ini ditulis seperti buku teks kumpulan perbandingan mahzab, mungkin akan sangat membosankan membacanya sampai akhir. Namun, karena dibuat cerita agak fiksi, proses membacanya pun tidak serasa sedang kuliah atau ketika kita belajar untuk ujian.
Buku ini juga, menurut saya tidak berfokus di cerita fiksinya, walaupun ada sedikit cerita di luar masalah agama. Cukuplah untuk intermeso agar tidak bosan-bosan banget baca bukunya. Kalau mahasiswa atau akademisi harus baca buku tebal dan berbahasa Arab, kita yang tidak mendalaminya, bisa mempelajari dengan membaca buku-buku yang dikemas seringan mungkin seperti ini.
![]() |
| Jogja Library Center |
Siapa yang nggak tahu Jalan Malioboro di Jogja
yang terkenal luar biasa? Banyak pusat belanja, makanan tradisional, sentra
oleh-oleh, dan…letaknya strategis dekat Stasiun Tugu. Sepertinya kalau hanya
punya waktu sehari di Jogja, lebih baik dihabiskan ke Malioboro aja. Biar afdal,
foto di papan nama Jalan Malioboro mirip turis-turis.
Nah… sebagai penduduk pendatang di Jogja, kebal
sudah rasanya badan sama motor ini tiap lewat Malioboro. Macetnya nggak nahan.
Jalannya kecil tapi volume kendaraannya jauh lebih besar. Malioboro memang
lebih cocok jadi tempat orang jalan kaki. Dan memang akhirnya banyak
pembangunan di Malioboro yang dibuat semakin ramah pejalan kaki. Trotoar diperluas,
ditambah jalur khusus tuna netra, yang besinya banyak dicomotin orang-orang
kurang kerjaan, dan banyak kursi juga tempat sampah.
Balik ke masalah macet, mungkin sebenarnya
Pemerintah Kota Yogyakarta sadar kalau macet di Malioboro ini sudah cukup
parah. Parah banget. Sampai beberapa bulan kemarin, ada uji coba pengosongan
jalan dari kendaraan bermotor pribadi tiap hari Selasa Wage. Kenapa Selasa
Wage? Saya nggak begitu paham. Tapi ini sukses menarik perhatian orang-orang
untuk datang ke Malioboro, termasuk saya.
Akhirnya, berbekal rasa penasaran dan
kebosanan, saya—memberanikan diri—berangkat ke Malioboro jalan kaki, biar ramah
lingkungan ceritanya. Fast forward, ternyata di Malioboro sudah banyak banget
orang swafoto di tengah jalan. TENGAH JALAN! Waktu itu saya masuk dari Titik 0
Km, dan bahkan di perempatannya pun penuh sama orang-orang dan komunitas-komunitas.
Mantap!
Karena memang Malioboro menurut saya didesain lebih
ramah untuk pejalan kaki, trotoar yang luas disulap jadi panggung kesenian.
Semua tempat ikut berpartisipasi. Kebanyakan sih kesenian tradisional. Mulai
dari gamelan, batik, dan tari tradisional. Kesenian modern juga ada. Grup musik
dan kelompok flashmob juga ikut ambil bagian.
Keadaannya gimana? Rame banget! Semua orang
tumpah-ruah ke Malioboro. Seru juga. Anak kecil main bola di tengah jalan,
ibu-ibu komunitas foto-foto menghalangi orang yang mau lewat. Mungkin….
Instastory orang-orang isinya kurang lebih sama seperti gambar ini:
![]() | ||||
| Sudut foto main stream orang-orang di Malioboro |
Sebagai daya tarik wisata, cara ini sangat
sangat efektif. Saya pun sampai tertarik buat lihat-lihat. Semoga ini bisa jadi
langkah awal Pemkot Jogja dalam mengatasi kemacetan di Malioboro. Sayang
trotoar yang luas sudah mapan, toko-toko yang rapi, dan warung tenda sepertinya
sudah taat aturan. Cuma karena macet dan jalan kecil jadi terganggu
kenyamanannya. Pejalan kaki memang harus diprioritaskan fasilitasnya. Apalagi
kadang mereka harus mengalah sama kendaraan bermotor. Trotoar di Jogja pun
belum semua ramah pada pedestrian.
Ke depannya semoga kegiatan ini rutin diadakan.
Paling nggak tiap Selasa dan nggak harus menunggu khusus di Selasa Wage sampai
bisa bebas kendaraan bermotor 100%.

















