The Unsaid Words

of Rizqi Maulana

Pages

  • Home
  • About Me
  • Contact
  • Gallery
  • Writings
Akhirnya ke JAFF juga! Setelah tahun lalu telat dapet info untuk pemutaran filmnya dan kesel sendiri karena banyak temen yang bilang bagus-bagus filmya. Berkat info yang bertebaran di media sosial, akhirnya dengan tepat waktu bisa booking beberapa film. Penasaran ke film dari luar Indonesia sih. Karena beberapa film Indonesia udah pernah nonton sebelumnya. Dan...dua film pertama yang saya tonton adalah Nakorn-Sawan dan Parcel. Ada beberapa poin menarik yang saya dapat dari dua film ini. Banyak hal baru yang bisa dipelajari dan...memberi pandangan baru soal film sendiri.


Nakorn-Sawan

Nakorn-Sawan ini semacam gabungan antara film dokumenter dan yang bukan. Kalau di internet banyak disebut film dokudrama. Dokumenternya diambil dari kumpulan-kumpulan video pendek almarhumah ibunya yang meninggal karena sakit dan ayahnya yang bekerja di kebun karet. Bagian dramanya agak fokus ke kisah Aoey yang baru pulang ke Thailand. Bagian drama ini diceritakan saat Aoey dan ayahnya melakukan upacara ke sungai dengan dua biksu dan kenalan atau tetangganya.

sumber: https://we-love-cinema.com/movies/33802-nakorn-sawan/

Bagian dokumenter dan drama ini berjalan paralel dan ada momen dimana tokoh Aoey ini semacam perwujudan si pembuat film dengan waktu setelah ibunya meninggal dunia. Di awal memang saya agak susah untuk dapat inti dari filmnya. Tapi, ketika ada bagian yang membahas soal sekolah film dan master degree, baru ada kejelasan soal film ini. Buat orang lain mungkin ada yang menangkap lebih cepat?

Nakorn-Sawan sih tipe-tipe film yang irit dialog. Banyak diamnya dan cenderung hening. Pengalaman nonton Nakorn-Sawan mirip waktu saya nonton Sekala Niskala. Mungkin karena sedikit dialog tadi, pengambilan gambarnya harus dibuat nggak biasa. Di bagian drama, ada pengambilan gambar yang simple dan kelihatannya raw banget. Saya suka. Dan di bagian dokumenter, itu bener-bener santai. Kaya anak yang ngerekam kedua orang tuanya lagi ngobrol aja. 

Ada review yang bilang kalau film ini sangat terasa unsur meditatifnya. Khususnya tentang kematian. Memang rasanya demikian. Apalagi ketika Ibu si sutradara bilang kalau dia sudah tidak takut mati lagi. Perubahan kondisi sang Ibu dari yang tadinya sehat sampai jadi sakit dan tidak sesegar dulu, terdokumentasikan dan ditampilkan dengan sangat baik. Momen-momen nostalgia tergambar dengan jelas. Salah satu bagian favorit saya adalah waktu sang sutradara bertanya ke Ibunya tentang foto-foto masa kecil, kenangan-kenangan Ibunya sebelum meninggal, ketika keluarga mereka masih utuh.

Sebenarnya tiap nonton film yang minim dialog semacam ini agak takut-takut juga. Kadang malah jadi bosan dan nggak fokus lagi ke cerita. Di beberapa bagian emang agak bikin susah fokus karena sibuk menduga-duga dan pengen cepet-cepet ganti adegan. Apa tipe-tipe film festival emang seperti ini? Mungkin film slow-paced semacam ini nggak bisa dinikmati oleh semua orang. Apalagi yang bosenan. Tapi biasanya justru film kaya gini itu punya makna yang cukup dalam. Walaupun biasanya keselip di ekspresi muka atau gestur si aktornya sih. Itu PR buat saya yang suka gagal fokus dan sering ngalor-ngidul mikir yang lain.

 



Parcel

Kalau film Parcel ini tentang sepasang suami-istri yang sama-sama seorang dokter, Shouvik dan Nandini. Nandini sendiri diceritakan sudah berhenti dari pekerjaannya. Sampai ketika hari ulang tahunnya, Nandini mendapatkan parcel tanpa nama pengirim. Hampir setiap hari parcel-parcel itu datang dan lama-kelamaan membuat hidupnya dan keluarga tidak tenang. Semua saling menduga tentang siapa yang mengirim. Shouvik kemudian menduga sang istri memiliki penguntit atau penggemar rahasia karena parcel-parcel itu berisi foto-foto Nandini. Ada yang diambil belasan tahun lalu, ada juga yang diambil dua hari sebelum parcel itu dikirim.

sumber: https://asianmoviepulse.com/2019/10/film-review-the-parcel-2019-by-indrasis-acharya/

Sepanjang film rasanya kita akan dibuat menduga-duga tentang siapa pengirim parcel itu. Plus motifnya. Tapi, sebelum sampai ke sana (yang nggak bakal sampai juga sebenernya), di film ini ada sisipan-sisipan lain yang makin membuat kita menebak-nebak bagian akhir dari film ini. Isu perselingkuhan paling terasa karena baik Shouvik dan Nandini sama-sama pernah berselingkuh. Nandini kemudian menduga kalau temannya yang merasa punya dendamlah pelakunya, tapi kemudian cerita diarahkan ke kejadian yang berbeda. Nandini akhirnya menghabiskan waktu untuk menduga-duga hingga kesehatannya mental dan fisiknya jadi korban.

Secara pribadi saya suka film yang latar tempatnya dibuat apa adanya. Kalau memang tempatnya kotor dan rusak, ya tunjukkan saja kerusakannya tanpa di-retouch selama itu nggak ngaruh ke cerita ya. Atau kalau memang ada isu atau masalah sosial, politik, dan sebagainya di daerah itu, ya...kasih lihat saja apa adanya. Kondisi rumah sakit yang gedungnya dibuat bapuk, pelayanan jasa yang masih harus suap sana-sini untuk dapet fasilitas dasar, sampai masyarakat yang masih suka ringan tangan dan emosian khususnya, malah bisa buat kita tertarik secara emosional karena di sini pun yang macam itu ada di mana-mana.

Mirip-mirip seperti film A Copy of My Mind-nya Joko Anwar. Kalau di Indonesia masih banyak koruptor yang hidup mewah di penjara, liatin aja. Walaupun yang di ACMM masih nggak seberapa dibanding yang kejadian sebenarnya. Apalagi yang disidak sama Mbak Nana. Kalau di Jakarta masih ada demo dan kerusuhan, kasih liat aja apa adanya. Kalau diolah dengan baik, kondisi-kondisi sosial, politik, dan ekonomi di suatu tempat malah bisa jadi keunikan di sebuah film sendiri yang mungkin negara-negara maju nggak punya.

Film ini mungkin agak panjang ya buat sebagian orang. Tapi, ini beda sama Nakorn-Sawan yang minim dialog dan banyak heningnya. Ada sih beberapa momen yang fokus di musiknya aja. Tapi Parcel ini lebih banyak emosinya. Mulai dari bahagia, bingung, sedih, marah, sampai putus asa. Jadi masih ada dinamikanya buat saya. Tapi ya itu, bikin greget karena kita nggak nyampe-nyampe ke akhir dan di akhir pun nggak dijelaskan secara gamblang siapa si pengirim parcel ini.

Karena pas pemutaran film ada sutradara dan aktor wanitanya, mereka bilang kalau film ini termasuk ke dalam film yang nggak menjelaskan secara eksplisit tentang ceritanya ke penonton (keliatan sih). Jadi itu terserah penonton untuk menginterpretasikan si parcel tadi. Apakah itu perumpamaan? Mungkin. Menebak siapa pelakunya, silakan saja. Banyak diskusi atau teori yang bisa muncul dari proses kita menerjemahkan apa pun di film ini. Bagaimana kondisi di Kolkata yang masih agak berantakan, sistem kerja medis, sampai ke pemerataan akses kesehatan pun rasanya bisa dibahas buat yang ingin lebih kenal dengan Bengali Cinema ini.

Tapi, kalau sudah di tahap menginterpretasikan sebuah karya seni, ya jangan pernah berusaha menentukan mana benar-salah atau baik-buruknya. Karena kalau sudah ada label salah-benar, berarti ada kemungkinan kalau pandangan kita bisa aja salah. Lebih baik dinikmati aja. Perbedaan pendapat atau interpretasi tadi juga hal yang lumrah karena proses berpikir kita kan berbeda-beda.

n.b. Musik pembukanya manis banget!
n.b.b. Selamat memasuki usia ke-100 tahun untuk industri film Bengali! Keren ya bisa sustain sampai selama itu.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
The view

Jogja dan seni memang sudah tak bisa dipisahkan. Banyak karya seniman-seniman yang dipamerkan, dan beberapa malah sudah jadi agenda rutin tahunan. Animo masyarakat yang didominasi anak muda juga cukup memuaskan dan menandakan masih banyak yang tertarik dengan pameran seni lukis dan instalasi. Khusus di akhir bulan Juni hingga sekitar penghujung Agustus, ada banyak pameran yang diadakan dengan tema dan media yang berbeda. Lima dari sekian banyak pameran seni berhasil saya kunjungi dalam waktu lima jam saja, dan semuanya tidak memungut biaya masuk. Kelima pameran ini sukses memberikan pandangan baru dan berbeda tentang seni yang selama ini tidak saya ketahui dan dalami.

1. Bebas
Pameran ini diselenggarakan di Jogja Gallery yang berada di dekat Alun-alun Utara (Altar) Yogyakarta. Kalau kita sudah sampai di sekitar Altar, bangunan ini sangat mencolok karena di depannya dipasangi kepingan-kepingan seng yang dibuat seperti dinding yang cukup tinggi. Untuk parkir bisa di trotoar depannya dan berbagi lahan dengan Dagadu.

Kerajinan di pameran bebas ini didominasi oleh seni lukis yang tersebar di dua lantai. Walaupun ada juga instalasi-instalasi di beberapa titik. Ketika saya datang, suasananya sangat sangat sepi. Hanya ada panitia dan saya serta teman di dalamnya. Cukup menguntungkan karena saya tidak terganggu oleh keramaian dan bisa berlama-lama mengamati karya di sana.

Ketika berada di dalam, saya banyak berhenti di beberapa karya seni karena banyak yang sulit saya pahami. Sebagai orang yang tidak begitu paham dengan seni, karya-karya yang cenderung abstrak dan perlu ditelaah mendalam memang jadi pekerjaan rumah. Interpretasi si seniman dengan penikmat tentu pasti berbeda. Memang ketika mebahas tentang seni, salah-benar dan kebakuan interpreatasi tidak berlaku sama sekali, semua tergantung cara pandang dan pola pikir yang menyaksikan. Walaupun begitu, saya tetap menikmati keliling-keliling di sana.

2. Sumonar Fest
Awalnya, Sumonar Fest seharusnya menjadi pemberhentian pertama kami sebab hari Senin itu adalah hari terakhirnya. Namun karena kurangnya informasi, saya datang terlalu pagi pameran cahayanya belum dimulai. Haluan pun berubah ke Pameran Bebas lebih dulu. Letak yang saling berdekatan menjadi alasan mengapa.

The pictures

Saya tidak tahu apa-apa tentang pameran ini, tapi begitu datang ke sana yang kedua kali, langsung disambut dengan permainan video mapping di tangga saat hendak naik ke lantai dua. Di Loop Station ini tidak begitu banyak yang di pamerkan, tetapi karena memang jarang ada yang seperti ini, banyak momen yang terabadikan.

Pameran video mapping seperti ini memang lebih mudah dinikmati dan disaksikan. Permainan cahaya dan permainan komposisi gambar, walaupun kelihatan mudah, tapi pasti butuh kreativitas dan uji coba yang panjang. Itu kalau saya yang coba buat.

3. Celebration of Compassion
Tempat ekshibisi karya seni ini dekat sekali dengan kos saya. Hampir setiap hari saya lewat jalan ini karena memang cukup strategis dan ramai tempat makan. Bangunannya ini baru diresmikan beberapa minggu sebelumnya, saya tidak tahu kalau ini juga jadi tempat pameran seni. Tirtodipuran Link namanya.

Datang dan melihat-lihat lukisan di sini membawa kesan dan perasaan berbeda dengan yang sebelumnya. Suasana di sini, walaupun sama-sama tidak ramai, lebih cerah karena bentuk bangunannya yang berjendela cukup besar-besar sehingga banyak cahaya alami yang masuk. Selain itu, pemilihan warna mayoritas putih juga mempercerah ruangan yang memang besar dan luas. Mungkin anak sekarang akan bilang, “Tempatnya Instagramable banget!”
Dari segi lukisannya pun tidak seabstrak di pameran Bebas. Meskipun saya masih perlu menelaah di beberapa gambar. Cuma, di sini ada satu karya seni yang lebih interaktif. Di salah satu ruangan, ada lima lukisan yang visualnya bisa berubah jika sumber cahaya diubah. Lima lukisan itu, sepertinya terinspirasi dari beberapa pelukis: Van Gogh; Affandi; Pablo Picasso; dan Sudjojono.

Jadi, cara kerja ruangan ini adalah dengan mengganti pencahayaan: penerangan dengan lampu biasa; dengan sinar UV; lalu tanpa penerangan alias gelap gulita. Di setiap penggantian, kelima gambar yang ada di sana kemudian berganti-ganti. Saya tidak tahu bagaimana caranya dan tidak mau pusing-pusing juga untuk mengamati bagaimana karyanya bisa jadi sedemikian rupa. Datang dan menikmati saja sudah lebih dari cukup.

Pengalaman dan pemahaman baru ini menambah pemahaman saya tentang seni. Media apapun ternyata bisa digunakan dan, kembali lagi, tidak ada patokan baku soal bagaimana seharusnya seni disampaikan. Semua yang ada di sekitar bisa jadi penyalur jiwa seni kita.

4. Ora Saru
Ini… pameran yang temanya paling nggak biasa. Karya-karya seni di sini mengangkat tema yang berkaitan dengan seksualitas yang jarang dibicarakan dan dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari. Datang ke sini terasa menguji pemahaman dan kedewasaan saya dalam membahas masalah seksualitas. Saya berusaha untuk tidak risih dan tetap bersikap biasa saja,  karena memang seperti itulah seharusnya.

Dalam memandang masalah seksualitas, baik dari aspek biologis (reproduksi, pembuahan, hubungan seks, hingga masturbasi) maupun aspek sosial yang melibatkan masyarakat luas (pelecehan, tekanan psikis) hingga kebebasan berekspresi melalui penampilan seharusnya tidak menimbulkan masalah besar. Semua ada di pikiran kita saja. Apakah isi otak kita hanya hal-hal yang berbau seks? Atau kita sudah cukup dewasa dalam memahami bahwa sesungguhnya anggota tubuh orang lain bukanlah objek bagi kita sebagaimana anggota tubuh kita bukan objek bagi orang lain.

Isu seperti ini memang menarik dan bisa membuka banyak percakapan karena banyak lapisan-lapisan yang kita tidak sadari saling terhubung dan berada di bawah payung yang sama: seksualitas. Penyelenggaraan acara seperti ini membuka jalan bagi pengunjung untuk berani berdiskusi dan (seharusnya) merasa nyaman dengan tubuh sendiri.

                                                 5. Biennale
Pertama kali dengar tentang Biennale di Jogja itu tahun 2017. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya datang ke Jogja National Museum bersama beberapa teman. Biennale kemudian ada lagi di tahun 2019 (karena acaranya memang dua tahunan), tempatnya di Gedung PKKH UGM. Yang saya suka dari sini adalah banyak karya yang interaktif. Bisa dibilang dari lima pameran, ini yang paling berbeda.

Yang saya suka adalah bagian kumpulan foto-foto yang dijadikan sebuah gunungan. Kurang sempat mendalami lebih dalam, tapi memang menarik ketika dilihat. Ada juga instalasi berbentuk telepon-telepon kaleng yang isinya berbeda-beda. Sepertinya memutarkan cerita-cerita orang-orang yang kemudian dikurasi.

Omong-omong, walaupun tempatnya strategis dan masuknya pun gratis, di sini masih kurang ramai pengunjung. Atau setidaknya tidak seramai waktu dua tahun lalu. Kurang tahu apakah karena memang sudah berlangsung beberapa hari, jadi sudah lewat peak time-nya, atau memang banyak yang belum tahu saja.






Kadang kita memang perlu datang ke tempat-tempat seperti ini. Di luar dari keuntungan karena bisa hemat uang, melihat karya seni juga bisa jadi obat bagi mata agar bisa melihat banyak warna dan bentuk yang tidak biasa. Kita dibawa berpikir tentang sebuah karya, dan menemukan banyak hal yang bisa dibahas lebih dalam.

Setiap saya melihat karya seni yang tidak biasa, refleks saya menggeleng-gelengkan kepala saking tidak habis pikirnya. Bagaimana banyak orang di luar sana yang punya daya imajinasi, kreativitas, dan keterampilan yang besar. Membuat  iri memang. Namun, datang dan menyaksikan sebuah pameran saja sudah lebih dari cukup untuk saya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Bachelor of political science.

recent posts

Labels

  • #RzBaca
  • #RzMain
  • #RzNonton
  • #RzNulis
  • Buku
  • Cerita
  • Drakor
  • Film
  • gaya hidup
  • Gender
  • Islam
  • Jalan-jalan
  • Jogja
  • Kerja
  • KKN
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Minimalisme
  • Myself
  • Resensi
  • Seni
  • Zero Waste

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  November (1)
      • Coba-coba Kursus Online
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates