The Unsaid Words

of Rizqi Maulana

Pages

  • Home
  • About Me
  • Contact
  • Gallery
  • Writings

Pandemi gini emang bikin tingkat kebosenan meningkat tajam. Mau ke mana-mana ribet, jalan-jalan banyak surat ini-itu. Terus, yang selalu muncul di otak adalah pertanyaan, "NGAPAIN YA INI ENAKNYAAA???" Itu terus. Saking nggak ada kerjaan dan kegiatan yang menarik sekaligus bebas ribet. Akhirnya, dengan modal riset via Google dan beberapa thread di Twitter, nemulah satu kegiatan yang menarik perhatian dan bermanfaat bagi otak dan skill yang di sini-sini aja: ikut kursus online! Nah, buat rekaman pribadi dan sedikit berbagi info, ini ada beberapa kursus online yang saya ikuti.

  1. First Step Korean

Kursus Bahasa Korea Dasar ini bisa diakses di Coursera. Kita belajar Bahasa Korea dari dasar banget. Mulai dari sejarah Bahasa Korea, alfabet-alfabetnya, sampai ke penekanan pengucapan. Instrukturnya ini dari Yonsei University dan penyampaiannya menggunakan Bahasa Inggris.

Di kursus ini kita akan belajar selama lima minggu dengan beberapa modul yang berbeda tiap minggunya. Jangan sampai terlewat kalau di tiap modul ada ujian singkat soal materi sebelumnya. Juga, nanti ada ujian yang menyeluruh gabungan dari semua modul di akhir minggu.

Enaknya adalah, kursus ini sifatnya self-paced. Kita bisa mutar video materinya kapan pun selama masa kursus masih berlangsung. Cuma, yang harus diingat kalau ada batas tanggal ujian per minggu. Jadi dalam seminggu bisa dibagi ke beberapa hari, atau mau dikebut sekali duduk pun bisa! Tambahan  lagi, Coursera ada aplikasinya di Playstore atau Applestore, buat yang nggak bisa ngikutin sambil duduk atau nggak ada akses ke PC atau laptop bisa ngikutin lewat ponselnya masing-masing.

Oh, kalau kita cuma mau dengerin materinya ini gratis. Kita bisa langsung daftar dan lihat semua materinya. Nanti di akhir kursus kalau kita lulus ujian--batas bawahnya 70%--bisa dapat sertifikat dengan bayar sekitar $49. Bayarnya sih pakai kartu kredit ya.

    2. Adobe Photoshop untuk Pemula


Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, skill yang saya punya itu masih di sini-sini aja. Rasanya perlu deh keep up dengan standar skill yang ada di pasaran. Banyak banget dicari orang-orang yang punya kemampuan desain untuk bagian promosi. Awalnya mau coba ikut kelas desain di lembaga pelatihan, tapi karena terbentur pandemi jadi mau ikut kelas yang bertemu banyak orang jadi mikir-mikir lagi. Sampailah pada saat yang dinanti-nanti, saya memilih kursus online di Udemy ini.

Sistem belajarnya sama kaya kursus-kursus online lainnya. Sifatnya tentu self-paced jadi kita nggak terburu-buru. Di dalamnya ada beberapa modul dan dibagi ke beberapa jenis materi sesuai tool di Photoshop.

Kalau di Coursera kita baru bayar kalau mau ambil sertifikatnya, di sini kita harus bayar di awal buat ikut kelas dan akses semua fiturnya. Plus, nanti di akhir kelas ada sertifikat menunjukkan kalau kita udah ikut kelas ini dari awal sampai akhir.


3. Pengenalan Cara Berpikir Kreatif


Nah...nah...nah... Ini kursus ini penting banget karena saya jadi tahu seluk-beluk teori berpikir kreatif. Kursus ini diakses di IndonesiaX dan di sini juga banyak kursus lain yang nggak kalah menarik. Di sini ada kursus tentang post-disruption, ekonomi, politik, dunia digital, sampai ke ilmu soal siaran radio. Jadi buat yang mau cari ilmu baru, bisa banget meluncur ke IndonesiaX. Plus di sini kita bisa dapat sertifikat dengan bayar sekitar Rp150.000. Cuma ada syaratnya, di ujian akhir kita harus dapat skor minimal 70%.

Lebih spesifik soal kursus Berpikir Kreatif ini, kita bakal belajar soal dasar-dasar ilmu berpikir kreatif. Sejarah dari perkembangan soal kondisi ini, mulai dari First Wave sampai ke Era Digital zaman sekarang. Pendekatan psikis juga dibahas, lho, di sini. Bagaimana kondisi mental dan fisik yang ideal bisa membuat kita jadi kreatif dan berpikir out of the box! Pembahasan soal berpikir kreatif ini cukup dalam juga. Bagaimana kita bisa ambil laba sampai apa-apa saja yang harus kita sadari dan persiapkan ketika mau membisniskan produk kreatif kita. 

Tipe kursus online alias daring macam ini emang bisa dilakukan bertahap dan nggak perlu selesai sekaligus. Ada yang sifatnya self-paced, ada juga yang diatur tiap seminggu. Pokoknya bisa diatur sesuai kebutuhan dan kondisi kita.

Masa pandemi ini emang bikin kita kesel. Setahun ini rasanya terbuang sia-sia aja gitu. Nah, daripada 2020 kelewat tanpa ada ilmu yang nyantol, mending kita ikut kursus online. Banyak yang gratis, banyak yang bisa disesuaikan sama kondisi kita. Bisa banget buat yang butuh asupan ilmu baru, jadi di 2021 kita bisa punya bekal buat berkembang dari segi skill.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ada dua buku yang mengenalkan saya dengan minimalisme. Buku pertama, adalah Life-changing Magic of Tidying Up dari Marie Kondo, yang sudah dibuat serialnya di Netflix. Lalu, buku kedua adalah Goodbye, Things dari Fumio Sasaki. Kedua buku itu membawa dua sudut pandang baru yang ujungnya bermuara ke satu titik: Hidup dengan sedikit barang membuat kita lebih bahagia. Cuma, dalam proses membaca kedua buku ini, ada satu hal yang bisa dikomparasi. Komparasi ini yang saya rasa bisa menjadi perbandingan untuk mereka yang mau hidup dengan sedikit barang.

            Kalau kita membaca buku Marie Kondo di atas, ada satu pegangan yang selau diulang-ulang: simpan barang yang membuat kita merasa bahagia. Atau bahasa lainnya, barang yang sparks joy. Inti dari mengurangi barang cara Marie Kondo adalah supaya kita membuang benda-benda yang tidak membuat kita bahagia sama sekali. Jadi di akhir proses decluttering hanya akan ada barang yang membahagiakan kita.

            Dalam proses membuang barang-barang, Marie Kondo selalu menggunakan pendekatan yang sangat personal. Semua benda kita pegang satu per satu, lalu adanya perasaan bahagia atau tidak saat kita menyentuh barang itu yang menentukan. Jika kita merasa bahagia saat menyentuh barang, maka barang itu disimpan. Jika tidak, jangan lupa ucapkan terima kasih atas kerja si barang yang sudah menjalankan fungsinya dengan baik. Oh, di serial (dan di buku pun) Tidying Up with Marie Kondo di Netflix diperlihatkan kalau tiap akan memulai proses decluttering Marie Kondo selalu menyapa rumah. Seolah memang rumah dan barang itu memiliki nyawa dan perasaan.

            Beralih ke bukunya Fumio Sasaki, ‘Goodbye, Things’, yang sering disebut buku gaya hidup minimalisme ekstrem. Kalau Marie Kondo masih memiliki kriteria lanjutan soal barang yang harus disimpan, Fumio Sasaki tidak punya. Di bagian tengah buku, Fumio Sasaki mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengurangi barang adalah dengan membuang semua barang walaupun itu membawa kebahagiaan. Pendekatan ini yang berbeda jauh dengan cara Marie Kondo. Tidak heran kalau label ‘Minimalis ekstrem’ diberikan bagi Sasaki.

            Sebagai orang yang masih di tahap awal mengurangi barang, kadang-kadang kedua cara di atas membuat seolah-olah ada dua jalan bercabang yang harus dipilih. Memang, ketika kita sudah tahu bahwa dua jalan itu akan menuju ke ujung yang sama, ada rasa tenang yang datang. Setidaknya kita tidak perlu khawatir atau meragukan masa depan dan hasil dari semua proses yang akan dan sudah kita lalui. Namun, memilih jalur mana yang akan ditempuh juga tidak bisa asal-asalan. Perlu pemikiran yang serius soal bagaimana cara yang menurut kita terbaik. Tentu ini kembali ke kesiapan kita sendiri. Apakah akan memilih jalan yang ekstrem yang memberikan hasil cepat atau jalan yang perlahan-lahan tapi mungkin akan membuat kita banyak berpikir soal barang yang ada?

            Seiring proses mengurangi barang ini, ada satu hal lain yang tiba-tiba muncul di pikiran: proses menuju hidup minimalis ini tidak hanya soal hidup dengan sedikit barang dan mengetahui semua yang kita punya, tapi juga proses untuk mengenali diri sendiri. Dalam perjalanannya, proses memilih satu di antara dua cara itu membuat saya banyak berpikir dan menarik kesimpulan soal kepribadian diri. Apakah saya tipe orang yang langsung bertindak atau berpikir dua-tiga kali. Untuk soal minimalisme ini mungkin tidak ada salah-benar, tapi soal lain belum tentu.

            Ada satu momen di mana saya melakuka decluttering dengan satu cara di satu waktu, lalu di waktu yang lain menggunakan cara lainnya. Ternyata, di perjalanannya saya sering merasa salah dan ‘menyesal’ karena memilih untuk membuang barang. Satu hal yang saya luput dari penjelasan Fumio Sasaki dan Marie Kondo adalah saya lupa soal kepentingan barang. Karena terlalu tergesa-gesa kadang saya langsung membuang semua. Sampai di satu momen saya baru sadar kalau saya butuh barang itu dan cukup sering. Atau ketika saya insting saya masih belum terlatih soal mana yang menimbulkan kebahagian mana yang tidak. Terlalu lama berpikir juga membuat saya menyimpan barang yang, tidak hanya saya tidak butuhkan, tapi juga tidak sparks joy sama sekali. Biasanya ini karena saya terlalu lama memegang dan memasukan memori saya soal barang itu.

            Proses membuang barang yang berlangsung lama dan menggunakan dua pendekatan ini memunculkan sebuah hipotesa pribadi soal pertanyaan saya: Menentukan soal mana cara yang lebih baik harus dilakukan secara bertahap. Bukan soal cepat-lambatnya membuang barang tapi tentang mana yang lebih sesuai. Mungkin untuk yang masih lajang, seperti Fumio Sasaki, membuang semua koleksi akan bisa dilakukan lebih cepat. Tapi apakah mereka yang sudah berkeluarga bisa melakukan hal itu? Belum tentu. Ada proses yang sangat privat dan personal soal memilih ini. Jadi tidak bisa menarik kesimpulan bahwa satu cara ini cocok untuk semua.

            Jadi satu hal yang saya rasa cukup penting adalah...untuk tidak menggunakan standar kita pada orang lain. Memilih cara mengeliminasi benda di rumah bagi satu orang tidak akan cocok untuk orang lain. Silakan pilih cara Sasaki atau Marie Kondo, lalu rasakan apa yang terjadi. Jika kasusnya seperti saya yang ada rasa menyesal, maka bisa kurangi kecepatan prosesnya dan berpikir lebih matang. Tapi jika cara yang dipilih sudah pas maka tidak ada masalah. Hanya, yang masih sering terlupa adalah soal perbedaan proses bagi setiap individu. Satu pendekatan yang cocok bagi kita belum tentu cocok bagi yang lain. Tidak seharusnya ada pemaksaan dan tidak ada yang harus merasa terpaksa.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
sumber: https://www.gatra.com/

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, film keluarga yang berhasil mengetuk pintu memori masa kecil ya. Memori yang membuat tersenyum manis maupun memori yang dipilih untuk dilupakan. Pengalaman saat dan setelah menonton film ini begitu membekas dan tentu saja berkesan.

Dinamika keluarga Narendra dengan isteri dan tiga anaknya, membuka fakta bahwa yang dirasa baik menurut kita belum tentu cocok untuk orang lain. Dalam kasus ini, keputusan seorang ayahlah yang jadi akar permasalahan.

Ketiga anaknya, Angkasa, Aurora, dan Awan, mereka datang dengan cita-cita berbeda dan masalah yang lebih memilih dipendam tak disuarakan.

Angkasa, anak laki-laki tertua dan satu-satunya harus tumbuh besar dengan kewajiban menjaga adik-adik perempuannya. Kewajiban ini membuat dia mengesampingkan keinginannya. Masalah keluarga selalu berhasil masuk ke ranah pribadinya.

Aurora, anak tengah yang sulit terbaca. Anak yang nyeni dan menggunakan studio sebagai tempat pelarian dari hiruk-pikuk keluarganya. Dia merasa sudah lama keluarganya kehilangan dirinya.

Awan, si anak bontot yang sedari dulu tidak pernah bisa memilih keputusannya tanpa lepas dari bayang-bayang ayahnya. Arsitek muda yang ingin mencoba hal-hal baru meski harus berhadapan dengan ayahnya yang murka di ruang tamu.

NKCTHI menjadi film yang membuat saya belajar memahami manusia dengan masalahnya. Selalu ada pertarungan yang mereka hadapi. Diamnya seseorang, penurutnya seseorang, bahkan cerianya seseorang selalu punya cerita di baliknya.

Tokoh-tokoh di sini dibuat memiliki sisi kerapuhan. Ayah yang dalam budaya kita digambarkan sebagai sosok yang kuat dan pantang terlihat rapuh di depan siapa pun, ditunjukkan sisi lemahnya ketika menangis seorang diri. Semakin akhir membuat saya sulit untuk membenci sang Ayah sepenuhnya. Walaupun masalah-masalah ini muncul karena dirinya yang otoriter, adegan-adegan dalam film justru menunjukkan ketidaksempurnaan dan sisi lemahnya.

Film ini diiringi oleh musik-musik yang sangat mendukung cerita. Rehat-nya Kunto Aji dan Untuk Hati yang Terluka dari Isyana Sarasvati sangat menonjol di bagian penting film ini. Live music dari band-band yang ada dan permainan Piano Kale juga membuat film ini lebih bersuara dan ramai...in a good way.

Narasi Awan dan Rehat dari Kunto Aji yang tumpang tindih di awal film, ditambah dengan visual pesawat kertas, awan, dan langit sedikit membuat saya kewalahan. Sebagai manusia yang mudah terdistraksi, momen ini membuat konsentrasi saya agak terbagi. Mata ingin fokus ke terbangnya si pesawat, telinga ingin fokus mendengarkan pikiran Awan, tapi mulut ingin berkaraoke. Hehehe.

Ada hal yang sedikit kurang pas menurut saya di beberapa bagian. Cukup terlihat, tapi masih mudah dilupakan. Walaupun sempat membuat saya sedikit bingung.

Di tengah film, pikiran saya sempat menerawang ke mana-mana ketika intensitas emosi di film semakin meningkat dan para karakter siap meledak dalam keluarga ini. Menduga-duga tentang rahasia yang selama ini sengaja ditutup-tutupi. Tentang masa lalu Awan, rahasia yang disimpan Narendra dan diamnya si Ibu. Takut akan dibuat klise seperti drama lain, ternyata fakta yang ditampilkan syukurnya berbeda.

Nilai plus dari film ini menurut saya pribadi setelah meresapi dan berbagi cerita di luar teater adalah soal intensitas film ini. Penempatan konflik dan bagian yang membuat mata berkaca-kaca disebar di sepanjang film dan tidak difokuskan di bagian akhir seperti kebanyakan drama lain. Sukses membuat saya susah untuk mengambil nafas karena selalu ada bagian yang menegangkan setelah dibawa bersenang-senang sebelumnya.

Sedikit membandingkan dengan film yang beberapa waktu lalu saya tonton, 'Kim Ji-Young, Born 1982', yang menyimpan bagian sedih di setengah akhir film. Meski sama-sama sukses membuat mata berkaca-kaca, tetapi perasaan restless dan rasa intensnya berbeda. NKCTHI lebih menyesakkan. Walaupun ada variabel lain yang mungkin memengaruhi, tapi menurut saya ini yang paling mencolok.

Selain itu, NKCTHI adalah film kedua yang menampilkan wajah baru Jakarta yang metropolitan. Film pertama adalah A Copy of My Mind. Ketika tiga bersaudara saling berbincang di atap gedung, lalu ada kereta (atau KRL?) yang melaju, entah mengapa gambar itu sangat-sangat indah. Sangat sederhana. Hanya ada Angkasa, Aurora, dan Awan. Sinar matahari yang menguning dan akan tenggelam, suara kereta dan rel yang beradu, atap sebuah gedung dan pencakar-pencakar langit yang menjadi latar sukses membuat lansekap yang sangat membekas. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sumber: https://www.cgv.id/en/movies/info/19011500/2019-12-16

Setelah gagal nonton Kucumbu Tubuh Indahku karena diboikot dan akhirnya langsung turun layar, kesempatan nonton film ini datang juga. CGV nayangin film ini yang awalnya hanya tanggal 15 dan 17 Desember tapi kayanya sih diperpanjang.

Penayangan kembali film ini emang kesempatan emas sih. Mungkin karena ada hype Kucumbu Tubuh Indahku yang terbangun setelah film ini menyabet banyak penghargaan di Festival Film Indonesia 2019, termasuk Aktor Pria Terbaik dan Film Panjang Terbaik.

Pas keluar teater banyak waktu yang saya habiskan untuk mikir dan mencerna adegan-adegan di film ini. Masih terbayang pengalaman yang bikin saya takjub, jijik, ketawa, dan fokus ke layar. Sebenernya sih ini film yang cukup mudah untuk diikuti, karena ceritanya tentang Wahyu Juno, seorang penari Lengger yang tumbuh besar dikelilingi kemalangan walaupun banyak yang bilang dia itu punya kelebihan di tubuhnya. Lentur, tenang, dan halus. Mirip Arjuna.

Terlepas dari tema dan penggambaran yang mungkin sedikit mengusik sebagian orang, film ini menurutku manis banget. Selain manis, film ini juga berani. Satu adegan di mana seorang perempuan digambarkan berani untuk memulai dan malah laki-laki yang takut-takut. Sedikit nudity ada di beberapa bagian dan adegan nggak biasa baik antara laki-laki dan perempuan, sesama perempuan, maupun sesama laki-laki tersebar di sana-sini.

Datang nonton film ini memang harus dengan pikiran damai dan tenang. Cukup sering sewaktu di dalam teater saya denger komentar, “What the hell...,” atau “Anjir, apaan sih kok kayak gini.” Mungkin masih belum terbiasa? Mungkin. Nikmati aja dinamikanya yang memang cukup naik-turun. Kalau hidup Juno kecil bakal bikin kita sedih dan ketawa tipis-tipis, ketika Juno dewasa bakal lebih kompleks dan banyak aspek yang masuk.

Unsur budaya, seni, dan seksualitas memang cukup banyak porsi di sini. Nggak ada yang mendominasi sih menurutku. Justru di akhir ketika mulai ada masalah politik bikin semakin keren.

Tentang bagaimana posisi tinggi di pemerintahan dan pandangan masyarakat dianggap jauh lebih penting dari kebahagiaan dan jati diri jadi satu momen yang paling mengena sih. Bagaimana banyak orang harus menutupi hal-hal yang membuat mereka bahagia hanya karena takut oleh tekanan masyarakat dan sistem yang ada mungkin bisa dirasakan oleh kita semua.

Kucumbu Tubuh Indahku nggak termasuk film yang slow-paced menurutku. Penempatan monolog Juno yang disisipkan beberapa kali semacam momen untuk tenang setelah adegan-adegan panjang. Dan...tariannya keren gila! Penjelasan tentang bagaimana alam adalah guru bagi manusia bisa jadi bahan renungan kita untuk nggak bersikap kasar pada alam.

Banyak banget takeaway dan insight baru. Buat yang nggak tahu apa itu kesenian Lengger, ini awal yang bagus buat kita cari tahu lebih dalam lagi. Ternyata budaya tradisional Indonesia sudah sedemikian maju tetapi malah seolah ditahan dan dibuat mati karena alasan “moralitas”. Gagal paham saya.

Satu hal yang makin membuat film ini keren adalah....soal menyembuhkan trauma. Juno memang hidup dengan merasakan trauma pada darah. Karena pengalamannya soal darah di waktu kecil memang cukup mengguncang mental anak kecil. Gimana dia nggak suka ada pertumpahan darah dan orang-orang di sekitarnya justru membuat dia terbayang-bayang lagi trauma masa kecilnya. “Darah neng endi-endi.”

Isu trauma ini juga bisa banget disangkutpautkan sama politik, khususnya tentang ’65 dan perang melawan komunisnya. Ayah Juno...trauma pada sungai karena keluarganya dituduh antek PKI. Padahal bukan dan nggak ada hubungannya sama sekali. Kenapa trauma sungai? Ada penjelasannya di film.

Ngomong-ngomong soal komunis, mungkin keresahan yang diangkat dalam film ini adalah soal penyebaran fitnah kepada lawan politik atau orang lain dengan embel-embel “komunis baru”. Beberapa tahun belakangan sering kan denger dan lihat di berita? Isu komunis bangkit, seorang tokoh di-framing sebagai keturunan komunis, atau satu figur publik ‘diduga’ mendukung komunis. Kadang isu-isu macam ini cuma bikin gaduh aja sih.

The bigger picture dari film ini adalah bukan soal LGBT seperti yang digaungkan para pemboikot. Hal yang bisa saya tangkep sih ada beberapa: seksualitas (tentunya); trauma healing; hubungan manusia dengan alam; sampai kondisi sosial, budaya, dan politik.

Masih ada berbagai hal yang menarik perhatian tapi bingung gimana ceritanya. Pokoknya Kucumbu Tubuh Indahku jadi salah satu film penting yang saya tonton tahun ini. Nggak cuma buat cerita yang menarik, tapi juga bisa bikin kita merenungi banyak hal. Keren.

Untuk informasi lebih lanjut:
Diskusi dengan Garin Nugroho, Sudjiwo Tejo, dan Gina S. Noor di acara Rosi Kompas TV
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
sumber: https://celebrity.okezone.com/
Setelah sempet tertunda, akhirnya bisa juga nonton Kim Ji-Young, Born 1982. Sebuah film dari Korea Selatan yang kayanya niat banget buat mengangkat isu tentang kesetaraan gender dan kondisi perempuan di sana. Diadaptasi dari buku berjudul sama, film ini diperankan oleh Jung Yu-Mi dan Gong Yoo, di mana mereka jadi sepasang suami-istri dan orang tua muda yang punya anak perempuan super lucu. Banyak dinamika dan konflik yang akhirnya bermunculan satu demi satu sepanjang film.

Masalah dari film ini bukan hanya soal urusan pernikahan dan segala remeh-temehnya. Tapi soal Ji Young yang mengalami depresi karena banyak hal. Penyebab depresinya pun banyak banget, dan masih terjadi di mana-mana sampai sekarang, apalagi di Asia sepertinya. Tekanan keluarga, sifat ibu mertua, pengalaman waktu dia kecil, dan tekanan yang dia dapat “karena dia seorang perempuan”.

*bocoran adegan dimulai dari....sekarang*

Kim Ji-Young, Born 1982 ini film drama yang sebenernya sangat sederhana. Kekuatannya menurutku ada di isu yang diangkat dan dari akting para pemain. Nggak ada special effect, musik pun dibuat syahdu dan nggak overpowering, pengambilan gambar pun sama dengan film drama keluarga pada umumnya. Tapi, akting Gong Yoo, Jung Yu-Mi, dan semua pemain lain memang mantap!

Jung Yu-Mi yang memainkan karakter yang sedang depresi berhasil akting dua kepribadian yang berbeda. Waktu dia jadi Kim Ji-Young yang normal dan waktu dia jadi orang lain, itu dua karakter yang sangat kontras. Bagian yang paling heartbreaking itu waktu Ji-Young jadi ibunya pas lagi tahun baruan di keluarga suami, dan puncaknya waktu dia jadi neneknya(?) lalu dia ngobrol ke ibunya untuk nggak menyusahkan dirinya sendiri. Wah! Suara isakan mulai muncul di sana-sini. Sedih banget. Apalagi pencahayaannya dibuat remang-remang, jadi saya bisa fokus ke akting pemain-pemainnya.

Selebihnya sih film ini masih sama aja kaya film drama lain. Komedinya pun masih ada dengan cara yang sangat-sangat effortless. Sepanjang film kayanya semua tokoh laki-laki di film ini jadi sumber masalah, selain Babang Gong Yoo si suami idaman nan tampan tentunya.

Kalau ada salah satu karakter favorit, mungkin Ibunya Kim Ji-Young ada di posisi teratas. Penggambaran dia sebagai ibu yang kuat dan lebih berpikiran terbuka dibanding Bapaknya (masih kesel sama dia). Pengalaman masa muda sang Ibu yang membentuk dia. Sewaktu muda harus kerja keras buat biayain keluarga dan kakak-kakak laki-lakinya pada akhirnya buat dia terbiasa hidup keras dan nggak diam diri aja. Ji-Young dan kakak perempuannya juga jadi kaya gitu. Mantap!

Ini seriusan! Ada beberapa bagian di film ini yang bikin emosi banget-banget. Walaupun ini “cuma” film yang diadaptasi dari buku, tapi semuanya masih terjadi dan sepertinya langgeng. Jadi jangan heran kalau women’s march masih ada di mana-mana. Karena ya...mereka masih sering ditekan oleh masyarakat dan sistem gitu lho.

*bocoran adegan bagian II*

Mungkin satu yang paling relatable (padanannya apa sih ya?), adalah waktu Ji-Young dideketin temen laki-lakinya mulai dari halte dia naik sampai turun di dekat rumahnya. Keliatan banget kalau dia nggak nyaman dan takut. Dia sampai dibantu seorang ibu baik hati (yang main di When Camellia Blooms) sampai dia nangis-nangis di pinggir jalan. And you know what... waktu Bapaknya datang dan jalan bareng ke rumah, dia malah terang-terangan nyalahin seragamnya si anak yang katanya kependekan. Hellow... *facepalm*. Itu mungkin masih diperdebatkan ya. Tapi, menurutku aneh aja. Bahkan di 2019 ini pun masih ada yang menyalahkan cara berpakaian perempuan.

sumber: https://www.imdb.com/title/tt11052808/
Film ini diangkat dari buku kan ya. Kalau baca-baca di berita sih, banyak yang kontra dengan buku dan film ini. Kurang lebih karena budaya patriarki masih langgeng di sana. Yah, di sini juga sama aja. Bahkan katanya ada crowdfunding untuk cerita lain yang berusaha lawan diskriminasi buat laki-laki. Tapi, pro-kontra soal karya seni sih bukan hal baru juga. Menarik juga sebenernya. Ternyata banyak yang bisa ter-trigger hanya karena karya kreatif seperti buku dan film. Mungkin interpretasi terhadap karya itu sendiri kali ya?

Kalau lihat gambaran yang lebih luas lagi, film ini menurutku nggak hanya menunjukkan soal betapa perempuan masih belum ada di level yang sama dengan laki-laki, khususnya di luar urusan rumah tangga dan tetek bengeknya. Hal yang paling dasar adalah keadaan ketika sesama manusia, terlepas dari jenis kelaminnya apa, kadang nggak ada rasa empati terhadap kondisi kesehatan mental seseorang.

Waktu seseorang bilang dia nggak apa-apa, itu mungkin dia menutupi sesuatu yang dirasa terlalu berat dan takut menyusahkan orang lain. Bahkan mungkin mereka nggak tahu apa yang salah dengan diri mereka? Ji-Young yang bekerja keras dan punya akumulasi kekesalan dan perasaan lain yang dipendam selama hidup, rasanya jadi bom waktu dan kondisi depresinya itu jelas bukan sesuatu yang tiba-tiba.

Perasaan depresif yang ada hanya diketahui si suami. Itu pun dia masih clueless soal kenapa-kenapanya. Orang tua Ji-Young yang juga nggak peka soal kondisi anak perempuannya dan percaya kalau dia hanya “capek”. Bibi-bibi dan ibu mertua yang kalau ngomong susah direm dan nggak sadar kalau ucapannya itu menyakiti hati dan kondisi psikologis dia. Malah secara nggak disadari buat perempuan yang sudah depresif makin depresif.

Sure, emang perempuan masih belum dianggap setara dan dilihat sebelah mata dan patriarki masih langgeng. Patriarki pun masih banyak memberikan dampak buruk bagi perempuan. I wholeheartedly agree! Tapi mungkin sekarang ketika kita berusaha melawan itu semua dan menyetarakan level laki-laki dan perempuan, harusnya hal-hal intangible juga perlu diperhatiin. Kadang justru banyak yang saling serang dan nggak peduli waktu bahas soal kesehatan mental. Both men and women. Mungkin dua upaya itu bisa berjalan bersamaan? Bisa kan? Bisa nggak sih?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
The view

Jogja dan seni memang sudah tak bisa dipisahkan. Banyak karya seniman-seniman yang dipamerkan, dan beberapa malah sudah jadi agenda rutin tahunan. Animo masyarakat yang didominasi anak muda juga cukup memuaskan dan menandakan masih banyak yang tertarik dengan pameran seni lukis dan instalasi. Khusus di akhir bulan Juni hingga sekitar penghujung Agustus, ada banyak pameran yang diadakan dengan tema dan media yang berbeda. Lima dari sekian banyak pameran seni berhasil saya kunjungi dalam waktu lima jam saja, dan semuanya tidak memungut biaya masuk. Kelima pameran ini sukses memberikan pandangan baru dan berbeda tentang seni yang selama ini tidak saya ketahui dan dalami.

1. Bebas
Pameran ini diselenggarakan di Jogja Gallery yang berada di dekat Alun-alun Utara (Altar) Yogyakarta. Kalau kita sudah sampai di sekitar Altar, bangunan ini sangat mencolok karena di depannya dipasangi kepingan-kepingan seng yang dibuat seperti dinding yang cukup tinggi. Untuk parkir bisa di trotoar depannya dan berbagi lahan dengan Dagadu.

Kerajinan di pameran bebas ini didominasi oleh seni lukis yang tersebar di dua lantai. Walaupun ada juga instalasi-instalasi di beberapa titik. Ketika saya datang, suasananya sangat sangat sepi. Hanya ada panitia dan saya serta teman di dalamnya. Cukup menguntungkan karena saya tidak terganggu oleh keramaian dan bisa berlama-lama mengamati karya di sana.

Ketika berada di dalam, saya banyak berhenti di beberapa karya seni karena banyak yang sulit saya pahami. Sebagai orang yang tidak begitu paham dengan seni, karya-karya yang cenderung abstrak dan perlu ditelaah mendalam memang jadi pekerjaan rumah. Interpretasi si seniman dengan penikmat tentu pasti berbeda. Memang ketika mebahas tentang seni, salah-benar dan kebakuan interpreatasi tidak berlaku sama sekali, semua tergantung cara pandang dan pola pikir yang menyaksikan. Walaupun begitu, saya tetap menikmati keliling-keliling di sana.

2. Sumonar Fest
Awalnya, Sumonar Fest seharusnya menjadi pemberhentian pertama kami sebab hari Senin itu adalah hari terakhirnya. Namun karena kurangnya informasi, saya datang terlalu pagi pameran cahayanya belum dimulai. Haluan pun berubah ke Pameran Bebas lebih dulu. Letak yang saling berdekatan menjadi alasan mengapa.

The pictures

Saya tidak tahu apa-apa tentang pameran ini, tapi begitu datang ke sana yang kedua kali, langsung disambut dengan permainan video mapping di tangga saat hendak naik ke lantai dua. Di Loop Station ini tidak begitu banyak yang di pamerkan, tetapi karena memang jarang ada yang seperti ini, banyak momen yang terabadikan.

Pameran video mapping seperti ini memang lebih mudah dinikmati dan disaksikan. Permainan cahaya dan permainan komposisi gambar, walaupun kelihatan mudah, tapi pasti butuh kreativitas dan uji coba yang panjang. Itu kalau saya yang coba buat.

3. Celebration of Compassion
Tempat ekshibisi karya seni ini dekat sekali dengan kos saya. Hampir setiap hari saya lewat jalan ini karena memang cukup strategis dan ramai tempat makan. Bangunannya ini baru diresmikan beberapa minggu sebelumnya, saya tidak tahu kalau ini juga jadi tempat pameran seni. Tirtodipuran Link namanya.

Datang dan melihat-lihat lukisan di sini membawa kesan dan perasaan berbeda dengan yang sebelumnya. Suasana di sini, walaupun sama-sama tidak ramai, lebih cerah karena bentuk bangunannya yang berjendela cukup besar-besar sehingga banyak cahaya alami yang masuk. Selain itu, pemilihan warna mayoritas putih juga mempercerah ruangan yang memang besar dan luas. Mungkin anak sekarang akan bilang, “Tempatnya Instagramable banget!”
Dari segi lukisannya pun tidak seabstrak di pameran Bebas. Meskipun saya masih perlu menelaah di beberapa gambar. Cuma, di sini ada satu karya seni yang lebih interaktif. Di salah satu ruangan, ada lima lukisan yang visualnya bisa berubah jika sumber cahaya diubah. Lima lukisan itu, sepertinya terinspirasi dari beberapa pelukis: Van Gogh; Affandi; Pablo Picasso; dan Sudjojono.

Jadi, cara kerja ruangan ini adalah dengan mengganti pencahayaan: penerangan dengan lampu biasa; dengan sinar UV; lalu tanpa penerangan alias gelap gulita. Di setiap penggantian, kelima gambar yang ada di sana kemudian berganti-ganti. Saya tidak tahu bagaimana caranya dan tidak mau pusing-pusing juga untuk mengamati bagaimana karyanya bisa jadi sedemikian rupa. Datang dan menikmati saja sudah lebih dari cukup.

Pengalaman dan pemahaman baru ini menambah pemahaman saya tentang seni. Media apapun ternyata bisa digunakan dan, kembali lagi, tidak ada patokan baku soal bagaimana seharusnya seni disampaikan. Semua yang ada di sekitar bisa jadi penyalur jiwa seni kita.

4. Ora Saru
Ini… pameran yang temanya paling nggak biasa. Karya-karya seni di sini mengangkat tema yang berkaitan dengan seksualitas yang jarang dibicarakan dan dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari. Datang ke sini terasa menguji pemahaman dan kedewasaan saya dalam membahas masalah seksualitas. Saya berusaha untuk tidak risih dan tetap bersikap biasa saja,  karena memang seperti itulah seharusnya.

Dalam memandang masalah seksualitas, baik dari aspek biologis (reproduksi, pembuahan, hubungan seks, hingga masturbasi) maupun aspek sosial yang melibatkan masyarakat luas (pelecehan, tekanan psikis) hingga kebebasan berekspresi melalui penampilan seharusnya tidak menimbulkan masalah besar. Semua ada di pikiran kita saja. Apakah isi otak kita hanya hal-hal yang berbau seks? Atau kita sudah cukup dewasa dalam memahami bahwa sesungguhnya anggota tubuh orang lain bukanlah objek bagi kita sebagaimana anggota tubuh kita bukan objek bagi orang lain.

Isu seperti ini memang menarik dan bisa membuka banyak percakapan karena banyak lapisan-lapisan yang kita tidak sadari saling terhubung dan berada di bawah payung yang sama: seksualitas. Penyelenggaraan acara seperti ini membuka jalan bagi pengunjung untuk berani berdiskusi dan (seharusnya) merasa nyaman dengan tubuh sendiri.

                                                 5. Biennale
Pertama kali dengar tentang Biennale di Jogja itu tahun 2017. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya datang ke Jogja National Museum bersama beberapa teman. Biennale kemudian ada lagi di tahun 2019 (karena acaranya memang dua tahunan), tempatnya di Gedung PKKH UGM. Yang saya suka dari sini adalah banyak karya yang interaktif. Bisa dibilang dari lima pameran, ini yang paling berbeda.

Yang saya suka adalah bagian kumpulan foto-foto yang dijadikan sebuah gunungan. Kurang sempat mendalami lebih dalam, tapi memang menarik ketika dilihat. Ada juga instalasi berbentuk telepon-telepon kaleng yang isinya berbeda-beda. Sepertinya memutarkan cerita-cerita orang-orang yang kemudian dikurasi.

Omong-omong, walaupun tempatnya strategis dan masuknya pun gratis, di sini masih kurang ramai pengunjung. Atau setidaknya tidak seramai waktu dua tahun lalu. Kurang tahu apakah karena memang sudah berlangsung beberapa hari, jadi sudah lewat peak time-nya, atau memang banyak yang belum tahu saja.






Kadang kita memang perlu datang ke tempat-tempat seperti ini. Di luar dari keuntungan karena bisa hemat uang, melihat karya seni juga bisa jadi obat bagi mata agar bisa melihat banyak warna dan bentuk yang tidak biasa. Kita dibawa berpikir tentang sebuah karya, dan menemukan banyak hal yang bisa dibahas lebih dalam.

Setiap saya melihat karya seni yang tidak biasa, refleks saya menggeleng-gelengkan kepala saking tidak habis pikirnya. Bagaimana banyak orang di luar sana yang punya daya imajinasi, kreativitas, dan keterampilan yang besar. Membuat  iri memang. Namun, datang dan menyaksikan sebuah pameran saja sudah lebih dari cukup untuk saya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Bachelor of political science.

recent posts

Labels

  • #RzBaca
  • #RzMain
  • #RzNonton
  • #RzNulis
  • Buku
  • Cerita
  • Drakor
  • Film
  • gaya hidup
  • Gender
  • Islam
  • Jalan-jalan
  • Jogja
  • Kerja
  • KKN
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Minimalisme
  • Myself
  • Resensi
  • Seni
  • Zero Waste

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  November (1)
      • Coba-coba Kursus Online
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates