The Unsaid Words

of Rizqi Maulana

Pages

  • Home
  • About Me
  • Contact
  • Gallery
  • Writings

Pandemi gini emang bikin tingkat kebosenan meningkat tajam. Mau ke mana-mana ribet, jalan-jalan banyak surat ini-itu. Terus, yang selalu muncul di otak adalah pertanyaan, "NGAPAIN YA INI ENAKNYAAA???" Itu terus. Saking nggak ada kerjaan dan kegiatan yang menarik sekaligus bebas ribet. Akhirnya, dengan modal riset via Google dan beberapa thread di Twitter, nemulah satu kegiatan yang menarik perhatian dan bermanfaat bagi otak dan skill yang di sini-sini aja: ikut kursus online! Nah, buat rekaman pribadi dan sedikit berbagi info, ini ada beberapa kursus online yang saya ikuti.

  1. First Step Korean

Kursus Bahasa Korea Dasar ini bisa diakses di Coursera. Kita belajar Bahasa Korea dari dasar banget. Mulai dari sejarah Bahasa Korea, alfabet-alfabetnya, sampai ke penekanan pengucapan. Instrukturnya ini dari Yonsei University dan penyampaiannya menggunakan Bahasa Inggris.

Di kursus ini kita akan belajar selama lima minggu dengan beberapa modul yang berbeda tiap minggunya. Jangan sampai terlewat kalau di tiap modul ada ujian singkat soal materi sebelumnya. Juga, nanti ada ujian yang menyeluruh gabungan dari semua modul di akhir minggu.

Enaknya adalah, kursus ini sifatnya self-paced. Kita bisa mutar video materinya kapan pun selama masa kursus masih berlangsung. Cuma, yang harus diingat kalau ada batas tanggal ujian per minggu. Jadi dalam seminggu bisa dibagi ke beberapa hari, atau mau dikebut sekali duduk pun bisa! Tambahan  lagi, Coursera ada aplikasinya di Playstore atau Applestore, buat yang nggak bisa ngikutin sambil duduk atau nggak ada akses ke PC atau laptop bisa ngikutin lewat ponselnya masing-masing.

Oh, kalau kita cuma mau dengerin materinya ini gratis. Kita bisa langsung daftar dan lihat semua materinya. Nanti di akhir kursus kalau kita lulus ujian--batas bawahnya 70%--bisa dapat sertifikat dengan bayar sekitar $49. Bayarnya sih pakai kartu kredit ya.

    2. Adobe Photoshop untuk Pemula


Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, skill yang saya punya itu masih di sini-sini aja. Rasanya perlu deh keep up dengan standar skill yang ada di pasaran. Banyak banget dicari orang-orang yang punya kemampuan desain untuk bagian promosi. Awalnya mau coba ikut kelas desain di lembaga pelatihan, tapi karena terbentur pandemi jadi mau ikut kelas yang bertemu banyak orang jadi mikir-mikir lagi. Sampailah pada saat yang dinanti-nanti, saya memilih kursus online di Udemy ini.

Sistem belajarnya sama kaya kursus-kursus online lainnya. Sifatnya tentu self-paced jadi kita nggak terburu-buru. Di dalamnya ada beberapa modul dan dibagi ke beberapa jenis materi sesuai tool di Photoshop.

Kalau di Coursera kita baru bayar kalau mau ambil sertifikatnya, di sini kita harus bayar di awal buat ikut kelas dan akses semua fiturnya. Plus, nanti di akhir kelas ada sertifikat menunjukkan kalau kita udah ikut kelas ini dari awal sampai akhir.


3. Pengenalan Cara Berpikir Kreatif


Nah...nah...nah... Ini kursus ini penting banget karena saya jadi tahu seluk-beluk teori berpikir kreatif. Kursus ini diakses di IndonesiaX dan di sini juga banyak kursus lain yang nggak kalah menarik. Di sini ada kursus tentang post-disruption, ekonomi, politik, dunia digital, sampai ke ilmu soal siaran radio. Jadi buat yang mau cari ilmu baru, bisa banget meluncur ke IndonesiaX. Plus di sini kita bisa dapat sertifikat dengan bayar sekitar Rp150.000. Cuma ada syaratnya, di ujian akhir kita harus dapat skor minimal 70%.

Lebih spesifik soal kursus Berpikir Kreatif ini, kita bakal belajar soal dasar-dasar ilmu berpikir kreatif. Sejarah dari perkembangan soal kondisi ini, mulai dari First Wave sampai ke Era Digital zaman sekarang. Pendekatan psikis juga dibahas, lho, di sini. Bagaimana kondisi mental dan fisik yang ideal bisa membuat kita jadi kreatif dan berpikir out of the box! Pembahasan soal berpikir kreatif ini cukup dalam juga. Bagaimana kita bisa ambil laba sampai apa-apa saja yang harus kita sadari dan persiapkan ketika mau membisniskan produk kreatif kita. 

Tipe kursus online alias daring macam ini emang bisa dilakukan bertahap dan nggak perlu selesai sekaligus. Ada yang sifatnya self-paced, ada juga yang diatur tiap seminggu. Pokoknya bisa diatur sesuai kebutuhan dan kondisi kita.

Masa pandemi ini emang bikin kita kesel. Setahun ini rasanya terbuang sia-sia aja gitu. Nah, daripada 2020 kelewat tanpa ada ilmu yang nyantol, mending kita ikut kursus online. Banyak yang gratis, banyak yang bisa disesuaikan sama kondisi kita. Bisa banget buat yang butuh asupan ilmu baru, jadi di 2021 kita bisa punya bekal buat berkembang dari segi skill.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

Pandemi udah mau delapan bulan nih di Indonesia. Ke mana-mana kita pakai masker, bawa masker, hand sanitizer, bahkan nggak salaman. Banyak yang nggak bisa bekerja, banyak yang gulung tikar, sampai berharap masih ada laba pun tidak ada daya. Hanya segelintir yang masih bisa bertahan, bisa dapat gaji bulanan pun sudah terasa bagai mukjizat. Kondisi kita berbeda-beda, tapi kita semua berjuang agar masih bisa hidup dan kewarasan tetap terjaga

Banyak diskusi mengenai pandemi ini. Apakah kita harus mendahulukan kesehatan? Apakah ekonomi? Apakah keduanya bisa berjalan beriringan? Semua berargumen, semua berpendapat. Bukankah semua bisa bebas berbicara? Namun, yang pasti adalah kita harus berpijak pada realita. Melihat sekeliling agar tahu betapa COVID-19 ini telah merusak ekonomi yang dibangun dengan susah payah bersama-sama.

Ada satu pengalaman sederhana yang menunjukkan betapa COVID-19 ini menghancurkan banyak hal yang sudah dibangun perlahan. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi jalan-jalan ke Situ Mustika di Kota Banjar. Wisata yang sempat tertinggal, lalu direnovasi dan dipercantik sedemikian rupa. Jalan-jalan kali itu benar-benar menunjukkan perbedaan yang jauh signifikan dibanding kedatangan saya tahun sebelumnya.

Tahun lalu, bunga-bunga masih bermekaran dengan cantik. Semua serbatertata, rapi, dan indah. Fasilitas hiburan masih berfungsi, diawasi para penjaga di beberapa titik. Rasanya cukup takjub melihat tempat yang dulu jadi pos saya berkemah menyeramkan berubah menjadi cerah dan berwarna. Kantin dan kafe diperbaiki sehingga nyaman untuk diduduki. Dulu mana bisa nyaman duduk-duduk di sana. Hawa seramnya begitu terasa ditambah dingin dan sepi karena ini bukan tempat nongkrong anak-anak muda.


Namun, kondisi ini ternyata rusak parah karena pandemi. Semua serbasepi, jarang ada yang mengunjungi. Pengelola sampai banting harga agar warga terpancing hatinya. Kafe yang dulu ramai sekarang menunggu ada yang beli secukupnya. Kursi-kursi berdebu, daun-daun kering jatuh di berbagai tempat tidak disapu. Pekerja berkegiatan seadanya karena tidak ada yang keramaian untuk dibantu.


Fasilitas bermain mulai berkarat. Sepeda tali di pepohonan semakin ringkih tak tersentuh tangan manusia. Hanya tersentuh daun jatuh. Saung-saung berdebu di lantai, tiang, hingga atap tinggi.

Kasihan bunga-bunga yang jadi objek penarik hati. Sebagian mulai kering, sisanya mati. Bunga-bunga yang sudah dirangkai hanya tinggal tangkai. Tidak lagi disiram, dipupuk, dan dipangkas sebagaimana biasa. Hilang semua warna yang dulu jadi primadona.




Pandemi ini memang nyata dampaknya. Harus ada yang berkorban demi satu bisa bertahan. Untuk sementara, mungkin industri hiburan dan wisata harus mengalah agar angka positif dapat ditekan serendah-rendahnya. Industri-industri kebutuhan tersier harus menunda beroperasi walaupun dampaknya harus memutar otak agar tidak merugi. Namun, sesegara mungkin harus bangkit dan memutar roda kegiatan kembali.

Tingginya angka kepenatan dan ketidakpatuhan masyarakat menuntut semua kembali normal secara perlahan. Taman wisata dan hiburan harus bertahan dan bangkit bersamaan. Tapi, apa gunanya membuka kembali pintu wisata tanpa ada kepatuhan dari masyarakat?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ada dua buku yang mengenalkan saya dengan minimalisme. Buku pertama, adalah Life-changing Magic of Tidying Up dari Marie Kondo, yang sudah dibuat serialnya di Netflix. Lalu, buku kedua adalah Goodbye, Things dari Fumio Sasaki. Kedua buku itu membawa dua sudut pandang baru yang ujungnya bermuara ke satu titik: Hidup dengan sedikit barang membuat kita lebih bahagia. Cuma, dalam proses membaca kedua buku ini, ada satu hal yang bisa dikomparasi. Komparasi ini yang saya rasa bisa menjadi perbandingan untuk mereka yang mau hidup dengan sedikit barang.

            Kalau kita membaca buku Marie Kondo di atas, ada satu pegangan yang selau diulang-ulang: simpan barang yang membuat kita merasa bahagia. Atau bahasa lainnya, barang yang sparks joy. Inti dari mengurangi barang cara Marie Kondo adalah supaya kita membuang benda-benda yang tidak membuat kita bahagia sama sekali. Jadi di akhir proses decluttering hanya akan ada barang yang membahagiakan kita.

            Dalam proses membuang barang-barang, Marie Kondo selalu menggunakan pendekatan yang sangat personal. Semua benda kita pegang satu per satu, lalu adanya perasaan bahagia atau tidak saat kita menyentuh barang itu yang menentukan. Jika kita merasa bahagia saat menyentuh barang, maka barang itu disimpan. Jika tidak, jangan lupa ucapkan terima kasih atas kerja si barang yang sudah menjalankan fungsinya dengan baik. Oh, di serial (dan di buku pun) Tidying Up with Marie Kondo di Netflix diperlihatkan kalau tiap akan memulai proses decluttering Marie Kondo selalu menyapa rumah. Seolah memang rumah dan barang itu memiliki nyawa dan perasaan.

            Beralih ke bukunya Fumio Sasaki, ‘Goodbye, Things’, yang sering disebut buku gaya hidup minimalisme ekstrem. Kalau Marie Kondo masih memiliki kriteria lanjutan soal barang yang harus disimpan, Fumio Sasaki tidak punya. Di bagian tengah buku, Fumio Sasaki mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengurangi barang adalah dengan membuang semua barang walaupun itu membawa kebahagiaan. Pendekatan ini yang berbeda jauh dengan cara Marie Kondo. Tidak heran kalau label ‘Minimalis ekstrem’ diberikan bagi Sasaki.

            Sebagai orang yang masih di tahap awal mengurangi barang, kadang-kadang kedua cara di atas membuat seolah-olah ada dua jalan bercabang yang harus dipilih. Memang, ketika kita sudah tahu bahwa dua jalan itu akan menuju ke ujung yang sama, ada rasa tenang yang datang. Setidaknya kita tidak perlu khawatir atau meragukan masa depan dan hasil dari semua proses yang akan dan sudah kita lalui. Namun, memilih jalur mana yang akan ditempuh juga tidak bisa asal-asalan. Perlu pemikiran yang serius soal bagaimana cara yang menurut kita terbaik. Tentu ini kembali ke kesiapan kita sendiri. Apakah akan memilih jalan yang ekstrem yang memberikan hasil cepat atau jalan yang perlahan-lahan tapi mungkin akan membuat kita banyak berpikir soal barang yang ada?

            Seiring proses mengurangi barang ini, ada satu hal lain yang tiba-tiba muncul di pikiran: proses menuju hidup minimalis ini tidak hanya soal hidup dengan sedikit barang dan mengetahui semua yang kita punya, tapi juga proses untuk mengenali diri sendiri. Dalam perjalanannya, proses memilih satu di antara dua cara itu membuat saya banyak berpikir dan menarik kesimpulan soal kepribadian diri. Apakah saya tipe orang yang langsung bertindak atau berpikir dua-tiga kali. Untuk soal minimalisme ini mungkin tidak ada salah-benar, tapi soal lain belum tentu.

            Ada satu momen di mana saya melakuka decluttering dengan satu cara di satu waktu, lalu di waktu yang lain menggunakan cara lainnya. Ternyata, di perjalanannya saya sering merasa salah dan ‘menyesal’ karena memilih untuk membuang barang. Satu hal yang saya luput dari penjelasan Fumio Sasaki dan Marie Kondo adalah saya lupa soal kepentingan barang. Karena terlalu tergesa-gesa kadang saya langsung membuang semua. Sampai di satu momen saya baru sadar kalau saya butuh barang itu dan cukup sering. Atau ketika saya insting saya masih belum terlatih soal mana yang menimbulkan kebahagian mana yang tidak. Terlalu lama berpikir juga membuat saya menyimpan barang yang, tidak hanya saya tidak butuhkan, tapi juga tidak sparks joy sama sekali. Biasanya ini karena saya terlalu lama memegang dan memasukan memori saya soal barang itu.

            Proses membuang barang yang berlangsung lama dan menggunakan dua pendekatan ini memunculkan sebuah hipotesa pribadi soal pertanyaan saya: Menentukan soal mana cara yang lebih baik harus dilakukan secara bertahap. Bukan soal cepat-lambatnya membuang barang tapi tentang mana yang lebih sesuai. Mungkin untuk yang masih lajang, seperti Fumio Sasaki, membuang semua koleksi akan bisa dilakukan lebih cepat. Tapi apakah mereka yang sudah berkeluarga bisa melakukan hal itu? Belum tentu. Ada proses yang sangat privat dan personal soal memilih ini. Jadi tidak bisa menarik kesimpulan bahwa satu cara ini cocok untuk semua.

            Jadi satu hal yang saya rasa cukup penting adalah...untuk tidak menggunakan standar kita pada orang lain. Memilih cara mengeliminasi benda di rumah bagi satu orang tidak akan cocok untuk orang lain. Silakan pilih cara Sasaki atau Marie Kondo, lalu rasakan apa yang terjadi. Jika kasusnya seperti saya yang ada rasa menyesal, maka bisa kurangi kecepatan prosesnya dan berpikir lebih matang. Tapi jika cara yang dipilih sudah pas maka tidak ada masalah. Hanya, yang masih sering terlupa adalah soal perbedaan proses bagi setiap individu. Satu pendekatan yang cocok bagi kita belum tentu cocok bagi yang lain. Tidak seharusnya ada pemaksaan dan tidak ada yang harus merasa terpaksa.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kunto Aji - Pilu Membiru Experience

Full video here
Official audio here

Pilu Membiru mungkin jadi salah satu lagu paling menyentuh yang pernah saya dengar. Awalnya memang agak sangsi tiap ada lagu yang berembel-embel "menyentuh" atau "menyayat hati" dan label senada lainnya. Tapi beda untuk lagu-lagu di album Mantra Mantra, khususnya lagu ini. Lagunya menyentuh nggak sih? Menyentuh banget! Menyayat hati? Bukan lagiii... Tapi waktu dengar lagu ini dan begitu baca dan nonton wawancara Mas Kunto Aji di awal rilisnya album ini, makin yakin kalau memang lagu ini sangat-sangat personal. Efeknya? Banyak pendengar yang menginterpretasikan makna lagu ini dengan pengalaman mereka. Ada yang mengingatkan mereka dengan orang tua, keluarga, belahan jiwa, dan orang-orang yang tercinta. Semua benar, semua menyentuh, dan semua bisa menerjemahkan itu sesuai yang mereka mau. Saya pun demikian.

Membaca banyak cerita para pendengar Mantra Mantra, banyak dari mereka yang merasa bahwa lagu-lagu ini merupakan terapi untuk mengurai luka lama atau masalah yang masih terpendam. Saya juga merasakan hal yang sama. Khusus di lagu Pilu Membiru ini...banyak memori masa lalu yang muncul dan mengubah suasana hati saya. Harus dihadapi, karena tidak bisa kita selamanya membiarkan kekusutan itu ada di dalam pikiran kita. Tulisan ini mungkin bisa jadi awal upaya saya mengurai semuanya.

"Akhirnya Aku lihat lagi/Jemarimu yang bergerak bebas/Seiring tawamu"

To be honest, the very first time I heard this song, I cried for almost an hour. My mind went straight to my childhood and I recalled all the things that happened at that time. The hardest time of my life was probably during my fourth and fifth year at elementary school. I was fat and short. Face covered with acne, thanks to puberty. I was neither athletic nor good in math and science. Definitely not the smartest kid in the room.

I was lucky that I had loyal friends who got my back. We are still keeping in touch with each other. Never a dull moment with them. But, my surroundings were not all nice and kind. There were some kids who physically and verbally harassed me. They mocked my appearance: my weight, my face, and my height. They told me I was ugly. When I walked past them, they would pretend that I caused an earthquake while laughing at me. They said an elephant was taking too much space in classroom. I was the elephant. 

One moment that I could not forget for the rest of my life is when they were suffocating me until my face turned red and I ran out of breath. They pointed their fingers at me, because I looked funny. No one helped me. Not even the girls. That was the moment when I felt no one loved me.

I got nowhere to run. I had no one to talk to about my problems. I felt I was alone...even to this day.

I have been feeling insecure about my appearance. Everything got worse as I continued my study to junior high school. Everyone was actualizing themselves. Obviously, the athletic kids were idolized by many. The geniuses were having a good time at science and math competitions. Me? Junior high was the beginning of me...as a wallflower.

My insecurities started to escalate. I could not stop comparing myself to everyone. I compared my height with the best basketball player. I compared my face with the most good looking guy at my class. I compared my skills with the all-rounder kids at my school. I lost...miserably. I lost my confidence and my self-worth.

I blamed everyone but me. I was victimizing myself for all the things that had happened.

The story is just a tip of an iceberg. I am just too scared to recall all of them.

"Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu"

Now, I feel bad for letting my younger self down. I was too selfish and blinded by insecurities and hate. I do have lots of things to say to my younger self. I can't seem to say it out loud without crying and feeling sorry. But, I will give it a shot:


To my younger self,

I know it is too late for me to say this. But I want to apologize for my behaviors.

I am sorry that I was too scared to open up.

I am sorry that you had to go through hard times and held everything by yourself without no one to talk to.


I admit I was a coward.

I am sorry for blaming you. I am sorry for saying that you made me the way I am now.

I have the choice to change. It is always been in my hands. But I refused.

I know how hard it was for you to stand up by yourself.


To my younger self,

I want to thank you for being so brave and so strong

When everyone was making fun of you, I know you tried so hard to not cry.

When you wanted to end the misery once and for all, I know you fought really hard to stay alive.

When your tears started to come out, I know how hard it was for you to put a big and bright smile and pretending that everything was okay.


Thank you.

Thank you for being so strong for me, your older self.

"Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan. Tak ada yang selembut sikapmu, hanya lautan. Tak tergantikan... Walau kita tak lagi saling menyapa."

From now on, I will try to remember you as a carefree kid who smiles a lot. A kid who has a big curiosity about life. A kid who believes that the world is a good place. No bullies, no insecurities. I LOVE YOU!

I recommend everyone to listen to this song. Mari resapi liriknya, temukan semua yang mengganjal dan menahan kita untuk maju. Mari hadapi dan urai semua benang kusut di benak kita. Secara perlahan tapi pasti.

Seperti kata Mas Kunto Aji, kalau ingin menangis, menangislah. Karena menangis itu bentuk pertahanan alami manusia.

Cheers.

 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
The view

Jogja dan seni memang sudah tak bisa dipisahkan. Banyak karya seniman-seniman yang dipamerkan, dan beberapa malah sudah jadi agenda rutin tahunan. Animo masyarakat yang didominasi anak muda juga cukup memuaskan dan menandakan masih banyak yang tertarik dengan pameran seni lukis dan instalasi. Khusus di akhir bulan Juni hingga sekitar penghujung Agustus, ada banyak pameran yang diadakan dengan tema dan media yang berbeda. Lima dari sekian banyak pameran seni berhasil saya kunjungi dalam waktu lima jam saja, dan semuanya tidak memungut biaya masuk. Kelima pameran ini sukses memberikan pandangan baru dan berbeda tentang seni yang selama ini tidak saya ketahui dan dalami.

1. Bebas
Pameran ini diselenggarakan di Jogja Gallery yang berada di dekat Alun-alun Utara (Altar) Yogyakarta. Kalau kita sudah sampai di sekitar Altar, bangunan ini sangat mencolok karena di depannya dipasangi kepingan-kepingan seng yang dibuat seperti dinding yang cukup tinggi. Untuk parkir bisa di trotoar depannya dan berbagi lahan dengan Dagadu.

Kerajinan di pameran bebas ini didominasi oleh seni lukis yang tersebar di dua lantai. Walaupun ada juga instalasi-instalasi di beberapa titik. Ketika saya datang, suasananya sangat sangat sepi. Hanya ada panitia dan saya serta teman di dalamnya. Cukup menguntungkan karena saya tidak terganggu oleh keramaian dan bisa berlama-lama mengamati karya di sana.

Ketika berada di dalam, saya banyak berhenti di beberapa karya seni karena banyak yang sulit saya pahami. Sebagai orang yang tidak begitu paham dengan seni, karya-karya yang cenderung abstrak dan perlu ditelaah mendalam memang jadi pekerjaan rumah. Interpretasi si seniman dengan penikmat tentu pasti berbeda. Memang ketika mebahas tentang seni, salah-benar dan kebakuan interpreatasi tidak berlaku sama sekali, semua tergantung cara pandang dan pola pikir yang menyaksikan. Walaupun begitu, saya tetap menikmati keliling-keliling di sana.

2. Sumonar Fest
Awalnya, Sumonar Fest seharusnya menjadi pemberhentian pertama kami sebab hari Senin itu adalah hari terakhirnya. Namun karena kurangnya informasi, saya datang terlalu pagi pameran cahayanya belum dimulai. Haluan pun berubah ke Pameran Bebas lebih dulu. Letak yang saling berdekatan menjadi alasan mengapa.

The pictures

Saya tidak tahu apa-apa tentang pameran ini, tapi begitu datang ke sana yang kedua kali, langsung disambut dengan permainan video mapping di tangga saat hendak naik ke lantai dua. Di Loop Station ini tidak begitu banyak yang di pamerkan, tetapi karena memang jarang ada yang seperti ini, banyak momen yang terabadikan.

Pameran video mapping seperti ini memang lebih mudah dinikmati dan disaksikan. Permainan cahaya dan permainan komposisi gambar, walaupun kelihatan mudah, tapi pasti butuh kreativitas dan uji coba yang panjang. Itu kalau saya yang coba buat.

3. Celebration of Compassion
Tempat ekshibisi karya seni ini dekat sekali dengan kos saya. Hampir setiap hari saya lewat jalan ini karena memang cukup strategis dan ramai tempat makan. Bangunannya ini baru diresmikan beberapa minggu sebelumnya, saya tidak tahu kalau ini juga jadi tempat pameran seni. Tirtodipuran Link namanya.

Datang dan melihat-lihat lukisan di sini membawa kesan dan perasaan berbeda dengan yang sebelumnya. Suasana di sini, walaupun sama-sama tidak ramai, lebih cerah karena bentuk bangunannya yang berjendela cukup besar-besar sehingga banyak cahaya alami yang masuk. Selain itu, pemilihan warna mayoritas putih juga mempercerah ruangan yang memang besar dan luas. Mungkin anak sekarang akan bilang, “Tempatnya Instagramable banget!”
Dari segi lukisannya pun tidak seabstrak di pameran Bebas. Meskipun saya masih perlu menelaah di beberapa gambar. Cuma, di sini ada satu karya seni yang lebih interaktif. Di salah satu ruangan, ada lima lukisan yang visualnya bisa berubah jika sumber cahaya diubah. Lima lukisan itu, sepertinya terinspirasi dari beberapa pelukis: Van Gogh; Affandi; Pablo Picasso; dan Sudjojono.

Jadi, cara kerja ruangan ini adalah dengan mengganti pencahayaan: penerangan dengan lampu biasa; dengan sinar UV; lalu tanpa penerangan alias gelap gulita. Di setiap penggantian, kelima gambar yang ada di sana kemudian berganti-ganti. Saya tidak tahu bagaimana caranya dan tidak mau pusing-pusing juga untuk mengamati bagaimana karyanya bisa jadi sedemikian rupa. Datang dan menikmati saja sudah lebih dari cukup.

Pengalaman dan pemahaman baru ini menambah pemahaman saya tentang seni. Media apapun ternyata bisa digunakan dan, kembali lagi, tidak ada patokan baku soal bagaimana seharusnya seni disampaikan. Semua yang ada di sekitar bisa jadi penyalur jiwa seni kita.

4. Ora Saru
Ini… pameran yang temanya paling nggak biasa. Karya-karya seni di sini mengangkat tema yang berkaitan dengan seksualitas yang jarang dibicarakan dan dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari. Datang ke sini terasa menguji pemahaman dan kedewasaan saya dalam membahas masalah seksualitas. Saya berusaha untuk tidak risih dan tetap bersikap biasa saja,  karena memang seperti itulah seharusnya.

Dalam memandang masalah seksualitas, baik dari aspek biologis (reproduksi, pembuahan, hubungan seks, hingga masturbasi) maupun aspek sosial yang melibatkan masyarakat luas (pelecehan, tekanan psikis) hingga kebebasan berekspresi melalui penampilan seharusnya tidak menimbulkan masalah besar. Semua ada di pikiran kita saja. Apakah isi otak kita hanya hal-hal yang berbau seks? Atau kita sudah cukup dewasa dalam memahami bahwa sesungguhnya anggota tubuh orang lain bukanlah objek bagi kita sebagaimana anggota tubuh kita bukan objek bagi orang lain.

Isu seperti ini memang menarik dan bisa membuka banyak percakapan karena banyak lapisan-lapisan yang kita tidak sadari saling terhubung dan berada di bawah payung yang sama: seksualitas. Penyelenggaraan acara seperti ini membuka jalan bagi pengunjung untuk berani berdiskusi dan (seharusnya) merasa nyaman dengan tubuh sendiri.

                                                 5. Biennale
Pertama kali dengar tentang Biennale di Jogja itu tahun 2017. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya datang ke Jogja National Museum bersama beberapa teman. Biennale kemudian ada lagi di tahun 2019 (karena acaranya memang dua tahunan), tempatnya di Gedung PKKH UGM. Yang saya suka dari sini adalah banyak karya yang interaktif. Bisa dibilang dari lima pameran, ini yang paling berbeda.

Yang saya suka adalah bagian kumpulan foto-foto yang dijadikan sebuah gunungan. Kurang sempat mendalami lebih dalam, tapi memang menarik ketika dilihat. Ada juga instalasi berbentuk telepon-telepon kaleng yang isinya berbeda-beda. Sepertinya memutarkan cerita-cerita orang-orang yang kemudian dikurasi.

Omong-omong, walaupun tempatnya strategis dan masuknya pun gratis, di sini masih kurang ramai pengunjung. Atau setidaknya tidak seramai waktu dua tahun lalu. Kurang tahu apakah karena memang sudah berlangsung beberapa hari, jadi sudah lewat peak time-nya, atau memang banyak yang belum tahu saja.






Kadang kita memang perlu datang ke tempat-tempat seperti ini. Di luar dari keuntungan karena bisa hemat uang, melihat karya seni juga bisa jadi obat bagi mata agar bisa melihat banyak warna dan bentuk yang tidak biasa. Kita dibawa berpikir tentang sebuah karya, dan menemukan banyak hal yang bisa dibahas lebih dalam.

Setiap saya melihat karya seni yang tidak biasa, refleks saya menggeleng-gelengkan kepala saking tidak habis pikirnya. Bagaimana banyak orang di luar sana yang punya daya imajinasi, kreativitas, dan keterampilan yang besar. Membuat  iri memang. Namun, datang dan menyaksikan sebuah pameran saja sudah lebih dari cukup untuk saya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jogja Library Center


Siapa yang nggak tahu Jalan Malioboro di Jogja yang terkenal luar biasa? Banyak pusat belanja, makanan tradisional, sentra oleh-oleh, dan…letaknya strategis dekat Stasiun Tugu. Sepertinya kalau hanya punya waktu sehari di Jogja, lebih baik dihabiskan ke Malioboro aja. Biar afdal, foto di papan nama Jalan Malioboro mirip turis-turis.
Nah… sebagai penduduk pendatang di Jogja, kebal sudah rasanya badan sama motor ini tiap lewat Malioboro. Macetnya nggak nahan. Jalannya kecil tapi volume kendaraannya jauh lebih besar. Malioboro memang lebih cocok jadi tempat orang jalan kaki. Dan memang akhirnya banyak pembangunan di Malioboro yang dibuat semakin ramah pejalan kaki. Trotoar diperluas, ditambah jalur khusus tuna netra, yang besinya banyak dicomotin orang-orang kurang kerjaan, dan banyak kursi juga tempat sampah.

Balik ke masalah macet, mungkin sebenarnya Pemerintah Kota Yogyakarta sadar kalau macet di Malioboro ini sudah cukup parah. Parah banget. Sampai beberapa bulan kemarin, ada uji coba pengosongan jalan dari kendaraan bermotor pribadi tiap hari Selasa Wage. Kenapa Selasa Wage? Saya nggak begitu paham. Tapi ini sukses menarik perhatian orang-orang untuk datang ke Malioboro, termasuk saya.

Akhirnya, berbekal rasa penasaran dan kebosanan, saya—memberanikan diri—berangkat ke Malioboro jalan kaki, biar ramah lingkungan ceritanya. Fast forward, ternyata di Malioboro sudah banyak banget orang swafoto di tengah jalan. TENGAH JALAN! Waktu itu saya masuk dari Titik 0 Km, dan bahkan di perempatannya pun penuh sama orang-orang dan komunitas-komunitas. Mantap!

Karena memang Malioboro menurut saya didesain lebih ramah untuk pejalan kaki, trotoar yang luas disulap jadi panggung kesenian. Semua tempat ikut berpartisipasi. Kebanyakan sih kesenian tradisional. Mulai dari gamelan, batik, dan tari tradisional. Kesenian modern juga ada. Grup musik dan kelompok flashmob juga ikut ambil bagian.

Keadaannya gimana? Rame banget! Semua orang tumpah-ruah ke Malioboro. Seru juga. Anak kecil main bola di tengah jalan, ibu-ibu komunitas foto-foto menghalangi orang yang mau lewat. Mungkin…. Instastory orang-orang isinya kurang lebih sama seperti gambar ini:
Sudut foto main stream orang-orang di Malioboro



Sebagai daya tarik wisata, cara ini sangat sangat efektif. Saya pun sampai tertarik buat lihat-lihat. Semoga ini bisa jadi langkah awal Pemkot Jogja dalam mengatasi kemacetan di Malioboro. Sayang trotoar yang luas sudah mapan, toko-toko yang rapi, dan warung tenda sepertinya sudah taat aturan. Cuma karena macet dan jalan kecil jadi terganggu kenyamanannya. Pejalan kaki memang harus diprioritaskan fasilitasnya. Apalagi kadang mereka harus mengalah sama kendaraan bermotor. Trotoar di Jogja pun belum semua ramah pada pedestrian.

Ke depannya semoga kegiatan ini rutin diadakan. Paling nggak tiap Selasa dan nggak harus menunggu khusus di Selasa Wage sampai bisa bebas kendaraan bermotor 100%.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Bachelor of political science.

recent posts

Labels

  • #RzBaca
  • #RzMain
  • #RzNonton
  • #RzNulis
  • Buku
  • Cerita
  • Drakor
  • Film
  • gaya hidup
  • Gender
  • Islam
  • Jalan-jalan
  • Jogja
  • Kerja
  • KKN
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Minimalisme
  • Myself
  • Resensi
  • Seni
  • Zero Waste

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  November (1)
      • Coba-coba Kursus Online
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates