The Unsaid Words

of Rizqi Maulana

Pages

  • Home
  • About Me
  • Contact
  • Gallery
  • Writings



Judul Buku: Kim Ji-Yeong, Lahir 1982
Penulis: Cho Nam-Joo
Alih bahasa: Iingliana
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 192 hlm


Lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang menomorduakan perempuan membuat Kim Ji-Yeong harus merasakan diskriminasi karenanya. Keluarga yang menjadi lingkungan terdekatnya pun melakukan tindakan yang membuat Ji-Yeong kehilangan kesabaran. Perlakuan demi perlakuan yang tidak mengenakkan membuat Ji-Yeong menjadi dewasa dengan membawa beban, trauma, dan emosi yang terakumulasi membuat dia mengalami gangguan kejiwaan, bahkan hingga dia menikah dan mempunyai anak. Inilah yang menjadi cerita dalam buku Kim Ji-Yeong Lahir 1982 karya Cho Nam-Joo.

Kisah di buku ini dimulai dari kondisi Ji-Yeong yang dirasa semakin hari semakin aneh oleh suaminya, Jeong Dae-hyeon. Ji-Yeong tanpa dia sadari sendiri sering bertingkah laku seperti orang lain dan mengubah gaya bicaranya. Awalnya, Dae-hyeon menganggap dia hanya bercanda, tapi lama-kelamaan kondisi Ji-Yeong ini semakin mengkhawatirkan. Lalu, dia menemui psikiater untuk berkonsultasi soal masalah istrinya.

Dari sisi cerita, kita akan dibawa oleh penulis untuk mengetahui bagaimana Ji-Yeong tumbuh dan menjadi dewasa. Seperti sudah dijelaskan di atas, Ji-Yeong hidup di masa di mana perempuan sering mengalami ketidakadilan (bahkan hingga sekarang). Dari dia kecil, dia harus merelakan kenyamanan di rumahnya bagi sang adik laki-laki satu-satunya. Sementara dia dan kakaknya, Kim Eun-yeong, harus menahan diri untuk tidak iri atas perlakuan nenek dan ayahnya yang lebih memihak pada adiknya.

Di masa sekolah, keadaan tidak menjadi lebih baik. Dia dan teman-teman perempuannya kerap mendapatkan diskriminasi oleh guru dan masyarakat. Ji-Yeong, lagi-lagi harus menahan diri untuk tidak marah pada temannya yang sering menjahili dia sampai menangis. Gurunya pun sangat tidak membantu karena malah mengatakan bahwa teman laki-lakinya itu sebenarnya menyukai dia. Ucapan yang sebetulnya tidak perlu diberitahukan kalau pun itu benar.

Semakin jauh kita membaca, akan semakin banyak perlakuan-perlakuan tidak adil yang dialami para perempuan. Sekali lagi, banyak dari perlakuan ini disebabkan HANYA karena mereka perempuan. Stigma pada perempuan yang dilekatkan oleh (kemungkinan) laki-laki membuat posisi perempuan di luar keluarga (sekolah, tempat kerja, tempat umum) selalu tidak setara.

Sulit rasanya untuk memercayai bahwa di dunia nyata ada perempuan yang mengalami hal yang sama. Tapi, setelah mencari tahu lebih banyak, ternyata memang kondisi seperti itu benar-benar ada. Bahkan banyak yang lebih parah. Cerita Ji-Yeong ini mungkin akan dianggap sebagai secuil bagian dari diri para perempuan. Terlepas dari cerita yang fiksi, membaca buku ini sangat membuka mata saya tentang diskriminasi pada perempuan.

Kenapa Perempuan Sering Mendapat Label Negatif?

Ketika Ji-Yeong masuk perguruan tinggi, dia mengikuti klub mendaki di kampusnya. Hingga di tahun ketiga, Ji-Yeong yang baru putus dengan kekasihnya, mengikuti perkemahan dengan angkatan lainnya. Hingga saat dia terdengar para laki-laki sedang berbicarakan dirinya dan dia pun terbangun dan mendengar percakapan mereka. Ternyata teman laki-lakinya menyukai Ji-Yeong. Namun, kemudian ada seseorang yang justru berkata, “Ah, sudahlah. Siapa yang mau mengunyah permen karet yang sudah diludahkan?”

Membandingkan perempuan dengan benda mati, yang kadang dianggap murahan, jorok, dan tidak berharga bukanlah hal yang baru. Beberapa waktu lalu, terjadi sebuah kasus pelecehan sosial di salah satu perguruan tinggi, lalu ada pihak yang memberikan sudut pandang lain tentang kasus pelecehan ini dengan mengibaratkan si korban adalah ikan asin dan pelakunya adalah kucing.

Itu bukan hal baru lagi di kehidupan bermasyarakat. Banyak ungkapan negatif yang diberikan bagi perempuan. Apapun pilihan yang diambil perempuan, selalu diikuti oleh obrolan miring dari orang lain. Padahal pilihan itu tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang mengomentari. Perempuan yang ingin bekerja dibilang melawan kodrat. Bagi yang tidak ingin menikah muda dianggap menunda jodoh dan dianggap perempuan tanpa aturan. Belum lagi mereka yang ingin mewarnai rambut, bertato, tidak berhijab, dan melakukan hal-hal yang ‘nggak cewek banget’ padahal tujuannya hanya ingin mengekspresikan diri.

Ji-Yeong yang dianggap permen karet yang sudah dikunyah, korban pelecehan yang dianggap ikan asin, sampai perempuan yang dianggap melawan kodrat mungkin hanya ujung dari gunung es yang terekspos karena mereka berani melawan aturan yang mendiskriminasi. Di luar sana mungkin ada yang lebih memilih diam dan mengikuti arus karena tidak mampu melawan pihak-pihak yang menekan mereka balik. Dan, bisa jadi lebih parah daripada ketiga contoh di atas.

Rasanya, langkah kecil menuju kehidupan sosial yang bebas diskriminasi dan menjunjung kesetaraan adalah dengan tidak melabeli orang lain atas pilihan mereka. Tidak memandang sebelah mata mereka yang berbeda pilihan. (Paragraf ini merupakan pikiran tanpa basis akademis. Murni hasil berpikir singkat setelah melihat fenomena di media sosial).

Suara dan Emosi yang Terpendam Menjadi Bom Waktu

Tidak lama setelah Ji-Yeong mengetahui dirinya disamakan dengan permen karet yang sudah dikunyah, dia memilih diam. Hingga keesokan harinya dia bertemu denga laki-laki yang mengatakan itu. Si lelaki berbasa-basi dengan menanyakan kondisi Ji-Yeong. Diceritakan bahwa Ji-Yeong ingin berkata, “Memangnya permen karet bisa tidur?” Hanya saja, dia akhirnya tidak berkata apa-apa.

Kondisi Ji-Yeong yang sering memilih untuk tidak berkata apa-apa tentu berdampak buruk bagi dirinya. Dan, hal ini tidak terjadi sekali-dua kali. Dari masa kecil, Ji-Yeong sering memilih diam karena terkadang ketika dia bercerita justru dia yang dimarahi. Hingga dirinya dewasa pun dia masih memilih diam ketika dia dianggap sebagai “ibu-ibu cafe” yang dikira orang-orang hanya menghamburkan uang suami dan tidak perlu bekerja.

Puncaknya adalah kondisi Ji-Yeong yang sering berganti kepribadian menjadi orang lain. Apakah itu dampak dari kondisi yang menekan Ji-Yeong? Sepertinya belum ada jawaban pasti. Karena diceritakan psikiater yang menangani kasus Ji-Yeong pun mendiagnosa terlalu cepat kondisinya. Tapi yang mungkin lebih pasti adalah suara dan emosi orang yang dipendam pasti akan meledak dan muncul ke permukaan. Entah kapan, di mana, dan dengan cara apa. Begitu pun pemantiknya yang  berupa ha-hal yang tidak disadari.

Kebiasaan memendam emosi dan suara rasanya bukan hal yang asing. Berbagai alasan dan penyebabnya pun sering tidak kita sadari. Hal yang dianggap ‘bercandaan’ bagi satu orang mungkin akan dianggap lain bagi yang memiliki emosi dan masalah. Ini sering terjadi mungkin karena kita masih belum punya empati yang menyeluruh.

Kalau tadi sebaiknya kita tidak perlu repot-repot melabeli orang lain dengan label yang suka-suka kita, untuk kondisi ini (yang bisa terjadi pada siapa pun) sebaiknya kita belajar mendengarkan bersama-sama. Karena kemampuan mendengarkan itu salah satu yang tersulit. Sulit karena kita harus berusaha hadir bersama orang yang berkeluh kesah dan harus memusatkan perhatian. Selain itu, cara merespon pun agak menjebak. Beberapa ucapan yang kita kira biasa saja ternyata malah menjadi bumerang yang memperkeruh suasana.

Buku Kim Ji-Yeong Lahir 1982 tidak hanya memberikan kita bayangan tentang misoginisnya kehidupan di Korea Selatan. Data-data perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang timpang pun disajikan lengkap dengan sumber jurnal, buku, dan berita. Mulai dari jumlah angka kelahiran laki-laki yang lebih tinggi, karena banyak aborsi yang dilakukan ibu-ibu yang mengandung anak perempuan, hingga gap gaji laki-laki dan perempuan di Korea Selatan yang terendah di negara-negara OECD. Bagi yang mau menindaklanjuti bisa dicek semua sumbernya.

Sebelum membaca buku ini memang saya sudah menonton filmnya dan membaca berbagai respon dari masyarakat di sana. Para lelaki banyak yang menilai jelek film ini dan tentu saja para perempuannya memberi nilai yang tinggi. Bahkan yang paling aneh adalah adanya petisi yang dilayangkan kepada Blue House untuk membatalkan penayangan film ini. Tugas Presiden yang banyak dan levelnya nasional hingga antarnegara masih harus ditambah dengan petisi aneh macam ini sangat kurang tepat, kan?

Saat membaca cerita ini saya merasa kalau perubahan kepribadian Ji-Yeong merupakan fenomena unik dan menarik untuk dijelaskan lebih dalam. Tapi di sisi lain, ada kemungkinan kalau proses konsultasi Ji-Yeong ini diperdalam dan dijelaskan kronologisnya, jalan ceritanya akan terlalu teknis(?). Tapi dengan penjelasan singkat di bab akhir, menunjukkan kalau kondisi Ji-Yeong ini masih kurang dipahami bahkan oleh psikiaternya. Bahkan psikiaternya mulai meragukan dugaannya. Dari depresi pascamelahirkan hingga dugaan depresi pengasuhan anak.

Kondisi kejiwaan Ji-Yeong yang tidak dijelaskan dengan pasti masih membuka kesempatan pembaca untuk menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Kalau saya pribadi suka jenis cerita yang memberi ruang untuk berimajinasi tentang akhir cerita atau kondisi yang dibiarkan menggantung di akhir. Akan tetapi, untuk kasus Ji-Yeong yang realistis dan banyak terjadi di dunia nyata (bagian depresinya, bukan bertukar kepribadian) membuat saya penasaran dan ingin tahu penjelasan ilmiahnya. Tapi dengan adanya kemungkinan cerita yang terlalu ilmiah (yang mungkin tidak terjadi juga seandainya itu dijelaskan), saya berusaha mencukupkan isi ceritanya seperti yang ada sekarang.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 


Entah apa yang membuat manusia di zaman sekarang--termasuk saya--sering dikelilingi rasa khawatir, cemas, dan takut berlebihan. Membayangkan masa depan yang tidak pasti sesering menyesali dan meratapi masa lalu yang sudah pasti tidak mungkin kembali. Apakah itu karena faktor lingkungan? Media sosial? Tekanan keluarga, kerabat, hingga masyarakat? Enak memang menyalahkan faktor luar atas ketidakwajaran yang terjadi pada diri kita. Tapi...tidak demikian yang dipercayai oleh filsafat stoa yang terangkum dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ini.

Buku yang menjadi national best-seller ini membahas tentang pandangan filsafat stoa (stoicism) dan kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Memberikan kiat dan cara pengelolaan pikiran sehingga kita bisa lebih santai dan tidak tertekan dalam menghadapi berbagai tindakan atau kejadian yang bisa mematahkan semangat. Dengan kata lain, buku ini merupakan "panduan" agar kita bisa tenang sejak dalam pikiran.

Pendekatan saya tentang filsafat pertama kali itu ketika semester pertama perkuliahan dalam mata kuliah Filsafat Ilmu yang *uhuk* saya nggak paham sama sekali. Jiper memang kalau mendengar buku atau pembahasan tentang filsafat. Namun untungnya Filosofi Teras ini dibuat dengan bahasa yang sangat santuy dan jauh dari kesan "berat banget" seperti stereotip di luaran sana.

Tentang Stoisisme

Sejak bab-bab awal, kita diajak berkenalan dengan sejarah Filsafat Stoa ini. Bagaimana musibah kapal karam yang membuat, Zeno, seseorang yang tadinya tajir melintir menjadi jatuh miskin seketika. One thing led to another, hingga akhirnya muncullah filsafat yang umurnya awet selama lebih dari dua milenium.

"Some things are not up to us, some things are not up to us." - Epictetus (Enchiridion) hal. 46

Mari masuk ke intisari dari Filosofi Teras itu sendiri. Kita akan menemukan fakta bahwa sebenarnya, rasa khawatir, cemas, takut, dan marah itu datang bukan semata-mata dari faktor eksternal. Namun, kenyataannya justru terbalik. Bahwa pikiran kitalah yang jadi dalang di balik itu semua. Opini-opini kita yang--namanya juga opini-- umumnya tidak berdasar dan cenderung membuat semua terkesan buruk itulah akar dari semua perasaan yang mengenakan tadi. Karena, salah satu poin yang sering diulang-ulang dalam buku ini adalah: Semua kejadian yang terjadi di luar kontrol kita itu netral. Opini kitalah yang menyebabkan sebuah kejadian menjadi terasa positif atau negatif. Kurang lebih seperti itu.

Ngomong-ngomong soal kontrol dan kendali, ada sebuah konsep bernama "dikotomi kendali" yang dapat digunakan untuk berlatih mengelola pikiran dan emosi kita. Singkatnya, kita mengategorikan sesuatu menjadi dua: apakah itu berada di bawah kendali kita (pemikiran, respon diri, besarnya usaha, dll); atau apakah itu berada di luar kendali kita (penilaian orang, ucapan orang lain, kesehatan, kapan kita mati, dll). Kalau itu berada di luar kendali kita, maka, ya udah. Itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Dan yang bisa dikendalikan adalah respon dan opini atau judgement kita terhadap masalah itu. Lengkapnya mungkin bisa dibaca di buku Filosofi Teras (beli yang asli, ya, gaes).

Pada bab-bab berikutnya dalam buku ini masih berisi tentang bahasan mengenai cara pengelolaan pikiran dengan berbagai metode. Tidak perlu dijelaskan di sini karena penjabaran di bukunya sudah cukup sederhana dan mudah dimengerti.

Latihan Menderita

Dari sekian bagian penjelasan, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Bagian Latihan Menderita!

Kenapa menarik? Karena dibuku dijelaskan kalau kita memang, literally, latihan untuk menderita. Belajar hidup di bawah standar nyaman dan tidak bermewah-mewahan. Tujuannya memang mulia, untuk mengajarkan kita bahwa kita masih bisa hidup dan berfungsi dengan atau tanpa standar kemewahan yang ada. Kalau dipikir-pikir, rasa puas terhadap kepemilikan barang tentu tidak akan ada habisnya. Kita akan selalu menginginkan barang yang lebih baru walaupun yang kita punya masih berfungsi. Standar kemewahan yang ada pun kadang malah membuat kita, sadar atau tidak, malah jadi materialistis.

Penulis juga sudah memberi tahu kalau kita mungkin akan menemukan ajaran Filsafat Stoa ini selaras dengan ajaran agama atau gaya hidup lain. Nah, kalau berdasarkan pemahaman saya, Latihan Menderita ini esensinya hampir mirip dengan gaya hidup minimalisme. Hanya berbeda di pendekatan dan tujuannya.

In my sotoy opinion, Latihan Menderita ini dilakukan untuk menguji atau membuktikan kemungkinan bertahan hidup tanpa barang mewah atau standar tinggi, minimalisme justru dari awal menganjurkan kita hidup sederhana tanpa banyak barang, karena memang rata-rata koleksi kita tidak dibutuhkan dan seringnya tidak membawa kebahagiaan.

Tapi pandangan stoa dan minimalisme menurut saya sama, kok. Bahwa sebenarnya kita tidak perlu banyak barang atau bermewah-mewah untuk tetap bisa hidup dengan bahagia. Karena rasa bahagia itu tidak datang dari barang koleksi atau respon orang terhadap gaya hidup kita. Dikembalikan ke dikotomi kendali, penilaian orang itu ada di luar kendali kita, sedangkan rasa bahagia itu lebih ke a state of mind alias kondisi pikiran kita.

Saya memang belum pernah menemukan literatur tentang minimalisme, seperti literatur tentang ilmu filsafat yang sudah ada dari sebelum Masehi. Tapi, dari berbagai sumber modern yang pernah saya baca dan lihat (rata-rata video YouTube, film dokumenter, atau pun blog serta artikel), para pelaku minimalisme akan menganjurkan kita untuk kembali ke diri kita dan kembali mendengarkan diri sendiri. Apakah kita butuh barang ini? Ataukah saya hanya ingin membuat orang lain terkagum-kagum lalu kita merasa superior? Lebay ya? Tapi dari buku Goodbye, Things-nya Fumio Sasaki, saya baru tahu bahwa memang ada orang yang seperti itu.

Mungkin kalau tujuan kedua tercapai, kita akan bahagia. Tapi coba kalau sebaliknya? Karena respon orang itu bukan di bawah kontrol kita, begitu orang tidak memberikan respon yang kita inginkan, lalu kita pasti akan baper dan mutung. Lagi-lagi karena berharap pada sesuatu yang tidak di bawah kendali kita.


Sepanjang membaca buku ini, beberapa kali saya teringat dengan ucapan dari orang-orang tua di sekitar. Kadang, mereka sering bilang, "Kita kan sudah usaha, hasilnya gimana mah itu terserah Allah SWT." Nggak tahu apa mereka pernah baca buku-buku Filsafat Stoa (kayaknya sih nggak ya), tapi memang filsafat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal baca tentang ilmu filsafat baru dari buku ini.

Syukurnya lagi, layout dari buku ini juga sangat membantu proses membaca. Tidak semua isinya huruf, tapi diselingi gambar-gambar dan halaman kutipan. Cukup meringankan mata karena pasti kalau layout-nya seperti buku non-fiksi lain, saya pasti males bacanya. Walaupun, hampir yakin penyebab terbesarnya adalah opini saya tentang filsafat seperti yang saya sampaikan di atas.

Untuk ukuran buku "pengatar filsafat stoa" saya rasa sudah banyak hal yang tersampaikan. Walaupun itu memang masih dasar sepertinya. Mungkin ke depannya saya akan coba cari literatur tentang stoa lain yang berbahasa Indonesia dulu. Baru perlahan naik tingkat ke buku-buku Marcus Aurellius, dkk.

Seperti Om Piring bilang di bagian epilog, buku Filosofi Teras ini memang baru awal, bagi kita yang mau mendalami. Jadi, semoga ke depannya banyak buku-buku filsafat yang dikemas seringan mungkin agar ilmu dan intisarinya bisa dipahami banyak orang.

Selamat membaca! Buku bagus memang harus di-review dan disebarkan.

n.b. Bab Sebelas buku ini memberikan banyak pencerahan tentang ketakutan saya selama ini. Terima kasih, Om Piring.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
sumber: mizanstore.com
IDENTITAS BUKU
Judul: Kiai Ujang di Negeri Kangguru
Penulis: Nadirsyah Hosen
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-385-804-0

Di zaman dengan konektivitas yang tinggi antara manusia dan sumber informasi, banyak ilmu-ilmu baru yang muncul dan disebarkan melalui berbagai media. Dalam hitungan detik, satu berita akan dapat tersebar ke seluruh belahan dunia. Termasuk keingintahuan umat Muslim, khususnya di Indonesia juga terlihat semakin meningkat. Banyak dari kita yang ingin mendalami kembali agama Islam dan syariat-syariatnya. Dengan catatan, sebaiknya semua informasi yang ada tidak ditelan mentah-mentah tanpa ada tabayyun terlebih dahulu.

Keberadaan pemikir Islam dan Imam besar di masa lampau membuat kita sekarang terbagi ke dalam beberapa mahzab besar. Setidaknya ada empat Imam yang keyakinan terhadap syariahnya diyakini: Syafi’i; Hanafi; Maliki; dan Hambali. Perbedaan cara pandang para Imam yang kemudian diyakini oleh umat Islam berabad-abad setelahnya, terkadang tidak diikuti oleh pemahaman ilmu perbandingan mahzab dan rasa pengertian antarumat zaman sekarang. Tidak jarang banyak terjadi percekcokan hanya karena ada cara pandang berbeda bagi hal yang sepele.

Buku Kiai Ujang di Negeri Kangguru ini setidaknya dapat memberikan pandangan baru mengenai fenomena perbedaan mahzab dan ketidakmengertian umat zaman sekarang terhadap perbedaan mahzab. Hal-hal yang sering jadi sumber permasalahan, dijelaskan dengan mengedepankan fakta bahwa, sebenarnya sudah dari zaman dahulu kala, para Imam besar terpelajar mendalami ini. Keputusan yang diambil pun tidak asal-asalan karena proses perumusannya sangat berhati-hati dengan mempelajari seluruh perbedaan di masanya.

Lalu, siapa Kiai Ujang ini? Dia adalah tokoh yang diceritakan belajar ilmu perbandingan mahzab di Indonesia lalu kuliah magister ke Australia. Penjelasan perbedaan ini dijelaskan dari sudut pandang Kiai Ujang yang sering ditanyai tentang hukum-hukum Islam oleh rekan-rekan diaspora Indonesia. Pertanyaannya pun sangat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari (setidaknya saya merasakan demikian).

Dari polemik ada atau tidaknya label halal bagi daging sapi di supermarket nonhalal, kemudian hingga hukum mengucapkan selamat hari natal bagi umat Nasrani dijelaskan oleh Kiai Ujang. Yang menarik adalah, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada sudut pandang baru yang jarang didapati sebelumnya. Penjelasan mengenai permasalahan ini dijelaskan dengan menelaah perbedaan pendapat Imam-imam besar pada masanya.

Memang keputusan sepenuhnya ada di tangan kita. Indonesia yang sebagian besar menganut mahzab Syafi’i mungkin akan terasa asing begitu menemui pendapat mahzab Hambali, Hanafi, atau Maliki di beberapa kasus. Namun, ketika kita membaca buku ini, mungkin harus ada pemahaman bahwa penjelasan yang ada bukan bertujuan untuk membuat kita berpindah-pindah mahzab atau memilik mana yang termudah (mungkin boleh-boleh saja, kalau kita mau. Mungkin).

Setidaknya, dengan mengetahui bahwa perbedaan cara pandang itu sudah ada sejak masa lampau, kita sebagai umat Muslim yang tidak mendedikasikan waktu kita untuk menelaah hukum Islam bisa sedikit menghargai pendapat yang tidak sesuai. Kemunculan pendapat Imam-imam besar pun adalah hasil dari pembelajaran akademis yang sudah berlangsung lama.

Nilai lain yang kita dapat dari membaca buku ini adalah, ada penjelasan berulang-ulang mengenai agama Islam yang memang sangat mudah dan fleksibel. Betapa banyak keringanan yang diberikan bagi kita dalam proses menjalankan ibadah, contohnya salat. Jadi ada perasaan yang agak aneh ketika saya melihat banyak perilaku sebagian kecil umat Muslim zaman sekarang yang tidak menunjukkan nilai-nilai Islam tersebut.

Salah satu yang saya syukuri adalah cara yang dipilih untuk menjelaskan masalah-masalah keagamaan. Kalau penjelasan ini ditulis seperti buku teks kumpulan perbandingan mahzab, mungkin akan sangat membosankan membacanya sampai akhir. Namun, karena dibuat cerita agak fiksi, proses membacanya pun tidak serasa sedang kuliah atau ketika kita belajar untuk ujian.

Buku ini juga, menurut saya tidak berfokus di cerita fiksinya, walaupun ada sedikit cerita di luar masalah agama. Cukuplah untuk intermeso agar tidak bosan-bosan banget baca bukunya. Kalau mahasiswa atau akademisi harus baca buku tebal dan berbahasa Arab, kita yang tidak mendalaminya, bisa mempelajari dengan membaca buku-buku yang dikemas seringan mungkin seperti ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Identitas Buku
Judul: Goodbye, Things – Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Penulis: Fumio Sasaki
Penerjemah: Annisa Cinantya Putri
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman: xxvi + 242

Pertemuan pertama saya dengan minimalisme dimulai dari buku Marie Kondo yang kemudian berlanjut ke film dokumenter dari The Minimalist. Semenjak itu, saya mulai mencari tahu lebih lanjut tentang gaya hidup yang digadang-gadang sedang menjadi tren di seluruh dunia ini. Akhirnya saya menemukan informasi tentang Fumio Sasaki dan gaya hidup minimalismenya di Jepang beserta bukunya, Goodbye, Things. Kemudian, tanpa disadari, ketertarikan saya terhadap minimalisme mulai tumbuh dan semakin membesar.

Satu hal yang saya ketahui tentang Fumio Sasaki adalah dia dilabeli sebagai minimalis yang cukup ekstrem. Hal ini cukup masuk akal karena setelah membaca bukunya, saya pun jadi memahami apa yang dia lakukan sampai ke titik ini. Sasaki sendiri hanya memiliki sedikit barang di apartemennya dan walaupun begitu, dia masih ingin mengurangi semua barang-barangnya hingga tersisa benda-benda yang pokok dan sangat penting saja. Fakta-fakta tentang Sasaki dan informasi dari buku Marie Kondo dan film The Minimalist sudah menjadi amunisi saya sebelum membaca buku ini.

Pembahasan awal dari buku ini adalah tentang meningkatnya budaya minimalisme di Jepang, yang menghadirkan beberapa minimalis dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada seorang minimalis lajang sekaligus traveller, seorang minimalis lajang dan pekerja di Tokyo, ada juga sepasang suami-istri. Secara implisit, mungkin ini menunjukkan bahwa gaya hidup minimalis cocok bagi semua latar belakang dan kalangan, dan bukan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang lajang.

Kelebihan dari buku ini adalah Sasaki di awal menekankan beberapa aturan penting tentang minimalisme. Pertama, ditekankan bahwa minimalisme bukanlah sebuah kompetisi dengan orang lain. Kita tidak perlu sesumbar atas betapa sedikitnya barang yang kita punya, dan menghakimi mereka yang memiliki banyak barang. Kedua, proses ini tidaklah mudah, tetapi tidak mustahil. Mereka yang ingin memulai perjalanan menuju minimalisme harus tahan dengan proses yang panjang dan memakan waktu. Sasaki sendiri masih mengurangi barang-barang kepemilikannya sendiri.

Sudut pandang lain yang saya dapatkan ketika membaca buku ini adalah mengenai hubungan antara mengurangi jumlah barang dengan ketenangan mental dan pikiran. Sasaki menjelaskan proses menjadi seorang minimalis telah mengubah dirinya secara perlahan. Dia mengklaim bahwa dirinya sekarang sudah lebih terbuka dan tidak begitu introver seperti sebelum memulai proses ini. Salah satunya adalah karena alasan dia mengumpulkan barang adalah untuk membentuk citra diri di mata orang lain. Membeli banyak buku yang tidak pernah dibaca sama sekali karena ingin dilihat berpengetahuan luas dan rajin membaca. Mengoleksi banyak film dan menonton semua yang sedang menjadi tren di bioskop supaya ingin dianggap sebagai penggemar film dan tidak ingin ketinggalan pembicaraan denga teman-temannya. Melalui minimalis, tidak hanya Sasaki membuang barang yang dibeli bukan karena suka, tapi juga membuang keinginan membentuk citra dirinya bersamaan.

Karena sudah memiliki referensi lain tentang minimalis, jadi saya menemukan jalan tengah ketika ingin mencoba menjalankan minimalisme dari nol. Dalam buku Life-changing Magic of Tidying Up dari Marie Kondo dan juga dari paparan The Minimalist, pandangannya memang terasa lebih manusiawi dan jauh dari ekstrem. Perbedaan yang paling mencolok adalah, jika Marie Kondo menganjurkan menyimpan barang yang hanya membuat kita bahagia, Sasaki justru sebaliknya. Dia tetap menganjurkan membuang barang walaupun membuat kita senang (hlm. 119). Keekstreman Sasaki juga agak terlihat dari keinginannya untuk tinggal di tempat yang jauh lebih kecil, dan contoh yang dia berikan. Dia berkata kalau hanya ada handuk kecil yang dia gunakan untuk berbagai keperluan (mandi dan mencuci khususnya). Untuk sebagian orang mungkin ini tidak dapat diterima.

Efek membaca buku ini saya rasakan tidak begitu kuat seperti buku Marie Kondo. Meski begitu, ada bagian yang sangat mengena bagi saya pribadi. Betapa kita hanya mengoleksi barang hanya karena mengikuti tren dan ingin membentuk citra diri semata. Itulah yang saya lakukan tiap membeli buku. Selain itu, aspek psikologi yang dipaparkan juga sangat mendalam dan dijelaskan secara runut dan cukup rinci. Pengalaman Sasaki mengurangi barang dan pengaruhnya terhadap kepribadiannya terasa natural dan tidak dibesar-besarkan.

Kembali lagi, mungkin jika ada orang yang perkenalan pertamanya dengan minimalis berawal dari buku ini, bukan tidak mungkin banyak yang akan mundur dan beranggapan bahwa minimalisme adalah gaya hidup yang ekstrem dan sulit. Jika kita memperbanyak referensi, maka akan ada sudut pandang baru yang akan membuat kita dapat menentukan pendekatan mana dan seperti apa yang paling cocok bagi kita. Seperti yang sudah ditekankan Sasaki sebelumnya: ini bukan kompetisi dan memang sulit tapi tidak mustahil.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sumber: republikfiksi.com

“Kita harus ganti nama bajak laut ini. Kerapu Merah itu terdengar seperti nama rumah makan, bukan perompak yang ditakuti. Siapa sih kentut yang ngasih nama itu dulu, ya?
“Elo, Bang.”
“Oh, yah sebenarnya Kerapu Merah gak jelek-jelek amat, Cuma kurang wibawa aja dikit. Dikiiiiit. Ya udah gak apa-apa, gak usah ganti nama,” sahut Jaka.

Nukilan dialog di belakang buku itu yang buat saya penasaran sama isi buku keseluruhan. Plus, review-review tentang buku ini yang selalu kece. Memang sih, karyanya Mas Adhitya Mulya sudah banyak saya dengar. Buku Sabtu Bersama Bapak dan Travel’s Tale, Belok Kanan: Barcelona!-lah yang sudah saya idam-idamkan dari dulu. Tapi, baca buku Adhitya Mulya yang mana pun gak masalah. Heee.
                Buku Bajak Laut dan Purnama Terakhir ini genre-nya komedi sejarah. Bagian komedinya diambil dari kisah hidup seorang Jaka Kelana. Lelaki tanggung yang ingin jadi bajak laut. Cita-citanya kesampaian dengan membuat geng perompak bernama………. Kerapu Merah. Kisah hidup Jaka Kelana ini agak nganuh. Mau kasihan tapi si Jaka ngeselin, mau kesel tapi hidupnya apes melulu. Mimpi Jaka and the Boys buat jadi perompak laut terkenal juga bisa dibilang bego-bego dongo sih. Main bunuh kompeni tapi nggak diriset dulu, kompeni itu siapa, bunuhnya mau gimana, kagak ada blueprint yang jelas. Tapi namanya mengejar mimpi, tidak ada kemustahilan—at least buat Kang Jaka.
                Nah, dari sisi sejarah, cerita ini mengambil waktu di masa kolonialisasi. Waktu masih ada VOC di Nusantara. Tokoh utama dari kolonial ini adalah Admiral Speelman yang diceritakan sebagai petinggi VOC di Nusantara waktu itu. Selain itu, diceritakan juga kisah tiga orang Arya: Galuh Puspa, Rusa Arang, dan Bara Angkasa. Ketiganya diceritakan punya misi tersendiri dengan tipe cerita yang agak berbeda.
                Dua genre tadi kemudian bertemu karena ada hal yang diperebutkan. Pencarian oleh Jaka, Para Arya, dan Admiral Speelman jadi cerita yang menarik. Sampai akhirnya di akhir cerita, semua rahasia terbongkar. Walaupun saya sudah bisa menebak di bagian awal sampai pertengahan
                Hal yang menarik lain adalah, cerita sejarah di sini hampir semua rekaan Mas Adhitya sendiri. Kalau nggak dikasih disclaimer di halaman fakta vs fiksi—dan balik ke genre komedinya, pasti saya bisa langsung percaya. Jalan cerita sejarahnya juga runut dan detail. Pasti risetnya serius banget. Cara Mas Adhitya nyempilin komedinya juga macam-macam, salah satunya dari footnote aka catatan kaki. Ya namanya komedi, fiksi pula, bebas sih ya.
                Salah satu adegan yang lucu itu waktu Jaka Kelana dapat puja-puji setelah berhasil bunuh kompeni—yang tanpa blueprint itu. Ternyata, Jaka Kelana and the Boys (baik hidup atau mati) malah jadi DPO kompeni dengan hadiah yang gede luar biasa. Baca deh. Hehehe
                Bajak Laut dan Purnama Terakhir ini jadi debut bacaan saya terhadap karya-karya Mas Adhitya Mulya. Cerita hidup Jaka Kelana yang nganuh tadi jadi bagian favorit tadi.  Walaupun di akhir cerita, sudah mudah diduga.
Setelah baca buku ini, lalu mau baca buku Adhitya Mulya yang lain, saya rasa genre komedi bisa jadi pilihan. Bisa buku ini atau Jomblo. Sabtu Bersama Bapak bisa jadi selingan, kalau bosan sama yang komedi. Cheers.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Bachelor of political science.

recent posts

Labels

  • #RzBaca
  • #RzMain
  • #RzNonton
  • #RzNulis
  • Buku
  • Cerita
  • Drakor
  • Film
  • gaya hidup
  • Gender
  • Islam
  • Jalan-jalan
  • Jogja
  • Kerja
  • KKN
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Minimalisme
  • Myself
  • Resensi
  • Seni
  • Zero Waste

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  November (1)
      • Coba-coba Kursus Online
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates