The Unsaid Words

of Rizqi Maulana

Pages

  • Home
  • About Me
  • Contact
  • Gallery
  • Writings

 

Pandemi udah mau delapan bulan nih di Indonesia. Ke mana-mana kita pakai masker, bawa masker, hand sanitizer, bahkan nggak salaman. Banyak yang nggak bisa bekerja, banyak yang gulung tikar, sampai berharap masih ada laba pun tidak ada daya. Hanya segelintir yang masih bisa bertahan, bisa dapat gaji bulanan pun sudah terasa bagai mukjizat. Kondisi kita berbeda-beda, tapi kita semua berjuang agar masih bisa hidup dan kewarasan tetap terjaga

Banyak diskusi mengenai pandemi ini. Apakah kita harus mendahulukan kesehatan? Apakah ekonomi? Apakah keduanya bisa berjalan beriringan? Semua berargumen, semua berpendapat. Bukankah semua bisa bebas berbicara? Namun, yang pasti adalah kita harus berpijak pada realita. Melihat sekeliling agar tahu betapa COVID-19 ini telah merusak ekonomi yang dibangun dengan susah payah bersama-sama.

Ada satu pengalaman sederhana yang menunjukkan betapa COVID-19 ini menghancurkan banyak hal yang sudah dibangun perlahan. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi jalan-jalan ke Situ Mustika di Kota Banjar. Wisata yang sempat tertinggal, lalu direnovasi dan dipercantik sedemikian rupa. Jalan-jalan kali itu benar-benar menunjukkan perbedaan yang jauh signifikan dibanding kedatangan saya tahun sebelumnya.

Tahun lalu, bunga-bunga masih bermekaran dengan cantik. Semua serbatertata, rapi, dan indah. Fasilitas hiburan masih berfungsi, diawasi para penjaga di beberapa titik. Rasanya cukup takjub melihat tempat yang dulu jadi pos saya berkemah menyeramkan berubah menjadi cerah dan berwarna. Kantin dan kafe diperbaiki sehingga nyaman untuk diduduki. Dulu mana bisa nyaman duduk-duduk di sana. Hawa seramnya begitu terasa ditambah dingin dan sepi karena ini bukan tempat nongkrong anak-anak muda.


Namun, kondisi ini ternyata rusak parah karena pandemi. Semua serbasepi, jarang ada yang mengunjungi. Pengelola sampai banting harga agar warga terpancing hatinya. Kafe yang dulu ramai sekarang menunggu ada yang beli secukupnya. Kursi-kursi berdebu, daun-daun kering jatuh di berbagai tempat tidak disapu. Pekerja berkegiatan seadanya karena tidak ada yang keramaian untuk dibantu.


Fasilitas bermain mulai berkarat. Sepeda tali di pepohonan semakin ringkih tak tersentuh tangan manusia. Hanya tersentuh daun jatuh. Saung-saung berdebu di lantai, tiang, hingga atap tinggi.

Kasihan bunga-bunga yang jadi objek penarik hati. Sebagian mulai kering, sisanya mati. Bunga-bunga yang sudah dirangkai hanya tinggal tangkai. Tidak lagi disiram, dipupuk, dan dipangkas sebagaimana biasa. Hilang semua warna yang dulu jadi primadona.




Pandemi ini memang nyata dampaknya. Harus ada yang berkorban demi satu bisa bertahan. Untuk sementara, mungkin industri hiburan dan wisata harus mengalah agar angka positif dapat ditekan serendah-rendahnya. Industri-industri kebutuhan tersier harus menunda beroperasi walaupun dampaknya harus memutar otak agar tidak merugi. Namun, sesegara mungkin harus bangkit dan memutar roda kegiatan kembali.

Tingginya angka kepenatan dan ketidakpatuhan masyarakat menuntut semua kembali normal secara perlahan. Taman wisata dan hiburan harus bertahan dan bangkit bersamaan. Tapi, apa gunanya membuka kembali pintu wisata tanpa ada kepatuhan dari masyarakat?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Stasiun Manggarai, calon pengganti Stasiun Gambir
Tiap dengar kata Jakarta, hal pertama yang hampir selalu terlintas adalah soal macet dan panasnya. Rasanya kota ini semerawut dan bikin pusing, kata orang-orang yang lama tinggal di sana. Mungkin mereka ada benarnya. Saya yang bukan (atau belum jadi) anak Jakarta, kadang suka penasaran dan ingin membuktikan sendiri. Separah apa sih lalu lintas di Big Durian ini. Akhirnya... Ketika ada kesempatan beberapa hari ke Jakarta, saya berusaha coba semua transportasi umum di sini. Jadi tulisan ini murni hanya berdasarkan pengalaman saya kurang dari seminggu itu.

Sah!
Ketika tahu kalau saya bakal ke Jakarta, jari-jari tangan ini langsung riset tentang apa-apa saja yang bisa dilakukan di sana. Khususnya soal mobilitas, karena memang tidak ada niat untuk membawa kendaraan pribadi, jadi sudah sedari awal saya mempersiapkan diri untuk belajar rute TransJakarta dan MRT, karena kalau ojek online memang tidak perlu persiapan. Di Jogja pun sudah biasa.

Riset tempat wisata atau destinasi menarik mana yang murah dan dekat itu sudah wajib. Cara untuk sampai ke sana pun bisa dicari semalam sebelumnya. Tapi, tujuan utama saya dari sebelum berangkat adalah...naik MRT Jakarta. Kapan lagi kan bisa naik MRT pertama di Indonesia?

Sebagai percobaan pertama, tidak sah rasanya kalau tidak naik dari salah satu stasiun akhir dan paling strategis. Yaitu MRT Bundaran HI. Ternyata memang beda rasanya naik sarana transportasi yang sudah mutakhir. Semuanya serbacepat, tepat waktu, dan...rapi. Untung ini sudah beberapa bulan setelah peluncuran, jadi saya tidak harus berpapasan dengan orang-orang yang piknik atau bergelantungan di dalam rangkaian.
Peron bawah tanah Halte MRT Bundaran HI

Dari Halte Bundaran HI, tujuan saya waktu itu ke Cipete, karena lihat postingan di Instagram tentang toko kue yang sedang hits. Karena letaknya strategis dan dekat sekali dari Halte Cipete Raya, jadi tidak begitu melelahkan ketika harus berjalan kaki beberapa ratus meter.

Biaya naik MRT pun tidak begitu mahal. Kalau tidak salah dari Bundaran HI ke Cipete Raya hanya sekitar Rp10.000 atau Rp11.000, sekitar segitu. Terbayar sudah dengan peron yang bersih, toilet yang super nyaman, dan kecepatan waktu tempuh. Kalau pakai transportasi lain mungkin harganya bisa beberapa kali lipat, belum dengan macet dan kesemrawutan lalu lintas.

Selain MRT, transportasi lain yang cukup diistimewakan adalah TransJakarta. Diistimewakan karena mereka punya jalur sendiri yang--idealnya--tidak dimasuki kendaraan lain. Perjalanan saya dengan TransJakarta dimulai dari Halte Stasiun Kota sampai ke Bundaran HI (untuk naik MRT ke Cipete Raya). 

Sebenarnya naik TransJakarta ini nyaman, lho. Untuk masalah berdiri memang sudah risiko dan sebenarnya tidak begitu melelahkan. TransJakarta ini juga bebas macet dan karena rute yang saya tempuh relatif singkat dan jalannya "lurus-lurus" saja, tidak begitu terasa jadinya. 

Dari segi kondisi, kalau mau dibandingkan dengan TransJogja, bus TransJakarta jauh lebih besar dan luas. Memang itu juga pengaruh dari kondisi di lapangan. Penduduk Jogja memang masih belum banyak yang menggunakan bus kota, motor atau mobil pribadi masih jadi pilihan. Terdiri dari sekitar 2-3 rangkaian, membuat penumpang juga tidak perlu berdesakan. Haltenya pun luas-luas dan bersih. Sama seperti transportasi umum lain seperti kereta atau MRT, kita memang harus usaha ekstra untuk jalan ke tempat tujuan karena memang pemberhentiannya tidak bisa menyenangkan semua pengguna.
Lantai atas bus tingkat untuk Jakarta City Tour Bus yang jadi rebutan.

Selain TransJakarta, ada juga Jakarta City Tour Bus yang bisa membawa kita keliling kota sambil mendengarkan paparan dari pemandu di bus. Waktu itu saya naik bus tentang "History of Jakarta", isinya kita melewati bangunan-bangunan bersejarah di pusat kota dengan pemberhentian akhir ke Kawasan Wisata Kota Tua. Seru! Karena bus ini bus tingkat, jadi jarak pandang kita lebih tinggi dan luas. Berasa jadi raksasa. Poin plus lain dari Jakarta City Tour Bus ini adalah...gratis! Kita bisa datang ke halte terdekat (saya di depan Masjid Istiqlal), lalu pilih ingin naik bus yang mana. Di samping dan depan bus ada kode bus dan keterangan temanya, kok. Atau kalau takut salah bisa tanya ke petugasnya. Tapi harus dicek juga karena ada bus lain yang harus bayar, jadi dipastikan sebelum naik.

Nah, berikutnya adalah kendaraan umum yang sempat bikin saya jiper waktu lihat video-video dan berita di internet. None other than...KRL. Yep. angkutan umum andalan pekerja dari Bodetabek ini memang kalau dilihat selalu penuh, berdesakan, dan terkesan nggak aman. Banyak yang kena masalah di sini. Mulai dari kena copet, catcalling, atau desak-desakkan dengan penumpang lain.

Buat mencegah semua kondisi tadi, saya naik pas bukan jam sibuk. Sekitar jam dua siang dari Stasiun Pasar Minggu Baru ke Stasiun Gondangdia. Nyaman, lho, sebenarnya KRL ini. Walaupun kipas anginnya nggak ada dingin-dinginnya sama sekali. Lupa kipasnya muter apa nggak. Gerbongnya juga cukup luas. Walaupun dengan pengecualian karena ini bukan jam sibuk. Kalau saya naik agak sorean mungkin lain cerita. Semua pekerja laju bakal tumplek blek. Hiii...saya masih suka jiper karena memang kadang suka tidak nyaman kalau di keramaian, berdesakkan pula.
-

Stasiun Pasar Minggu Baru tempat saya naik tidak begitu luas. Karena memang sedikit yang naik di sini. Selain itu juga sedang ada renovasi di stasiun, jadi memang agak kotor dan berdebu. Peronnya pun di dua sisi tidak begitu luas. Tapi kursinya masih tersedia banyak.

Datang dengan persiapan dan niat untuk mencoba transportasi umum di Jakarta memang membantu. Mencari rute terdekat dari destinasi wisata atau tempat makan dan nongkrong itu penting sekali! Dan...rasanya berada di kota yang sudah maju sistem transportasinya memang beda. Semua terasa mewah dan kita sudah beradaptasi dengan teknologi. Jakarta memang terlambat punya MRT dibanding Thailand dan Malaysia, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Meskipun ungkapan itu tidak bisa diterapkan terus menerus (karena orang Indonesia memang sering terlambat).

Penampakan Stasiun Pasar Minggu Baru

Rasanya beda ketika sistem transportasi kita sudah serbaotomatis. Tinggal tap kartu langsung jalan. Semua serba cashless, rapi, dan tertib. Optimis memang kalau Indonesia bisa maju walaupun harus berlari mengejar posisi negara lain. KRL yang murah dan jadi andalan, TransJakarta yang sangat-sangat luas, bersih, dan nyaman, sampai MRT yang jadi ikon kebanggaan karena kita mampu punya teknologi seperti itu.

Opsi lain seperti angkot dan Metromini memang kadang masih jadi pilihan, tapi...banyak yang harus dibenahi di sistemnya. Tugas siapa? Saya rasa semuanya. Semua yang butuh naik kendaraan umum, semua yang punya wewenang untuk mengatur urusan transportasi. Pakai, rawat, dan jangan lupa untuk melaporkan ketidaktaatan siapa pun yang mengganggu kenyamanan. Bisa kok angkutan umum di Jakarta dan Indonesia tertib dan terintegrasi. Asal jangan lempar tanggung jawab dan lepas tangan saja.

Salam.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 



Siapa sangka kalau kita bisa main kayak di Jogja? Dekat pula dari pusat kota. Itu pertanyaan yang saya ulang terus-menerus dalam hati. Sumber perekonomian Jogja memang berasal dari pariwisata, tapi saya tidak tahu kalau banyak daerah yang sedang mencoba mengembangkan potensi wisatanya, termasuk daerah tempat bermain kayak kemarin. Dari awal keluar kos hingga kembali, ada beberapa pengalaman dan pertemuan yang baru saya lihat dan alami. Sebagian besar karena saya tidak menyangka bahwa tempat seperti ini ada di Jogja.



KKN vibe-nya kerasa banget
Jadi, tempat ini berada di Jalan Imogiri. Kalau kita mau ke Mangunan, jalan yang dilalui persis sama, hanya ini masih sangat di bawah. Namanya Wisata Air Selopamioro. Kalau mau persisnya, daerah ini ada di aliran sungai, kalau tidak salah Kali Kuning, yang jembatannya baru runtuh karena ada banjir bandang sekitar awal tahun ini.

Dari namanya, desa ini mengedepankan wisata air, karena memang posisinya berada di sungai yang tidak begitu dangkal dan panjang. Airnya kehijauan, dan di pinggiran sungai banyak bebatuan sungai putih dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang lancip dan tajam, ada juga yang mulus dan berpenampang besar. Arusnya pun tenang walaupun ada beberapa bagian yang berarus lebih kencang karena ada alirannya agak melandai. Hamparan batu di sungai ini sangat-sangat luas. Bisa terlihat jelas karena memang ketika musim kemarau seperti ini air menyusut dan tempat kita melangkah adalah dasar sungainya.

Tempat kejadian perkara
Sepertinya pengadaan tempat wisata ini didorong oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Karena di kayak yang ada, tertempel logo Kemendes. Begitupun di jaket pelampung yang disediakan. Kalau memang demikian, ini merupakan langkah yang bagus, karena potensi di daerah ini memang perlu dikembangkan maksimal. Banyak anak muda yang beraktifitas di sini, dan ada beberapa warung yang beroperasi. Toilet pun ada walaupun masih belum dalam bentuk toilet tetap dan sangat berukuran kecil.

Di sisi kiri dan kanan desa dan sungai banyak terdapat tebing-tebing dari pegunungan. Dari kejauhan terlihat dominan warna cokelat dengan pohon-pohon yang sedang meranggas. Daerah ini memang di kelilingi tebing-tebing tinggi dan di kakinya banyak lahan pertanian yang masih aktif digarap warga.

Jalan ke tempat ini sangat mudah diakses walaupun hanya selebar satu mobil saja. Dari kota hingga Jalan Imogiri memang sudah diaspal dan sangat mulus, tetapi begitu masuk ke pedesaan, sebagian besar masih berupa jalan cor-coran semen. Selama menuju ke sini, akan banyak kita temui pohon-pohon bambu dan suasana yang agak gersang. Saya pun kurang tahu apakah mobil bisa masuk atau tidak, kalau pun bisa pasti akan sulit mencari lahan parkir karena memang belum disediakan di sisi tempat saya datang. Mungkin bisa diwaspadai juga karena banyak tanda peringatan bahwa daerah di sekitar sana memang rawan longsor.

Karena jembatan penghubung di desa ini baru saja runtuh diterjang banjir bandang. Jadi alternatif untuk pengunjung yang datang dari sisi seberang tempat persewaan kayak adalah dengan menaiki perahu oranye dari BNPB. Tidak ada dayung, hanya ada tali yang harus ditarik agar kita sampai ke ujung lainnya. Cara kerja perahu ini sama dengan getek di sungai-sungai kecil. 

Jalur utama sementaranya
Saat kami datang, entah mengapa tali penghubung yang harus ditarik itu terikat tidak beraturan (tangled). Kami sudah naik dan sampai di tengah sungai (masih di bagian dalam), lalu perahu terhenti karena memang talinya macet dan tidak memungkinkan kami sampai ke pinggiran sungai. Manusia-manusia di atas kapal sempat dipenuhi kebingungan. Upaya untuk kembali ke titik awal masih sulit, berusaha mengurai talinya pun memakan waktu yang lama. Akhirnya datang seorang bapak yang membantu memanggilkan petugas penyewaan kayak agar membawa kami ke sana dengan kapal karet, sedangkan beliau mengurai tali yang terikat itu. Such a life saver.

Singkat cerita, setelah sampai ke tepian sungai yang lain, perjalanan main kayak pun segera dimulai. Untuk informasi, kayak di sini masih belum banyak. Kami datang berempat dan menggunakan dua kayak, masing-masing diisi dua orang. Biaya yang kami keluarkan hanya sebesar Rp10.000/orang untuk 40 menit. Bahkan rasanya kami main di air lebih dari 40 menit. Setelah bayar, kami memilih jaket pelampung dan dayung yang ada di sekitar tempat registrasi. Untuk tas dan barang berharga bisa dititipkan di meja registrasi karena memang tidak banyak orang yang datang. Hanya ada kami waktu itu.

Tempat istirahat kongkow-kongkow
Wilayah yang bisa disusuri cukup panjang. Ujung yang menjadi patokan adalah ketika arus sudah mulai deras. Begitu mulai mendekati, lebih baik langsung putar balik saja. Di area yang tenang, sebenarnya nyaman untuk diisi dengan foto-foto pemandangan, swafoto, dan bahkan duduk diam dan menikmati angin. Suasananya sangat tenang. Karena di desanya sendiri tidak banyak motor-motor yang lalu lalang. Disarankan untuk datang pagi sekitar jam 8-9 pagi sebelum matahari meninggi.

All in all, kayaking di tempat ini selain jadi pengalaman pertama, juga jadi pembersih mata karena pemandangan dan suasananya sangat jauh dengan yang ada di kota. Mungkin yang menarik adalah kontribusi Kemendesa di dalam upaya pembangunan tempat-tempat wisata seperti ini. Program yang sangat membantu tapi perlu tindak lanjut dan pengawasan kualitas semua sisi. Fasilitas yang masih apa adanya pun sudah bagus, dengan pendampingan mungkin akan lebih baik dari ini.

Makanan yang dijual pun rasanya enak dan murah, kami beli batagor waktu itu. Harga batagornya pun hanya Rp5.000 saja, dengan porsi yang agak lebih banyak. Tidak seperti kebanyakan tempat wisata yang mematok harga tinggi untuk sesuatu yang kualitasnya pas-pasan. Ada banyak faktor, memang. Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa ketika tempat ini ramai, semua akan tetap sama. Tapi, keadaan yang ada saja sudah merupakan awal yang baik. Kudos, untuk pengembang dan staf di lapangan.

n.b. Kayak yang saya tumpangi sempat terjungkal karena salah ide, kesalahan kalkulasi, dan tidak ada kegesitan. Ingin diceritakan, tapi sebaiknya jangan. Intinya…saya dan kawan satu kayak bagaikan pohon dan kebun dalam lagu “tik…tik…bunyi hujan di atas genting” alias basah semua.

Setelah terjungkal
n.b.b. Waktu kami terjungkal, hidup menunjukkan faktanya yang tak terelakkan. Hal pertama yang dikhawatirkan adalah…ponsel. Bukan kondisi badan, kaki, tangan, atau pun kemungkinan terluka di anggota tubuh mana pun. Itu masalah prioritas saja sebenarnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jogja Library Center


Siapa yang nggak tahu Jalan Malioboro di Jogja yang terkenal luar biasa? Banyak pusat belanja, makanan tradisional, sentra oleh-oleh, dan…letaknya strategis dekat Stasiun Tugu. Sepertinya kalau hanya punya waktu sehari di Jogja, lebih baik dihabiskan ke Malioboro aja. Biar afdal, foto di papan nama Jalan Malioboro mirip turis-turis.
Nah… sebagai penduduk pendatang di Jogja, kebal sudah rasanya badan sama motor ini tiap lewat Malioboro. Macetnya nggak nahan. Jalannya kecil tapi volume kendaraannya jauh lebih besar. Malioboro memang lebih cocok jadi tempat orang jalan kaki. Dan memang akhirnya banyak pembangunan di Malioboro yang dibuat semakin ramah pejalan kaki. Trotoar diperluas, ditambah jalur khusus tuna netra, yang besinya banyak dicomotin orang-orang kurang kerjaan, dan banyak kursi juga tempat sampah.

Balik ke masalah macet, mungkin sebenarnya Pemerintah Kota Yogyakarta sadar kalau macet di Malioboro ini sudah cukup parah. Parah banget. Sampai beberapa bulan kemarin, ada uji coba pengosongan jalan dari kendaraan bermotor pribadi tiap hari Selasa Wage. Kenapa Selasa Wage? Saya nggak begitu paham. Tapi ini sukses menarik perhatian orang-orang untuk datang ke Malioboro, termasuk saya.

Akhirnya, berbekal rasa penasaran dan kebosanan, saya—memberanikan diri—berangkat ke Malioboro jalan kaki, biar ramah lingkungan ceritanya. Fast forward, ternyata di Malioboro sudah banyak banget orang swafoto di tengah jalan. TENGAH JALAN! Waktu itu saya masuk dari Titik 0 Km, dan bahkan di perempatannya pun penuh sama orang-orang dan komunitas-komunitas. Mantap!

Karena memang Malioboro menurut saya didesain lebih ramah untuk pejalan kaki, trotoar yang luas disulap jadi panggung kesenian. Semua tempat ikut berpartisipasi. Kebanyakan sih kesenian tradisional. Mulai dari gamelan, batik, dan tari tradisional. Kesenian modern juga ada. Grup musik dan kelompok flashmob juga ikut ambil bagian.

Keadaannya gimana? Rame banget! Semua orang tumpah-ruah ke Malioboro. Seru juga. Anak kecil main bola di tengah jalan, ibu-ibu komunitas foto-foto menghalangi orang yang mau lewat. Mungkin…. Instastory orang-orang isinya kurang lebih sama seperti gambar ini:
Sudut foto main stream orang-orang di Malioboro



Sebagai daya tarik wisata, cara ini sangat sangat efektif. Saya pun sampai tertarik buat lihat-lihat. Semoga ini bisa jadi langkah awal Pemkot Jogja dalam mengatasi kemacetan di Malioboro. Sayang trotoar yang luas sudah mapan, toko-toko yang rapi, dan warung tenda sepertinya sudah taat aturan. Cuma karena macet dan jalan kecil jadi terganggu kenyamanannya. Pejalan kaki memang harus diprioritaskan fasilitasnya. Apalagi kadang mereka harus mengalah sama kendaraan bermotor. Trotoar di Jogja pun belum semua ramah pada pedestrian.

Ke depannya semoga kegiatan ini rutin diadakan. Paling nggak tiap Selasa dan nggak harus menunggu khusus di Selasa Wage sampai bisa bebas kendaraan bermotor 100%.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Bachelor of political science.

recent posts

Labels

  • #RzBaca
  • #RzMain
  • #RzNonton
  • #RzNulis
  • Buku
  • Cerita
  • Drakor
  • Film
  • gaya hidup
  • Gender
  • Islam
  • Jalan-jalan
  • Jogja
  • Kerja
  • KKN
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Minimalisme
  • Myself
  • Resensi
  • Seni
  • Zero Waste

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  November (1)
      • Coba-coba Kursus Online
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates