The Unsaid Words

of Rizqi Maulana

Pages

  • Home
  • About Me
  • Contact
  • Gallery
  • Writings
Akhirnya ke JAFF juga! Setelah tahun lalu telat dapet info untuk pemutaran filmnya dan kesel sendiri karena banyak temen yang bilang bagus-bagus filmya. Berkat info yang bertebaran di media sosial, akhirnya dengan tepat waktu bisa booking beberapa film. Penasaran ke film dari luar Indonesia sih. Karena beberapa film Indonesia udah pernah nonton sebelumnya. Dan...dua film pertama yang saya tonton adalah Nakorn-Sawan dan Parcel. Ada beberapa poin menarik yang saya dapat dari dua film ini. Banyak hal baru yang bisa dipelajari dan...memberi pandangan baru soal film sendiri.


Nakorn-Sawan

Nakorn-Sawan ini semacam gabungan antara film dokumenter dan yang bukan. Kalau di internet banyak disebut film dokudrama. Dokumenternya diambil dari kumpulan-kumpulan video pendek almarhumah ibunya yang meninggal karena sakit dan ayahnya yang bekerja di kebun karet. Bagian dramanya agak fokus ke kisah Aoey yang baru pulang ke Thailand. Bagian drama ini diceritakan saat Aoey dan ayahnya melakukan upacara ke sungai dengan dua biksu dan kenalan atau tetangganya.

sumber: https://we-love-cinema.com/movies/33802-nakorn-sawan/

Bagian dokumenter dan drama ini berjalan paralel dan ada momen dimana tokoh Aoey ini semacam perwujudan si pembuat film dengan waktu setelah ibunya meninggal dunia. Di awal memang saya agak susah untuk dapat inti dari filmnya. Tapi, ketika ada bagian yang membahas soal sekolah film dan master degree, baru ada kejelasan soal film ini. Buat orang lain mungkin ada yang menangkap lebih cepat?

Nakorn-Sawan sih tipe-tipe film yang irit dialog. Banyak diamnya dan cenderung hening. Pengalaman nonton Nakorn-Sawan mirip waktu saya nonton Sekala Niskala. Mungkin karena sedikit dialog tadi, pengambilan gambarnya harus dibuat nggak biasa. Di bagian drama, ada pengambilan gambar yang simple dan kelihatannya raw banget. Saya suka. Dan di bagian dokumenter, itu bener-bener santai. Kaya anak yang ngerekam kedua orang tuanya lagi ngobrol aja. 

Ada review yang bilang kalau film ini sangat terasa unsur meditatifnya. Khususnya tentang kematian. Memang rasanya demikian. Apalagi ketika Ibu si sutradara bilang kalau dia sudah tidak takut mati lagi. Perubahan kondisi sang Ibu dari yang tadinya sehat sampai jadi sakit dan tidak sesegar dulu, terdokumentasikan dan ditampilkan dengan sangat baik. Momen-momen nostalgia tergambar dengan jelas. Salah satu bagian favorit saya adalah waktu sang sutradara bertanya ke Ibunya tentang foto-foto masa kecil, kenangan-kenangan Ibunya sebelum meninggal, ketika keluarga mereka masih utuh.

Sebenarnya tiap nonton film yang minim dialog semacam ini agak takut-takut juga. Kadang malah jadi bosan dan nggak fokus lagi ke cerita. Di beberapa bagian emang agak bikin susah fokus karena sibuk menduga-duga dan pengen cepet-cepet ganti adegan. Apa tipe-tipe film festival emang seperti ini? Mungkin film slow-paced semacam ini nggak bisa dinikmati oleh semua orang. Apalagi yang bosenan. Tapi biasanya justru film kaya gini itu punya makna yang cukup dalam. Walaupun biasanya keselip di ekspresi muka atau gestur si aktornya sih. Itu PR buat saya yang suka gagal fokus dan sering ngalor-ngidul mikir yang lain.

 



Parcel

Kalau film Parcel ini tentang sepasang suami-istri yang sama-sama seorang dokter, Shouvik dan Nandini. Nandini sendiri diceritakan sudah berhenti dari pekerjaannya. Sampai ketika hari ulang tahunnya, Nandini mendapatkan parcel tanpa nama pengirim. Hampir setiap hari parcel-parcel itu datang dan lama-kelamaan membuat hidupnya dan keluarga tidak tenang. Semua saling menduga tentang siapa yang mengirim. Shouvik kemudian menduga sang istri memiliki penguntit atau penggemar rahasia karena parcel-parcel itu berisi foto-foto Nandini. Ada yang diambil belasan tahun lalu, ada juga yang diambil dua hari sebelum parcel itu dikirim.

sumber: https://asianmoviepulse.com/2019/10/film-review-the-parcel-2019-by-indrasis-acharya/

Sepanjang film rasanya kita akan dibuat menduga-duga tentang siapa pengirim parcel itu. Plus motifnya. Tapi, sebelum sampai ke sana (yang nggak bakal sampai juga sebenernya), di film ini ada sisipan-sisipan lain yang makin membuat kita menebak-nebak bagian akhir dari film ini. Isu perselingkuhan paling terasa karena baik Shouvik dan Nandini sama-sama pernah berselingkuh. Nandini kemudian menduga kalau temannya yang merasa punya dendamlah pelakunya, tapi kemudian cerita diarahkan ke kejadian yang berbeda. Nandini akhirnya menghabiskan waktu untuk menduga-duga hingga kesehatannya mental dan fisiknya jadi korban.

Secara pribadi saya suka film yang latar tempatnya dibuat apa adanya. Kalau memang tempatnya kotor dan rusak, ya tunjukkan saja kerusakannya tanpa di-retouch selama itu nggak ngaruh ke cerita ya. Atau kalau memang ada isu atau masalah sosial, politik, dan sebagainya di daerah itu, ya...kasih lihat saja apa adanya. Kondisi rumah sakit yang gedungnya dibuat bapuk, pelayanan jasa yang masih harus suap sana-sini untuk dapet fasilitas dasar, sampai masyarakat yang masih suka ringan tangan dan emosian khususnya, malah bisa buat kita tertarik secara emosional karena di sini pun yang macam itu ada di mana-mana.

Mirip-mirip seperti film A Copy of My Mind-nya Joko Anwar. Kalau di Indonesia masih banyak koruptor yang hidup mewah di penjara, liatin aja. Walaupun yang di ACMM masih nggak seberapa dibanding yang kejadian sebenarnya. Apalagi yang disidak sama Mbak Nana. Kalau di Jakarta masih ada demo dan kerusuhan, kasih liat aja apa adanya. Kalau diolah dengan baik, kondisi-kondisi sosial, politik, dan ekonomi di suatu tempat malah bisa jadi keunikan di sebuah film sendiri yang mungkin negara-negara maju nggak punya.

Film ini mungkin agak panjang ya buat sebagian orang. Tapi, ini beda sama Nakorn-Sawan yang minim dialog dan banyak heningnya. Ada sih beberapa momen yang fokus di musiknya aja. Tapi Parcel ini lebih banyak emosinya. Mulai dari bahagia, bingung, sedih, marah, sampai putus asa. Jadi masih ada dinamikanya buat saya. Tapi ya itu, bikin greget karena kita nggak nyampe-nyampe ke akhir dan di akhir pun nggak dijelaskan secara gamblang siapa si pengirim parcel ini.

Karena pas pemutaran film ada sutradara dan aktor wanitanya, mereka bilang kalau film ini termasuk ke dalam film yang nggak menjelaskan secara eksplisit tentang ceritanya ke penonton (keliatan sih). Jadi itu terserah penonton untuk menginterpretasikan si parcel tadi. Apakah itu perumpamaan? Mungkin. Menebak siapa pelakunya, silakan saja. Banyak diskusi atau teori yang bisa muncul dari proses kita menerjemahkan apa pun di film ini. Bagaimana kondisi di Kolkata yang masih agak berantakan, sistem kerja medis, sampai ke pemerataan akses kesehatan pun rasanya bisa dibahas buat yang ingin lebih kenal dengan Bengali Cinema ini.

Tapi, kalau sudah di tahap menginterpretasikan sebuah karya seni, ya jangan pernah berusaha menentukan mana benar-salah atau baik-buruknya. Karena kalau sudah ada label salah-benar, berarti ada kemungkinan kalau pandangan kita bisa aja salah. Lebih baik dinikmati aja. Perbedaan pendapat atau interpretasi tadi juga hal yang lumrah karena proses berpikir kita kan berbeda-beda.

n.b. Musik pembukanya manis banget!
n.b.b. Selamat memasuki usia ke-100 tahun untuk industri film Bengali! Keren ya bisa sustain sampai selama itu.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kunto Aji - Pilu Membiru Experience

Full video here
Official audio here

Pilu Membiru mungkin jadi salah satu lagu paling menyentuh yang pernah saya dengar. Awalnya memang agak sangsi tiap ada lagu yang berembel-embel "menyentuh" atau "menyayat hati" dan label senada lainnya. Tapi beda untuk lagu-lagu di album Mantra Mantra, khususnya lagu ini. Lagunya menyentuh nggak sih? Menyentuh banget! Menyayat hati? Bukan lagiii... Tapi waktu dengar lagu ini dan begitu baca dan nonton wawancara Mas Kunto Aji di awal rilisnya album ini, makin yakin kalau memang lagu ini sangat-sangat personal. Efeknya? Banyak pendengar yang menginterpretasikan makna lagu ini dengan pengalaman mereka. Ada yang mengingatkan mereka dengan orang tua, keluarga, belahan jiwa, dan orang-orang yang tercinta. Semua benar, semua menyentuh, dan semua bisa menerjemahkan itu sesuai yang mereka mau. Saya pun demikian.

Membaca banyak cerita para pendengar Mantra Mantra, banyak dari mereka yang merasa bahwa lagu-lagu ini merupakan terapi untuk mengurai luka lama atau masalah yang masih terpendam. Saya juga merasakan hal yang sama. Khusus di lagu Pilu Membiru ini...banyak memori masa lalu yang muncul dan mengubah suasana hati saya. Harus dihadapi, karena tidak bisa kita selamanya membiarkan kekusutan itu ada di dalam pikiran kita. Tulisan ini mungkin bisa jadi awal upaya saya mengurai semuanya.

"Akhirnya Aku lihat lagi/Jemarimu yang bergerak bebas/Seiring tawamu"

To be honest, the very first time I heard this song, I cried for almost an hour. My mind went straight to my childhood and I recalled all the things that happened at that time. The hardest time of my life was probably during my fourth and fifth year at elementary school. I was fat and short. Face covered with acne, thanks to puberty. I was neither athletic nor good in math and science. Definitely not the smartest kid in the room.

I was lucky that I had loyal friends who got my back. We are still keeping in touch with each other. Never a dull moment with them. But, my surroundings were not all nice and kind. There were some kids who physically and verbally harassed me. They mocked my appearance: my weight, my face, and my height. They told me I was ugly. When I walked past them, they would pretend that I caused an earthquake while laughing at me. They said an elephant was taking too much space in classroom. I was the elephant. 

One moment that I could not forget for the rest of my life is when they were suffocating me until my face turned red and I ran out of breath. They pointed their fingers at me, because I looked funny. No one helped me. Not even the girls. That was the moment when I felt no one loved me.

I got nowhere to run. I had no one to talk to about my problems. I felt I was alone...even to this day.

I have been feeling insecure about my appearance. Everything got worse as I continued my study to junior high school. Everyone was actualizing themselves. Obviously, the athletic kids were idolized by many. The geniuses were having a good time at science and math competitions. Me? Junior high was the beginning of me...as a wallflower.

My insecurities started to escalate. I could not stop comparing myself to everyone. I compared my height with the best basketball player. I compared my face with the most good looking guy at my class. I compared my skills with the all-rounder kids at my school. I lost...miserably. I lost my confidence and my self-worth.

I blamed everyone but me. I was victimizing myself for all the things that had happened.

The story is just a tip of an iceberg. I am just too scared to recall all of them.

"Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu"

Now, I feel bad for letting my younger self down. I was too selfish and blinded by insecurities and hate. I do have lots of things to say to my younger self. I can't seem to say it out loud without crying and feeling sorry. But, I will give it a shot:


To my younger self,

I know it is too late for me to say this. But I want to apologize for my behaviors.

I am sorry that I was too scared to open up.

I am sorry that you had to go through hard times and held everything by yourself without no one to talk to.


I admit I was a coward.

I am sorry for blaming you. I am sorry for saying that you made me the way I am now.

I have the choice to change. It is always been in my hands. But I refused.

I know how hard it was for you to stand up by yourself.


To my younger self,

I want to thank you for being so brave and so strong

When everyone was making fun of you, I know you tried so hard to not cry.

When you wanted to end the misery once and for all, I know you fought really hard to stay alive.

When your tears started to come out, I know how hard it was for you to put a big and bright smile and pretending that everything was okay.


Thank you.

Thank you for being so strong for me, your older self.

"Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan. Tak ada yang selembut sikapmu, hanya lautan. Tak tergantikan... Walau kita tak lagi saling menyapa."

From now on, I will try to remember you as a carefree kid who smiles a lot. A kid who has a big curiosity about life. A kid who believes that the world is a good place. No bullies, no insecurities. I LOVE YOU!

I recommend everyone to listen to this song. Mari resapi liriknya, temukan semua yang mengganjal dan menahan kita untuk maju. Mari hadapi dan urai semua benang kusut di benak kita. Secara perlahan tapi pasti.

Seperti kata Mas Kunto Aji, kalau ingin menangis, menangislah. Karena menangis itu bentuk pertahanan alami manusia.

Cheers.

 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 


Entah apa yang membuat manusia di zaman sekarang--termasuk saya--sering dikelilingi rasa khawatir, cemas, dan takut berlebihan. Membayangkan masa depan yang tidak pasti sesering menyesali dan meratapi masa lalu yang sudah pasti tidak mungkin kembali. Apakah itu karena faktor lingkungan? Media sosial? Tekanan keluarga, kerabat, hingga masyarakat? Enak memang menyalahkan faktor luar atas ketidakwajaran yang terjadi pada diri kita. Tapi...tidak demikian yang dipercayai oleh filsafat stoa yang terangkum dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ini.

Buku yang menjadi national best-seller ini membahas tentang pandangan filsafat stoa (stoicism) dan kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Memberikan kiat dan cara pengelolaan pikiran sehingga kita bisa lebih santai dan tidak tertekan dalam menghadapi berbagai tindakan atau kejadian yang bisa mematahkan semangat. Dengan kata lain, buku ini merupakan "panduan" agar kita bisa tenang sejak dalam pikiran.

Pendekatan saya tentang filsafat pertama kali itu ketika semester pertama perkuliahan dalam mata kuliah Filsafat Ilmu yang *uhuk* saya nggak paham sama sekali. Jiper memang kalau mendengar buku atau pembahasan tentang filsafat. Namun untungnya Filosofi Teras ini dibuat dengan bahasa yang sangat santuy dan jauh dari kesan "berat banget" seperti stereotip di luaran sana.

Tentang Stoisisme

Sejak bab-bab awal, kita diajak berkenalan dengan sejarah Filsafat Stoa ini. Bagaimana musibah kapal karam yang membuat, Zeno, seseorang yang tadinya tajir melintir menjadi jatuh miskin seketika. One thing led to another, hingga akhirnya muncullah filsafat yang umurnya awet selama lebih dari dua milenium.

"Some things are not up to us, some things are not up to us." - Epictetus (Enchiridion) hal. 46

Mari masuk ke intisari dari Filosofi Teras itu sendiri. Kita akan menemukan fakta bahwa sebenarnya, rasa khawatir, cemas, takut, dan marah itu datang bukan semata-mata dari faktor eksternal. Namun, kenyataannya justru terbalik. Bahwa pikiran kitalah yang jadi dalang di balik itu semua. Opini-opini kita yang--namanya juga opini-- umumnya tidak berdasar dan cenderung membuat semua terkesan buruk itulah akar dari semua perasaan yang mengenakan tadi. Karena, salah satu poin yang sering diulang-ulang dalam buku ini adalah: Semua kejadian yang terjadi di luar kontrol kita itu netral. Opini kitalah yang menyebabkan sebuah kejadian menjadi terasa positif atau negatif. Kurang lebih seperti itu.

Ngomong-ngomong soal kontrol dan kendali, ada sebuah konsep bernama "dikotomi kendali" yang dapat digunakan untuk berlatih mengelola pikiran dan emosi kita. Singkatnya, kita mengategorikan sesuatu menjadi dua: apakah itu berada di bawah kendali kita (pemikiran, respon diri, besarnya usaha, dll); atau apakah itu berada di luar kendali kita (penilaian orang, ucapan orang lain, kesehatan, kapan kita mati, dll). Kalau itu berada di luar kendali kita, maka, ya udah. Itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Dan yang bisa dikendalikan adalah respon dan opini atau judgement kita terhadap masalah itu. Lengkapnya mungkin bisa dibaca di buku Filosofi Teras (beli yang asli, ya, gaes).

Pada bab-bab berikutnya dalam buku ini masih berisi tentang bahasan mengenai cara pengelolaan pikiran dengan berbagai metode. Tidak perlu dijelaskan di sini karena penjabaran di bukunya sudah cukup sederhana dan mudah dimengerti.

Latihan Menderita

Dari sekian bagian penjelasan, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Bagian Latihan Menderita!

Kenapa menarik? Karena dibuku dijelaskan kalau kita memang, literally, latihan untuk menderita. Belajar hidup di bawah standar nyaman dan tidak bermewah-mewahan. Tujuannya memang mulia, untuk mengajarkan kita bahwa kita masih bisa hidup dan berfungsi dengan atau tanpa standar kemewahan yang ada. Kalau dipikir-pikir, rasa puas terhadap kepemilikan barang tentu tidak akan ada habisnya. Kita akan selalu menginginkan barang yang lebih baru walaupun yang kita punya masih berfungsi. Standar kemewahan yang ada pun kadang malah membuat kita, sadar atau tidak, malah jadi materialistis.

Penulis juga sudah memberi tahu kalau kita mungkin akan menemukan ajaran Filsafat Stoa ini selaras dengan ajaran agama atau gaya hidup lain. Nah, kalau berdasarkan pemahaman saya, Latihan Menderita ini esensinya hampir mirip dengan gaya hidup minimalisme. Hanya berbeda di pendekatan dan tujuannya.

In my sotoy opinion, Latihan Menderita ini dilakukan untuk menguji atau membuktikan kemungkinan bertahan hidup tanpa barang mewah atau standar tinggi, minimalisme justru dari awal menganjurkan kita hidup sederhana tanpa banyak barang, karena memang rata-rata koleksi kita tidak dibutuhkan dan seringnya tidak membawa kebahagiaan.

Tapi pandangan stoa dan minimalisme menurut saya sama, kok. Bahwa sebenarnya kita tidak perlu banyak barang atau bermewah-mewah untuk tetap bisa hidup dengan bahagia. Karena rasa bahagia itu tidak datang dari barang koleksi atau respon orang terhadap gaya hidup kita. Dikembalikan ke dikotomi kendali, penilaian orang itu ada di luar kendali kita, sedangkan rasa bahagia itu lebih ke a state of mind alias kondisi pikiran kita.

Saya memang belum pernah menemukan literatur tentang minimalisme, seperti literatur tentang ilmu filsafat yang sudah ada dari sebelum Masehi. Tapi, dari berbagai sumber modern yang pernah saya baca dan lihat (rata-rata video YouTube, film dokumenter, atau pun blog serta artikel), para pelaku minimalisme akan menganjurkan kita untuk kembali ke diri kita dan kembali mendengarkan diri sendiri. Apakah kita butuh barang ini? Ataukah saya hanya ingin membuat orang lain terkagum-kagum lalu kita merasa superior? Lebay ya? Tapi dari buku Goodbye, Things-nya Fumio Sasaki, saya baru tahu bahwa memang ada orang yang seperti itu.

Mungkin kalau tujuan kedua tercapai, kita akan bahagia. Tapi coba kalau sebaliknya? Karena respon orang itu bukan di bawah kontrol kita, begitu orang tidak memberikan respon yang kita inginkan, lalu kita pasti akan baper dan mutung. Lagi-lagi karena berharap pada sesuatu yang tidak di bawah kendali kita.


Sepanjang membaca buku ini, beberapa kali saya teringat dengan ucapan dari orang-orang tua di sekitar. Kadang, mereka sering bilang, "Kita kan sudah usaha, hasilnya gimana mah itu terserah Allah SWT." Nggak tahu apa mereka pernah baca buku-buku Filsafat Stoa (kayaknya sih nggak ya), tapi memang filsafat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal baca tentang ilmu filsafat baru dari buku ini.

Syukurnya lagi, layout dari buku ini juga sangat membantu proses membaca. Tidak semua isinya huruf, tapi diselingi gambar-gambar dan halaman kutipan. Cukup meringankan mata karena pasti kalau layout-nya seperti buku non-fiksi lain, saya pasti males bacanya. Walaupun, hampir yakin penyebab terbesarnya adalah opini saya tentang filsafat seperti yang saya sampaikan di atas.

Untuk ukuran buku "pengatar filsafat stoa" saya rasa sudah banyak hal yang tersampaikan. Walaupun itu memang masih dasar sepertinya. Mungkin ke depannya saya akan coba cari literatur tentang stoa lain yang berbahasa Indonesia dulu. Baru perlahan naik tingkat ke buku-buku Marcus Aurellius, dkk.

Seperti Om Piring bilang di bagian epilog, buku Filosofi Teras ini memang baru awal, bagi kita yang mau mendalami. Jadi, semoga ke depannya banyak buku-buku filsafat yang dikemas seringan mungkin agar ilmu dan intisarinya bisa dipahami banyak orang.

Selamat membaca! Buku bagus memang harus di-review dan disebarkan.

n.b. Bab Sebelas buku ini memberikan banyak pencerahan tentang ketakutan saya selama ini. Terima kasih, Om Piring.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Stasiun Manggarai, calon pengganti Stasiun Gambir
Tiap dengar kata Jakarta, hal pertama yang hampir selalu terlintas adalah soal macet dan panasnya. Rasanya kota ini semerawut dan bikin pusing, kata orang-orang yang lama tinggal di sana. Mungkin mereka ada benarnya. Saya yang bukan (atau belum jadi) anak Jakarta, kadang suka penasaran dan ingin membuktikan sendiri. Separah apa sih lalu lintas di Big Durian ini. Akhirnya... Ketika ada kesempatan beberapa hari ke Jakarta, saya berusaha coba semua transportasi umum di sini. Jadi tulisan ini murni hanya berdasarkan pengalaman saya kurang dari seminggu itu.

Sah!
Ketika tahu kalau saya bakal ke Jakarta, jari-jari tangan ini langsung riset tentang apa-apa saja yang bisa dilakukan di sana. Khususnya soal mobilitas, karena memang tidak ada niat untuk membawa kendaraan pribadi, jadi sudah sedari awal saya mempersiapkan diri untuk belajar rute TransJakarta dan MRT, karena kalau ojek online memang tidak perlu persiapan. Di Jogja pun sudah biasa.

Riset tempat wisata atau destinasi menarik mana yang murah dan dekat itu sudah wajib. Cara untuk sampai ke sana pun bisa dicari semalam sebelumnya. Tapi, tujuan utama saya dari sebelum berangkat adalah...naik MRT Jakarta. Kapan lagi kan bisa naik MRT pertama di Indonesia?

Sebagai percobaan pertama, tidak sah rasanya kalau tidak naik dari salah satu stasiun akhir dan paling strategis. Yaitu MRT Bundaran HI. Ternyata memang beda rasanya naik sarana transportasi yang sudah mutakhir. Semuanya serbacepat, tepat waktu, dan...rapi. Untung ini sudah beberapa bulan setelah peluncuran, jadi saya tidak harus berpapasan dengan orang-orang yang piknik atau bergelantungan di dalam rangkaian.
Peron bawah tanah Halte MRT Bundaran HI

Dari Halte Bundaran HI, tujuan saya waktu itu ke Cipete, karena lihat postingan di Instagram tentang toko kue yang sedang hits. Karena letaknya strategis dan dekat sekali dari Halte Cipete Raya, jadi tidak begitu melelahkan ketika harus berjalan kaki beberapa ratus meter.

Biaya naik MRT pun tidak begitu mahal. Kalau tidak salah dari Bundaran HI ke Cipete Raya hanya sekitar Rp10.000 atau Rp11.000, sekitar segitu. Terbayar sudah dengan peron yang bersih, toilet yang super nyaman, dan kecepatan waktu tempuh. Kalau pakai transportasi lain mungkin harganya bisa beberapa kali lipat, belum dengan macet dan kesemrawutan lalu lintas.

Selain MRT, transportasi lain yang cukup diistimewakan adalah TransJakarta. Diistimewakan karena mereka punya jalur sendiri yang--idealnya--tidak dimasuki kendaraan lain. Perjalanan saya dengan TransJakarta dimulai dari Halte Stasiun Kota sampai ke Bundaran HI (untuk naik MRT ke Cipete Raya). 

Sebenarnya naik TransJakarta ini nyaman, lho. Untuk masalah berdiri memang sudah risiko dan sebenarnya tidak begitu melelahkan. TransJakarta ini juga bebas macet dan karena rute yang saya tempuh relatif singkat dan jalannya "lurus-lurus" saja, tidak begitu terasa jadinya. 

Dari segi kondisi, kalau mau dibandingkan dengan TransJogja, bus TransJakarta jauh lebih besar dan luas. Memang itu juga pengaruh dari kondisi di lapangan. Penduduk Jogja memang masih belum banyak yang menggunakan bus kota, motor atau mobil pribadi masih jadi pilihan. Terdiri dari sekitar 2-3 rangkaian, membuat penumpang juga tidak perlu berdesakan. Haltenya pun luas-luas dan bersih. Sama seperti transportasi umum lain seperti kereta atau MRT, kita memang harus usaha ekstra untuk jalan ke tempat tujuan karena memang pemberhentiannya tidak bisa menyenangkan semua pengguna.
Lantai atas bus tingkat untuk Jakarta City Tour Bus yang jadi rebutan.

Selain TransJakarta, ada juga Jakarta City Tour Bus yang bisa membawa kita keliling kota sambil mendengarkan paparan dari pemandu di bus. Waktu itu saya naik bus tentang "History of Jakarta", isinya kita melewati bangunan-bangunan bersejarah di pusat kota dengan pemberhentian akhir ke Kawasan Wisata Kota Tua. Seru! Karena bus ini bus tingkat, jadi jarak pandang kita lebih tinggi dan luas. Berasa jadi raksasa. Poin plus lain dari Jakarta City Tour Bus ini adalah...gratis! Kita bisa datang ke halte terdekat (saya di depan Masjid Istiqlal), lalu pilih ingin naik bus yang mana. Di samping dan depan bus ada kode bus dan keterangan temanya, kok. Atau kalau takut salah bisa tanya ke petugasnya. Tapi harus dicek juga karena ada bus lain yang harus bayar, jadi dipastikan sebelum naik.

Nah, berikutnya adalah kendaraan umum yang sempat bikin saya jiper waktu lihat video-video dan berita di internet. None other than...KRL. Yep. angkutan umum andalan pekerja dari Bodetabek ini memang kalau dilihat selalu penuh, berdesakan, dan terkesan nggak aman. Banyak yang kena masalah di sini. Mulai dari kena copet, catcalling, atau desak-desakkan dengan penumpang lain.

Buat mencegah semua kondisi tadi, saya naik pas bukan jam sibuk. Sekitar jam dua siang dari Stasiun Pasar Minggu Baru ke Stasiun Gondangdia. Nyaman, lho, sebenarnya KRL ini. Walaupun kipas anginnya nggak ada dingin-dinginnya sama sekali. Lupa kipasnya muter apa nggak. Gerbongnya juga cukup luas. Walaupun dengan pengecualian karena ini bukan jam sibuk. Kalau saya naik agak sorean mungkin lain cerita. Semua pekerja laju bakal tumplek blek. Hiii...saya masih suka jiper karena memang kadang suka tidak nyaman kalau di keramaian, berdesakkan pula.
-

Stasiun Pasar Minggu Baru tempat saya naik tidak begitu luas. Karena memang sedikit yang naik di sini. Selain itu juga sedang ada renovasi di stasiun, jadi memang agak kotor dan berdebu. Peronnya pun di dua sisi tidak begitu luas. Tapi kursinya masih tersedia banyak.

Datang dengan persiapan dan niat untuk mencoba transportasi umum di Jakarta memang membantu. Mencari rute terdekat dari destinasi wisata atau tempat makan dan nongkrong itu penting sekali! Dan...rasanya berada di kota yang sudah maju sistem transportasinya memang beda. Semua terasa mewah dan kita sudah beradaptasi dengan teknologi. Jakarta memang terlambat punya MRT dibanding Thailand dan Malaysia, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Meskipun ungkapan itu tidak bisa diterapkan terus menerus (karena orang Indonesia memang sering terlambat).

Penampakan Stasiun Pasar Minggu Baru

Rasanya beda ketika sistem transportasi kita sudah serbaotomatis. Tinggal tap kartu langsung jalan. Semua serba cashless, rapi, dan tertib. Optimis memang kalau Indonesia bisa maju walaupun harus berlari mengejar posisi negara lain. KRL yang murah dan jadi andalan, TransJakarta yang sangat-sangat luas, bersih, dan nyaman, sampai MRT yang jadi ikon kebanggaan karena kita mampu punya teknologi seperti itu.

Opsi lain seperti angkot dan Metromini memang kadang masih jadi pilihan, tapi...banyak yang harus dibenahi di sistemnya. Tugas siapa? Saya rasa semuanya. Semua yang butuh naik kendaraan umum, semua yang punya wewenang untuk mengatur urusan transportasi. Pakai, rawat, dan jangan lupa untuk melaporkan ketidaktaatan siapa pun yang mengganggu kenyamanan. Bisa kok angkutan umum di Jakarta dan Indonesia tertib dan terintegrasi. Asal jangan lempar tanggung jawab dan lepas tangan saja.

Salam.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 



Siapa sangka kalau kita bisa main kayak di Jogja? Dekat pula dari pusat kota. Itu pertanyaan yang saya ulang terus-menerus dalam hati. Sumber perekonomian Jogja memang berasal dari pariwisata, tapi saya tidak tahu kalau banyak daerah yang sedang mencoba mengembangkan potensi wisatanya, termasuk daerah tempat bermain kayak kemarin. Dari awal keluar kos hingga kembali, ada beberapa pengalaman dan pertemuan yang baru saya lihat dan alami. Sebagian besar karena saya tidak menyangka bahwa tempat seperti ini ada di Jogja.



KKN vibe-nya kerasa banget
Jadi, tempat ini berada di Jalan Imogiri. Kalau kita mau ke Mangunan, jalan yang dilalui persis sama, hanya ini masih sangat di bawah. Namanya Wisata Air Selopamioro. Kalau mau persisnya, daerah ini ada di aliran sungai, kalau tidak salah Kali Kuning, yang jembatannya baru runtuh karena ada banjir bandang sekitar awal tahun ini.

Dari namanya, desa ini mengedepankan wisata air, karena memang posisinya berada di sungai yang tidak begitu dangkal dan panjang. Airnya kehijauan, dan di pinggiran sungai banyak bebatuan sungai putih dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang lancip dan tajam, ada juga yang mulus dan berpenampang besar. Arusnya pun tenang walaupun ada beberapa bagian yang berarus lebih kencang karena ada alirannya agak melandai. Hamparan batu di sungai ini sangat-sangat luas. Bisa terlihat jelas karena memang ketika musim kemarau seperti ini air menyusut dan tempat kita melangkah adalah dasar sungainya.

Tempat kejadian perkara
Sepertinya pengadaan tempat wisata ini didorong oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Karena di kayak yang ada, tertempel logo Kemendes. Begitupun di jaket pelampung yang disediakan. Kalau memang demikian, ini merupakan langkah yang bagus, karena potensi di daerah ini memang perlu dikembangkan maksimal. Banyak anak muda yang beraktifitas di sini, dan ada beberapa warung yang beroperasi. Toilet pun ada walaupun masih belum dalam bentuk toilet tetap dan sangat berukuran kecil.

Di sisi kiri dan kanan desa dan sungai banyak terdapat tebing-tebing dari pegunungan. Dari kejauhan terlihat dominan warna cokelat dengan pohon-pohon yang sedang meranggas. Daerah ini memang di kelilingi tebing-tebing tinggi dan di kakinya banyak lahan pertanian yang masih aktif digarap warga.

Jalan ke tempat ini sangat mudah diakses walaupun hanya selebar satu mobil saja. Dari kota hingga Jalan Imogiri memang sudah diaspal dan sangat mulus, tetapi begitu masuk ke pedesaan, sebagian besar masih berupa jalan cor-coran semen. Selama menuju ke sini, akan banyak kita temui pohon-pohon bambu dan suasana yang agak gersang. Saya pun kurang tahu apakah mobil bisa masuk atau tidak, kalau pun bisa pasti akan sulit mencari lahan parkir karena memang belum disediakan di sisi tempat saya datang. Mungkin bisa diwaspadai juga karena banyak tanda peringatan bahwa daerah di sekitar sana memang rawan longsor.

Karena jembatan penghubung di desa ini baru saja runtuh diterjang banjir bandang. Jadi alternatif untuk pengunjung yang datang dari sisi seberang tempat persewaan kayak adalah dengan menaiki perahu oranye dari BNPB. Tidak ada dayung, hanya ada tali yang harus ditarik agar kita sampai ke ujung lainnya. Cara kerja perahu ini sama dengan getek di sungai-sungai kecil. 

Jalur utama sementaranya
Saat kami datang, entah mengapa tali penghubung yang harus ditarik itu terikat tidak beraturan (tangled). Kami sudah naik dan sampai di tengah sungai (masih di bagian dalam), lalu perahu terhenti karena memang talinya macet dan tidak memungkinkan kami sampai ke pinggiran sungai. Manusia-manusia di atas kapal sempat dipenuhi kebingungan. Upaya untuk kembali ke titik awal masih sulit, berusaha mengurai talinya pun memakan waktu yang lama. Akhirnya datang seorang bapak yang membantu memanggilkan petugas penyewaan kayak agar membawa kami ke sana dengan kapal karet, sedangkan beliau mengurai tali yang terikat itu. Such a life saver.

Singkat cerita, setelah sampai ke tepian sungai yang lain, perjalanan main kayak pun segera dimulai. Untuk informasi, kayak di sini masih belum banyak. Kami datang berempat dan menggunakan dua kayak, masing-masing diisi dua orang. Biaya yang kami keluarkan hanya sebesar Rp10.000/orang untuk 40 menit. Bahkan rasanya kami main di air lebih dari 40 menit. Setelah bayar, kami memilih jaket pelampung dan dayung yang ada di sekitar tempat registrasi. Untuk tas dan barang berharga bisa dititipkan di meja registrasi karena memang tidak banyak orang yang datang. Hanya ada kami waktu itu.

Tempat istirahat kongkow-kongkow
Wilayah yang bisa disusuri cukup panjang. Ujung yang menjadi patokan adalah ketika arus sudah mulai deras. Begitu mulai mendekati, lebih baik langsung putar balik saja. Di area yang tenang, sebenarnya nyaman untuk diisi dengan foto-foto pemandangan, swafoto, dan bahkan duduk diam dan menikmati angin. Suasananya sangat tenang. Karena di desanya sendiri tidak banyak motor-motor yang lalu lalang. Disarankan untuk datang pagi sekitar jam 8-9 pagi sebelum matahari meninggi.

All in all, kayaking di tempat ini selain jadi pengalaman pertama, juga jadi pembersih mata karena pemandangan dan suasananya sangat jauh dengan yang ada di kota. Mungkin yang menarik adalah kontribusi Kemendesa di dalam upaya pembangunan tempat-tempat wisata seperti ini. Program yang sangat membantu tapi perlu tindak lanjut dan pengawasan kualitas semua sisi. Fasilitas yang masih apa adanya pun sudah bagus, dengan pendampingan mungkin akan lebih baik dari ini.

Makanan yang dijual pun rasanya enak dan murah, kami beli batagor waktu itu. Harga batagornya pun hanya Rp5.000 saja, dengan porsi yang agak lebih banyak. Tidak seperti kebanyakan tempat wisata yang mematok harga tinggi untuk sesuatu yang kualitasnya pas-pasan. Ada banyak faktor, memang. Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa ketika tempat ini ramai, semua akan tetap sama. Tapi, keadaan yang ada saja sudah merupakan awal yang baik. Kudos, untuk pengembang dan staf di lapangan.

n.b. Kayak yang saya tumpangi sempat terjungkal karena salah ide, kesalahan kalkulasi, dan tidak ada kegesitan. Ingin diceritakan, tapi sebaiknya jangan. Intinya…saya dan kawan satu kayak bagaikan pohon dan kebun dalam lagu “tik…tik…bunyi hujan di atas genting” alias basah semua.

Setelah terjungkal
n.b.b. Waktu kami terjungkal, hidup menunjukkan faktanya yang tak terelakkan. Hal pertama yang dikhawatirkan adalah…ponsel. Bukan kondisi badan, kaki, tangan, atau pun kemungkinan terluka di anggota tubuh mana pun. Itu masalah prioritas saja sebenarnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
The view

Jogja dan seni memang sudah tak bisa dipisahkan. Banyak karya seniman-seniman yang dipamerkan, dan beberapa malah sudah jadi agenda rutin tahunan. Animo masyarakat yang didominasi anak muda juga cukup memuaskan dan menandakan masih banyak yang tertarik dengan pameran seni lukis dan instalasi. Khusus di akhir bulan Juni hingga sekitar penghujung Agustus, ada banyak pameran yang diadakan dengan tema dan media yang berbeda. Lima dari sekian banyak pameran seni berhasil saya kunjungi dalam waktu lima jam saja, dan semuanya tidak memungut biaya masuk. Kelima pameran ini sukses memberikan pandangan baru dan berbeda tentang seni yang selama ini tidak saya ketahui dan dalami.

1. Bebas
Pameran ini diselenggarakan di Jogja Gallery yang berada di dekat Alun-alun Utara (Altar) Yogyakarta. Kalau kita sudah sampai di sekitar Altar, bangunan ini sangat mencolok karena di depannya dipasangi kepingan-kepingan seng yang dibuat seperti dinding yang cukup tinggi. Untuk parkir bisa di trotoar depannya dan berbagi lahan dengan Dagadu.

Kerajinan di pameran bebas ini didominasi oleh seni lukis yang tersebar di dua lantai. Walaupun ada juga instalasi-instalasi di beberapa titik. Ketika saya datang, suasananya sangat sangat sepi. Hanya ada panitia dan saya serta teman di dalamnya. Cukup menguntungkan karena saya tidak terganggu oleh keramaian dan bisa berlama-lama mengamati karya di sana.

Ketika berada di dalam, saya banyak berhenti di beberapa karya seni karena banyak yang sulit saya pahami. Sebagai orang yang tidak begitu paham dengan seni, karya-karya yang cenderung abstrak dan perlu ditelaah mendalam memang jadi pekerjaan rumah. Interpretasi si seniman dengan penikmat tentu pasti berbeda. Memang ketika mebahas tentang seni, salah-benar dan kebakuan interpreatasi tidak berlaku sama sekali, semua tergantung cara pandang dan pola pikir yang menyaksikan. Walaupun begitu, saya tetap menikmati keliling-keliling di sana.

2. Sumonar Fest
Awalnya, Sumonar Fest seharusnya menjadi pemberhentian pertama kami sebab hari Senin itu adalah hari terakhirnya. Namun karena kurangnya informasi, saya datang terlalu pagi pameran cahayanya belum dimulai. Haluan pun berubah ke Pameran Bebas lebih dulu. Letak yang saling berdekatan menjadi alasan mengapa.

The pictures

Saya tidak tahu apa-apa tentang pameran ini, tapi begitu datang ke sana yang kedua kali, langsung disambut dengan permainan video mapping di tangga saat hendak naik ke lantai dua. Di Loop Station ini tidak begitu banyak yang di pamerkan, tetapi karena memang jarang ada yang seperti ini, banyak momen yang terabadikan.

Pameran video mapping seperti ini memang lebih mudah dinikmati dan disaksikan. Permainan cahaya dan permainan komposisi gambar, walaupun kelihatan mudah, tapi pasti butuh kreativitas dan uji coba yang panjang. Itu kalau saya yang coba buat.

3. Celebration of Compassion
Tempat ekshibisi karya seni ini dekat sekali dengan kos saya. Hampir setiap hari saya lewat jalan ini karena memang cukup strategis dan ramai tempat makan. Bangunannya ini baru diresmikan beberapa minggu sebelumnya, saya tidak tahu kalau ini juga jadi tempat pameran seni. Tirtodipuran Link namanya.

Datang dan melihat-lihat lukisan di sini membawa kesan dan perasaan berbeda dengan yang sebelumnya. Suasana di sini, walaupun sama-sama tidak ramai, lebih cerah karena bentuk bangunannya yang berjendela cukup besar-besar sehingga banyak cahaya alami yang masuk. Selain itu, pemilihan warna mayoritas putih juga mempercerah ruangan yang memang besar dan luas. Mungkin anak sekarang akan bilang, “Tempatnya Instagramable banget!”
Dari segi lukisannya pun tidak seabstrak di pameran Bebas. Meskipun saya masih perlu menelaah di beberapa gambar. Cuma, di sini ada satu karya seni yang lebih interaktif. Di salah satu ruangan, ada lima lukisan yang visualnya bisa berubah jika sumber cahaya diubah. Lima lukisan itu, sepertinya terinspirasi dari beberapa pelukis: Van Gogh; Affandi; Pablo Picasso; dan Sudjojono.

Jadi, cara kerja ruangan ini adalah dengan mengganti pencahayaan: penerangan dengan lampu biasa; dengan sinar UV; lalu tanpa penerangan alias gelap gulita. Di setiap penggantian, kelima gambar yang ada di sana kemudian berganti-ganti. Saya tidak tahu bagaimana caranya dan tidak mau pusing-pusing juga untuk mengamati bagaimana karyanya bisa jadi sedemikian rupa. Datang dan menikmati saja sudah lebih dari cukup.

Pengalaman dan pemahaman baru ini menambah pemahaman saya tentang seni. Media apapun ternyata bisa digunakan dan, kembali lagi, tidak ada patokan baku soal bagaimana seharusnya seni disampaikan. Semua yang ada di sekitar bisa jadi penyalur jiwa seni kita.

4. Ora Saru
Ini… pameran yang temanya paling nggak biasa. Karya-karya seni di sini mengangkat tema yang berkaitan dengan seksualitas yang jarang dibicarakan dan dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari. Datang ke sini terasa menguji pemahaman dan kedewasaan saya dalam membahas masalah seksualitas. Saya berusaha untuk tidak risih dan tetap bersikap biasa saja,  karena memang seperti itulah seharusnya.

Dalam memandang masalah seksualitas, baik dari aspek biologis (reproduksi, pembuahan, hubungan seks, hingga masturbasi) maupun aspek sosial yang melibatkan masyarakat luas (pelecehan, tekanan psikis) hingga kebebasan berekspresi melalui penampilan seharusnya tidak menimbulkan masalah besar. Semua ada di pikiran kita saja. Apakah isi otak kita hanya hal-hal yang berbau seks? Atau kita sudah cukup dewasa dalam memahami bahwa sesungguhnya anggota tubuh orang lain bukanlah objek bagi kita sebagaimana anggota tubuh kita bukan objek bagi orang lain.

Isu seperti ini memang menarik dan bisa membuka banyak percakapan karena banyak lapisan-lapisan yang kita tidak sadari saling terhubung dan berada di bawah payung yang sama: seksualitas. Penyelenggaraan acara seperti ini membuka jalan bagi pengunjung untuk berani berdiskusi dan (seharusnya) merasa nyaman dengan tubuh sendiri.

                                                 5. Biennale
Pertama kali dengar tentang Biennale di Jogja itu tahun 2017. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya datang ke Jogja National Museum bersama beberapa teman. Biennale kemudian ada lagi di tahun 2019 (karena acaranya memang dua tahunan), tempatnya di Gedung PKKH UGM. Yang saya suka dari sini adalah banyak karya yang interaktif. Bisa dibilang dari lima pameran, ini yang paling berbeda.

Yang saya suka adalah bagian kumpulan foto-foto yang dijadikan sebuah gunungan. Kurang sempat mendalami lebih dalam, tapi memang menarik ketika dilihat. Ada juga instalasi berbentuk telepon-telepon kaleng yang isinya berbeda-beda. Sepertinya memutarkan cerita-cerita orang-orang yang kemudian dikurasi.

Omong-omong, walaupun tempatnya strategis dan masuknya pun gratis, di sini masih kurang ramai pengunjung. Atau setidaknya tidak seramai waktu dua tahun lalu. Kurang tahu apakah karena memang sudah berlangsung beberapa hari, jadi sudah lewat peak time-nya, atau memang banyak yang belum tahu saja.






Kadang kita memang perlu datang ke tempat-tempat seperti ini. Di luar dari keuntungan karena bisa hemat uang, melihat karya seni juga bisa jadi obat bagi mata agar bisa melihat banyak warna dan bentuk yang tidak biasa. Kita dibawa berpikir tentang sebuah karya, dan menemukan banyak hal yang bisa dibahas lebih dalam.

Setiap saya melihat karya seni yang tidak biasa, refleks saya menggeleng-gelengkan kepala saking tidak habis pikirnya. Bagaimana banyak orang di luar sana yang punya daya imajinasi, kreativitas, dan keterampilan yang besar. Membuat  iri memang. Namun, datang dan menyaksikan sebuah pameran saja sudah lebih dari cukup untuk saya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Bachelor of political science.

recent posts

Labels

  • #RzBaca
  • #RzMain
  • #RzNonton
  • #RzNulis
  • Buku
  • Cerita
  • Drakor
  • Film
  • gaya hidup
  • Gender
  • Islam
  • Jalan-jalan
  • Jogja
  • Kerja
  • KKN
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Minimalisme
  • Myself
  • Resensi
  • Seni
  • Zero Waste

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  November (1)
      • Coba-coba Kursus Online
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates