The Unsaid Words

of Rizqi Maulana

Pages

  • Home
  • About Me
  • Contact
  • Gallery
  • Writings


Kalau hari cerah pasti bagus!


Hari ketiga lebaran 2017 ini saya dan keluarga pergi dadakan ke Baturraden. Dadakan karena ini jadi alternatif jalan-jalan setelah rencana silaturahmi kakek gak jadi. Semua-semuanya serba dadakan, persiapannya, bekal-bekalnya, sampai orang-orangnya. Ada yang belum mandi, belum sarapan, ada juga yang belum beres-beres baju ganti. Walhasil, kami baru berangkat jam 11 siang dari rumah.

Waktu tempuh ke Baturraden dari Banjar sih kira-kira cuma tiga jam, itu kalau semuanya lancar. Tapiii.... karena ini lebaran, dan Banjar ke Baturraden itu arahnya arah jalur mudik, udah pasti bakalan macet. Bener aja, dari yang berangkat jam 11 siang, kami baru sampe parkirannya jam 4 sore. Di perjalanan juga hujannya gak berhenti-berhenti. Gak tanggung-tanggung, ujannya deras terus awet. Mana jalan di Jawa Tengah masih banyak yang bolong-bolong, gede pula. Jadilah kombinasinya itu bikin kami tambah lama sampai.

Pas sudah sampai, ternyata kami harus naik lagi jalan kaki ke loket masuk. Lumayan jauh sih. Di jalan juga desak-desakkan sama ojek dadakan dan mobil-mobil yang masih cari parkiran di atas, mungkin karena di bawah udah penuh juga sih. 

Baturraden itu hawanya sejuk banget. Mirip-mirip sama Kaliurang gitu. Ada di dataran tinggi, dan banyak wisma-wisma di sekitar sana. Objek wisatanya juga banyaknya yang berbau alam kayak hutan, sungai, air terjun, dan semacamnya. Bisa banget dinikmati buat yang sudah bosen panas-panasan di dataran bawah. 

Sialnya, pas kami sampai di sana, hujannya masih belum berhenti, malah tambah deres. Dengan perbekalan payung seadanya, kami dempet-dempetan gitu. Jalan nanjak kurang lebih satu kilometer, banyak wisatawan senasib kayak kami yang lari-lari buat ke loket.

Yaah, karena hujan makin deres, dan waktu operasional Baturraden tinggal satu jam, kami masuk dan cuma sampai di bagian dalam paling depan. Dari pada kesel karena gak ngapa-ngapain, akhirnya kami makan aja yang banyak dijual di situ. Snack-snack, nasi pecel, makanan-minuman hangat, dan highlight-nya adalah...... Sate Kelinci! Penampakannya seperti gambar di bawah ini

Sate kelinci pertama


Rasanya gak beda jauh sama sate ayam, cuma daginnya agak lebih kenyal-kenyal gitu ya. Di sini bumbu kacangnya juga agak kasar-kasar gitu, ulekan kacangnya masih gede-gede. Tapi masih bisa dimakan lah, apalagi untuk first timer kayak saya.

Apes ke Baturraden cuma sampai depannya aja, gak bisa muter-muter karena hujan dan sudah kesorean. Gak sampai 2 jam, kami sudah ganti baju dan siap-siap mau pulang lagi. Niatnya bawa baju ganti buat basah-basahan, malah gak jadi. Ya sudahlah...

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sumber: republikfiksi.com

“Kita harus ganti nama bajak laut ini. Kerapu Merah itu terdengar seperti nama rumah makan, bukan perompak yang ditakuti. Siapa sih kentut yang ngasih nama itu dulu, ya?
“Elo, Bang.”
“Oh, yah sebenarnya Kerapu Merah gak jelek-jelek amat, Cuma kurang wibawa aja dikit. Dikiiiiit. Ya udah gak apa-apa, gak usah ganti nama,” sahut Jaka.

Nukilan dialog di belakang buku itu yang buat saya penasaran sama isi buku keseluruhan. Plus, review-review tentang buku ini yang selalu kece. Memang sih, karyanya Mas Adhitya Mulya sudah banyak saya dengar. Buku Sabtu Bersama Bapak dan Travel’s Tale, Belok Kanan: Barcelona!-lah yang sudah saya idam-idamkan dari dulu. Tapi, baca buku Adhitya Mulya yang mana pun gak masalah. Heee.
                Buku Bajak Laut dan Purnama Terakhir ini genre-nya komedi sejarah. Bagian komedinya diambil dari kisah hidup seorang Jaka Kelana. Lelaki tanggung yang ingin jadi bajak laut. Cita-citanya kesampaian dengan membuat geng perompak bernama………. Kerapu Merah. Kisah hidup Jaka Kelana ini agak nganuh. Mau kasihan tapi si Jaka ngeselin, mau kesel tapi hidupnya apes melulu. Mimpi Jaka and the Boys buat jadi perompak laut terkenal juga bisa dibilang bego-bego dongo sih. Main bunuh kompeni tapi nggak diriset dulu, kompeni itu siapa, bunuhnya mau gimana, kagak ada blueprint yang jelas. Tapi namanya mengejar mimpi, tidak ada kemustahilan—at least buat Kang Jaka.
                Nah, dari sisi sejarah, cerita ini mengambil waktu di masa kolonialisasi. Waktu masih ada VOC di Nusantara. Tokoh utama dari kolonial ini adalah Admiral Speelman yang diceritakan sebagai petinggi VOC di Nusantara waktu itu. Selain itu, diceritakan juga kisah tiga orang Arya: Galuh Puspa, Rusa Arang, dan Bara Angkasa. Ketiganya diceritakan punya misi tersendiri dengan tipe cerita yang agak berbeda.
                Dua genre tadi kemudian bertemu karena ada hal yang diperebutkan. Pencarian oleh Jaka, Para Arya, dan Admiral Speelman jadi cerita yang menarik. Sampai akhirnya di akhir cerita, semua rahasia terbongkar. Walaupun saya sudah bisa menebak di bagian awal sampai pertengahan
                Hal yang menarik lain adalah, cerita sejarah di sini hampir semua rekaan Mas Adhitya sendiri. Kalau nggak dikasih disclaimer di halaman fakta vs fiksi—dan balik ke genre komedinya, pasti saya bisa langsung percaya. Jalan cerita sejarahnya juga runut dan detail. Pasti risetnya serius banget. Cara Mas Adhitya nyempilin komedinya juga macam-macam, salah satunya dari footnote aka catatan kaki. Ya namanya komedi, fiksi pula, bebas sih ya.
                Salah satu adegan yang lucu itu waktu Jaka Kelana dapat puja-puji setelah berhasil bunuh kompeni—yang tanpa blueprint itu. Ternyata, Jaka Kelana and the Boys (baik hidup atau mati) malah jadi DPO kompeni dengan hadiah yang gede luar biasa. Baca deh. Hehehe
                Bajak Laut dan Purnama Terakhir ini jadi debut bacaan saya terhadap karya-karya Mas Adhitya Mulya. Cerita hidup Jaka Kelana yang nganuh tadi jadi bagian favorit tadi.  Walaupun di akhir cerita, sudah mudah diduga.
Setelah baca buku ini, lalu mau baca buku Adhitya Mulya yang lain, saya rasa genre komedi bisa jadi pilihan. Bisa buku ini atau Jomblo. Sabtu Bersama Bapak bisa jadi selingan, kalau bosan sama yang komedi. Cheers.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Eh, udah buat resolusi belum buat 2017?"

Udah belum yaaaaa....

Well, setelah diinget-inget saya ternyata emang jarang sih bikin resolusi baru tepat di tanggal 1 Januari. Biasanya sih saya kalau mau bikin resolusi-resolusi kek gitu, pas malam sebelum ulang tahun. Kalau bikinnya pas momen tahun baru, seringnya itu cuma gara-gara euphoria sesaat aja. Abis tanggal 31 Desemeber.. poof.. lupa deh sama resolusi-resolusinya. Tanggal 1 tetep bangun siang, terus males-malesan. Gak ada bedanya kayak sebelum-sebelumnya.

Alasan lain, adalah, soalnya kalau pas malam ulang tahun itu, suasananya lebih tenang dan lebih serius. Saya kalau tiap malam ulang tahun suka ngomong sama diri sendiri gitu. Tahun lalu ngapain aja, ada peningkatan apa enggak, terus tahun depan mau buat perubahan apa, dan lain-lain. Biasanya suasana pas malam sebelum ulang tahun itu sangat-sangat "sakral". Cuma ada saya yang sekarang, kemarin, dan yang akan datang.

Resolusi yang dibuat sih gak begitu jauh beda. Paling seputar kesehatan, pendidikan, sosial, masa depan, urusan keagamaan, dan lain-lain. Tapi... yang buat beda itu adalah suasana pas "merumuskan" akan berisi apa saja resolusi saya satu tahun ke depan.


Sah-sah aja sih buat resolusi di tahun baru, tapi kalau itu cuma mengikuti euphoria dan tren, ya, sia-sia juga. Do not make a promise when you are happy. Kalau lagi bahagia, rasanya itu kayak semua bisa dilakukan, semua bisa diwujudkan, dan pertimbangan-pertimbangan yang lain sering diabaikan. Beda kalau kita buat resolusinya itu seserius mungkin, dengan penuh pertimbangan, dengan penuh harapan. Jauh sekali perbedaannya. Tapi, bukan berarti pas kita buat resolusi itu kita gak sedang dalam keadaan bahagia, ya.

Anyway, saya juga belum tahun akan buat resolusi apa di 2017 nanti. Di umur 21 nanti mau ngapain, habis kuliah mau berkegiatan apa. Pfffttt...... Have I prepared to be an adult? No, I have prepared nothing.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts

About me

Bachelor of political science.

recent posts

Labels

  • #RzBaca
  • #RzMain
  • #RzNonton
  • #RzNulis
  • Buku
  • Cerita
  • Drakor
  • Film
  • gaya hidup
  • Gender
  • Islam
  • Jalan-jalan
  • Jogja
  • Kerja
  • KKN
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Minimalisme
  • Myself
  • Resensi
  • Seni
  • Zero Waste

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  November (1)
      • Coba-coba Kursus Online
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Desember (1)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates